Muhadjir Effendy: Dinamika Perguruan Tinggi Makin Kompetitif

Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP.
www.majelistabligh.id -

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., mengibaratkan pengembangan institusi perguruan tinggi seperti halnya industri pertambangan. Semakin dalam proses penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus dihadapi.

Karena itu, institusi harus menyiapkan langkah strategis menghadapi kerasnya dinamika pendidikan tinggi yang kian kompetitif dan cepat berubah. Pembaruan sistem secara berkala menjadi kunci agar universitas tidak terus berhadapan dengan persoalan yang sama.

“Setiap kesulitan harus kita hadapi dan selesaikan dengan langkah yang jelas. Setelah satu masalah selesai, kita perlu segera bersiap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus berkembang ke tingkat yang lebih baik,” kata Muhadjir Effendy, dalam pengajian khusus bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan UMM, akhir Ahad lalu.

Ia menekankan pentingnya membangun mentalitas pantang menyerah serta kesiapan beradaptasi di tengah perubahan. Perguruan tinggi tidak boleh terjebak pada zona nyaman, meskipun telah meraih berbagai capaian.

Pihaknya juga menegaskan perlunya meninggalkan budaya one man show dan membangun kerja tim yang kuat. Menurutnya, keberhasilan kampus tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem kerja yang saling mendukung. Setiap individu berperan sebagai bagian penting dari keseluruhan ekosistem kampus.

Salah satu fokus utama yang disoroti adalah konsolidasi sistem penerimaan mahasiswa baru. Muhadjir meminta seluruh civitas akademika berperan aktif dalam proses rekrutmen bertahap guna menjaring calon mahasiswa sejak dini. Langkah ini dinilai penting di tengah persaingan antarperguruan tinggi yang semakin ketat serta adanya pergeseran minat masyarakat terhadap program studi tertentu. Karena itu, UMM dituntut berani berinvestasi lebih besar, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan kualitas layanan akademik.

Selain aspek manajerial, Muhadjir juga mengingatkan pentingnya menjaga ruh akademik, yakni profesionalitas yang berlandaskan nilai keilmuan, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa pencapaian institusi tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan pijakan untuk meraih target yang lebih tinggi.

Muhadjir berharap tahun 2026 menjadi momentum bagi UMM untuk melakukan penguatan dan pembaruan talenta di berbagai bidang. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk terus belajar, berbenah, dan menjaga nilai-nilai etik dalam menjalankan peran masing-masing. “Pencapaian hari ini bukanlah tujuan akhir, melainkan modal untuk mempermudah kita melangkah menuju capaian yang lebih besar di masa depan,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search