Otoritas Israel dipastikan tetap menggembok kompleks Masjid Al-Aqsa bagi warga Palestina hingga Idulfitri nanti. Kebijakan diskriminatif ini merupakan kelanjutan dari penutupan total yang sudah diberlakukan sejak awal bulan suci lalu.
Melansir Middle East Eye, Kamis (19/3/2026), sumber-sumber di Yerusalem mengungkapkan bahwa pihak keamanan Israel telah memberikan nota resmi kepada Wakaf Islam—badan yang mengelola situs suci tersebut—mengenai perpanjangan blokade ini.
Dalih klasik kembali digunakan: keamanan. Israel beralasan penutupan ini krusial di tengah berkecamuknya perang antara aliansi Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Namun, bagi warga Palestina, ini bukan soal keamanan, melainkan eksploitasi situasi perang untuk memperkuat cengkeraman atas Al-Aqsa.
Ini adalah pertama kalinya sejak Israel menduduki Yerusalem Timur pada 1967, warga Palestina dilarang total melaksanakan salat Jumat di masjid tersuci ketiga umat Islam tersebut.
Meski delapan negara mayoritas Muslim telah melayangkan kecaman keras pekan lalu, Israel bergeming. Mereka mengabaikan seruan internasional yang menyatakan bahwa Tel Aviv tidak memiliki kedaulatan atas Al-Aqsa. Akibatnya, salat Jumat dan tarawih tetap dilarang. Sementara Kota Tua Yerusalem kini berubah menjadi basis militer dengan kehadiran pasukan besar-besaran.
Ancaman Pemukim dan Kamera Pengintai
Kondisi di dalam kompleks masjid pun kian memprihatinkan. Saat ini, tak lebih dari 25 staf Wakaf yang diizinkan masuk per shift. Permintaan tambahan staf dari departemen manuskrip pun ditolak mentah-mentah oleh polisi Israel.
Ada barter ancaman yang mengerikan di sini. Polisi Israel dilaporkan menggertak pihak Wakaf: jika ada tambahan karyawan yang masuk, maka kelompok pemukim Israel akan diizinkan menyerbu kompleks masjid setiap hari.
Tak hanya itu, pejabat Wakaf mencurigai militer Israel telah memasang kamera pengintai di dalam ruang salat guna memantau setiap gerak-gerik di dalam masjid secara permanen.
Blokade ini tak hanya menyasar tempat ibadah, tapi juga mematikan nadi ekonomi. Kota Tua Yerusalem kini makin sepi. Hanya penduduk lokal yang diizinkan masuk, sementara puluhan pasar legendaris milik warga Palestina terpaksa tutup.
Dr. Mustafa Abu Sway, anggota Dewan Wakaf Islam sekaligus profesor di Masjid Al-Aqsa, menyebut situasi ini tidak masuk akal. “Penutupan Kota Tua seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya,” ungkapnya.
Kini, di malam-malam terakhir Ramadan yang diyakini sebagai Lailatul Qadar, ribuan jemaah terpaksa bersujud di aspal jalanan, membelah dinginnya Yerusalem di bawah todongan senjata dan ancaman kekerasan polisi Israel. Lebaran di Al-Aqsa tahun ini dipastikan sunyi dari takbir warga Palestina. (*/tim)
