Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Blangpidie, Aceh Barat Daya (Abdya), mendapatkan bantuan satu unit bus sekolah dari pemerintah pusat. Penyerahan bantuan itu disampaikan oleh Anggota DPR RI dari Aceh, H. Irmawan, dalam agenda reses dan silaturahmi, yang berlangsung di Jamboe Drien, Gampong Babah Lhung, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Selasa (24/2/2026).
Penyerahan kunci bus itu dilakukan langsung oleh Irmawan kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Abdya yang diwakili Ramli Bahar. Pada momen itu, juga dilaksanakan santunan anak yatim dan buka puasa bersama. Sejumlah tokoh masyarakat, kader, dan simpatisan Muhammadiyah turut menghadiri kegiatan tersebut.
Irmawan mengatakan, bantuan bus yang diserahkan itu jenis Isuzu BP 03.05, diperuntukkan sebagai kendaraan operasional antar-jemput siswa MI Muhammadiyah Blangpidie. “Bus ini kami serahkan untuk menunjang transportasi anak-anak sekolah. Transportasi yang layak merupakan bagian penting dari hak peserta didik agar dapat belajar dengan nyaman dan aman,” kata Irmawan.
Menurutnya, persoalan akses dan fasilitas pendidikan di daerah, khususnya sekolah swasta dan madrasah, masih menjadi pekerjaan rumah (PR) serius. “Keterbatasan sarana kerap berdampak langsung pada kedisiplinan dan kenyamanan siswa dalam mengikuti proses belajar,” ucap Irmawan.
Ia menegaskan agenda reses tidak hanya bersifat seremonial, melainkan menjadi ruang dialog langsung dengan masyarakat sekaligus sarana menyalurkan bantuan yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Reses ini menjadi ruang menyerap aspirasi dan memastikan bantuan tepat sasaran, terutama di sektor pendidikan dan sosial,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Abdya, Ramli Bahar, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas bantuan tersebut. Ia menilai kehadiran bus sekolah akan sangat membantu mobilitas siswa MI Muhammadiyah, terutama yang berasal dari wilayah yang jauh dari sekolah.
“Kami berterima kasih atas bantuannya. Bantuan ini sangat berarti bagi anak-anak kami yang selama ini harus menempuh perjalanan dengan transportasi seadanya,” kata Ramli Bahar.
Ia menambahkan, sebelum adanya bus sekolah, sebagian siswa harus diantar secara bergantian oleh orang tua atau menggunakan kendaraan tidak tetap. “Dengan fasilitas transportasi khusus ini, tentu kita berharap proses belajar menjadi lebih tertib, aman, dan berkelanjutan,” pungkas Ramli Bahar. (*/tim)
