Tidak pernah ada bayangan sebelumnya bagi saya untuk mencoba menempuh pendidikan serta menjejakkan karir di luar negeri. Bayangan ketakutan serta kekhawatiran selalu menghalangi niat dan motivasi saya sebagai seorang Muslimah untuk mencoba kehidupan baru sebagai minoritas di luar tanah air. Namun takdir berkata sebaliknya, kurang lebih 12 tahun lalu dari awalnya menemani suami tugas belajar, awal perjalanan saya pun dimulai.
Jepang: Budaya dan Adat Istiadat Dijunjung Tinggi
Jepang adalah negara pertama kami singgahi selama kurang lebih 6 tahun. Dalam 6 tahun tersebut, saya menghabiskan 4 tahunnya untuk menempuh pendidikan doctoral di kota Tsukuba, sebuah kota pendidikan yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Tokyo. Tinggal dan menempuh pendidikan di kota Tsukuba, kami nyaris tidak mengalami kesulitan berarti dalam menjalani kehidupan sebagai keluarga muslim.
Ada komunitas muslim Indonesia dengan jumlah anggota yang cukup besar yang telah silih berganti tinggal di kota tersebut. Para penduduk kota tersebut pun telah terbiasa dengan gaya hidup muslim baik dari segi berbusana maupun cara beribadah. Terdapat toleransi yang cukup tinggi, dimana meskipun mereka tidak secara formal menyediakan fasilitas resmi untuk ibadah di kampus, namun toleransi dalam memberikan kesempatan menjalankan ibadah nampaknya telah cukup bagi kami sebagai golongan minoritas.
Hal yang mungkin belum sempat kami nikmati adalah pengakuan atas hari besar keagamaan sebagai hari libur dan kurangnya ketersediaan makanan halal di sekitar kampus. Namun demikian hal tersebut dapat dimaklumi mengingat Jepang adalah negara yang relatif homogen penduduknya serta kondisi dimana para pemegang kebijakan masih dikuasai oleh warga asli.
Amerika Serikat: Miniatur Dunia
Petualangan saya kedua adalah Amerika Serikat dimana sejak Mei 2025 lalu, saya berkesempatan menjalani karir pascadoktoral di bidang kardiovaskular di City University of New York (CUNY) School of Medicine di kota New York.
Di kota ini, hampir semua agama besar ada dan hidup berdampingan. Di CUNY, saya berinteraksi dengan kolega dari berbagai latar: Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, hingga mereka yang menyebut dirinya agnostik atau sekuler. Terkait kemudahan menjalankan syariat islam, relatif sangat mudah bagi saya untuk menemukan makanan halal serta tempat ibadah yang tersebar di penjuru kota.
Hal menarik lainnya, pemerintah kota New York juga memberi pengakuan formal terhadap keberagaman ini. Sejak beberapa tahun lalu, Idul Fitri dan Idul Adha ditetapkan sebagai hari libur resmi di sekolah-sekolah publik, termasuk CUNY.
Meskipun saya belum mengalami Ramadhan di sini, pengalaman Idul Adha itu menjadi kesan mendalam tentang bagaimana sebuah kota multikultural memberi ruang yang setara bagi seluruh agama.
Namun demikian di balik fasilitas kemudahan yang ada, terdapat tantangan atas kehidupan heterogen di mana kota New York seringkali menampilkan sisi gelap yang diwujudkan dalam kejahatan maupun rasa kebencian yang seringkali ditemui sehari-hari. Saya dihadapkan dengan kejutan-kejutan maupun hal-hal yang mungkin bersinggungan dengan kekerasan serta kebencian atas agama.
Moderasi yang Hidup dalam Keseharian
Berdasarkan pengalaman dari 2 negara tersebut, moderasi beragama adalah sangat dibutuhkan dalam menyikapi keadaan berbeda yang kita temui. Cara pandang dan sikap kita sebagai muslim sangat menentukan hasil yang akan didapatkan. Sebagai kaum minoritas yang hidup jauh dari tanah air, seorang muslim harus mampu menempatkan dirinya secara tepat.
Kehidupan di Tsukuba mengajarkan bahwa moderasi beragama diwujudkan dalam cara pandang dan prilaku kita dalam menyikapi keterbatasan fasilitas ibadah namun berada di tengah masyarakat jepang yang santun dan homogen. Di sisi lainnya, kehidupan di New York memberikan tantangan bagaimana muslim harus bersikap di tengah fasilitas dan kemudahan beribadah namun dihadapkan dengan kehidupan heterogen yang rentan dengan konflik antar umat beragama.
Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, secara pribadi saya melihat bagaimana institusi pendidikan dapat menjadi sarana diskusi untuk membangun hubungan yang harmonis antar sesama pemeluk agama.
Sebagai seorang pendidik saya juga berkewajiban untuk menjelaskan secara logis dan ilmiah atas sikap saya, dimana contohnya adalah bagaimana saya harus menjelaskan alasan tidak mengkonsumsi alkohol maupun perbuatan saya lainnya sesuai ajaran Islam.
Islam Berkemajuan dan Global Citizenship
Apa yang saya saksikan di sini sejalan dengan gagasan Muhammadiyah tentang Islam Berkemajuan, agama sebagai rahmat, pendorong ilmu pengetahuan, dan kekuatan peradaban. Dalam ruang akademik global, saya melihat kolega Muslim tetap dapat menunaikan ibadah dengan khidmat, sembari aktif berkontribusi pada riset medis mutakhir.
Hal ini menunjukkan bahwa keberagamaan sejati tidak berhenti pada simbol, tetapi hadir dalam bentuk kontribusi. Islam yang moderat adalah Islam yang menghadirkan solusi, bukan sekadar menonjolkan identitas.
Pengalaman diatas telah memberi saya pelajaran penting, bahwa moderasi beragama yang paling nyata tampak dalam keseharian yang sederhana, memberi ruang bagi perbedaan, menempatkan diri secara tepat, dan menjadikan agama sebagai sumber kontribusi sosial. Nilai-nilai inilah yang selaras dengan misi Muhammadiyah, menghadirkan Islam yang mencerahkan, inklusif, dan berkemajuan. (*)
