Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) dan Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah memperkuat sinergi gerakan sosial berbasis akar rumput dengan mengembangkan Pusat Asuhan Keluarga Muhammadiyah (PAKM) dan Pusat Santunan Keluarga Muhammadiyah (PSKM).
Kedua program ini dirancang untuk menghidupkan kembali semangat al-Ma’un dalam bentuk yang lebih kontekstual dan relevan, serta menjadi motor penggerak tumbuhnya cabang dan ranting Muhammadiyah yang kuat.
Ketua MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Mariman Darto, menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) LPCRPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Aula Mas Mansur, Surabaya, Sabtu (10/5/2025).
Dia menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam pelayanan sosial Muhammadiyah yang selama ini terpusat di panti-panti asuhan atau lembaga, menuju pola baru berbasis keluarga dan komunitas.
“Gerakan al-Ma’un itu tidak boleh berhenti di panti atau lembaga. Ia harus hidup di tengah keluarga-keluarga Muhammadiyah. PAKM dan PSKM adalah solusi sosial yang menyentuh langsung masyarakat marginal,” tegas Mariman Darto.
Menurut dia, saat ini pertumbuhan Amal Usaha Muhammadiyah Sosial (AUMSos) cenderung stagnan. Jumlah anak-anak yatim piatu yang diasuh di panti terus menurun, sementara semangat kader Muhammadiyah untuk berderma di tingkat akar rumput juga mengalami pelemahan.
Di sisi lain, jumlah ranting aktif masih sangat kecil, bahkan masih banyak desa yang belum memiliki ranting Muhammadiyah sama sekali.
PAKM dan PSKM hadir sebagai respon atas kondisi tersebut. Model ini memungkinkan keluarga-keluarga Muhammadiyah, baik yang memiliki hubungan darah maupun tidak, untuk menjadi pengasuh dan pelindung anak-anak rentan secara langsung.
Dengan pendekatan ini, program sosial Muhammadiyah akan lebih dekat dengan masyarakat, lebih fleksibel, dan tidak bergantung pada infrastruktur institusional semata.
“Kita tidak bisa menunggu orang datang ke panti. Tapi kita yang harus hadir ke masyarakat. Lewat keluarga-keluarga yang peduli, kita bisa membentuk jejaring sosial baru yang lebih hidup dan relevan,” lanjutnya.
Program ini memiliki dampak sosial yang signifikan sekaligus berbiaya efisien. Dalam skenario minimal, MPKS menargetkan pendirian 584 unit PAKM dan 1.139 unit PSKM.
Jika setiap unit mengasuh 10 anak, maka akan ada total 17.230 anak yang mendapatkan perhatian dan perlindungan sosial langsung di lingkungan mereka sendiri.
Dengan estimasi dukungan Rp 200.000 per anak per bulan, total kebutuhan anggaran hanya sekitar Rp 3,4 miliar untuk menjangkau belasan ribu anak tersebut.
“Ini merupakan angka yang relatif kecil bila dibandingkan dengan dampak sosial yang dihasilkan, yakni peningkatan kapasitas keluarga, pemberdayaan komunitas, serta tumbuhnya semangat kedermawanan dan dakwah sosial di level ranting,” terang Mariman.
Program ini juga dapat membantu menyelesaikan masalah anak tidak sekolah (ATS), menjadi sumber solusi alternatif bagi panti-panti asuhan yang mulai kekurangan penghuni, serta mempercepat tumbuhnya ranting baru dan masjid yang aktif.
Struktur implementasi program ini dirancang secara sistematis dan sinergis: Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) mengusulkan pendirian PAKM atau PSKM; Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) melalui LPCR mengajukan proposal ke MPKS Pimpinan Pusat; Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) mengoordinasikan pelaksanaan bersama PCM dan ranting; dan PWM mendukung melalui koordinasi dengan MPKS dan LPCRPM.
Lebih jauh, MPKS membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dari pemerintah melalui Kementerian Sosial, program bansos, Baznas, dan BPKH, maupun dari dunia usaha lewat program CSR.
Lembaga filantropi Muhammadiyah seperti Lazismu dan Comma juga akan menjadi tulang punggung pendanaan dan mobilisasi sumber daya.
“Kalau sinergi semua pihak ini jalan, maka tidak hanya kita mengasuh anak, tapi juga bisa menghidupkan cabang, membesarkan ranting, dan memakmurkan masjid. Ini bentuk dakwah sosial yang menyatu antara spiritualitas dan keberdayaan,” tutur Mariman.
Program ini secara konseptual juga merupakan upaya untuk menghidupkan kembali semangat al-Ma’un yang diwariskan oleh KH. Ahmad Dahlan, namun dengan pendekatan yang lebih kontekstual.
Alih-alih hanya membangun panti, Muhammadiyah kini mengarahkan kader dan warga untuk membangun sistem pengasuhan keluarga berbasis komunitas.
“Mari kita hidupkan kembali semangat al-Ma’un dalam format yang relevan dengan kondisi sekarang. Keluarga menjadi pelaku, dan komunitas menjadi ruang geraknya. Itulah wajah baru dakwah sosial Muhammadiyah,” tandas Mariman .
Dengan target lebih dari 1.700 unit PAKM dan PSKM, serta potensi menyentuh lebih dari 17.000 anak di seluruh Indonesia, program ini diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan layanan sosial Muhammadiyah, tetapi juga memperkuat infrastruktur gerakan Muhammadiyah dari bawah: dari keluarga, ranting, hingga masjid sebagai pusat transformasi sosial. (wh)
