Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Myanmar pada Jumat, 28 Maret 2025, telah meninggalkan dampak kehancuran yang luar biasa.
Selain menelan korban jiwa dan menyebabkan luka-luka, gempa ini juga merusak sejumlah besar infrastruktur, termasuk rumah ibadah umat Muslim.
Dilaporkan lebih dari 50 masjid mengalami kerusakan cukup parah di berbagai wilayah, seperti Mandalay dan Sagaing, wilayah dengan populasi Muslim yang cukup signifikan.
Kondisi pasca-gempa yang memprihatinkan ini memicu respons kemanusiaan dari berbagai organisasi internasional dan regional, termasuk dari Muhammadiyah—organisasi keagamaan dan sosial terbesar di Indonesia.
Melalui MuhammadiyahAid, MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center), dan dukungan dari Lazismu, Muhammadiyah secara aktif mengirimkan Tim Kemanusiaan ke Myanmar.
Tim ini bertugas untuk membantu para korban gempa serta melakukan asesmen terhadap kerusakan-kerusakan yang terjadi, khususnya pada sarana ibadah dan fasilitas pendidikan umat Islam.
Tim relawan Muhammadiyah yang dikirim ke Myanmar terdiri dari tiga personel inti, yaitu Syahri Ramadhan selaku koordinator lapangan, Dwi Kurniawan sebagai penanggung jawab media dan dokumentasi, serta Satriyo yang mengelola logistik dan distribusi bantuan.
Mereka dijadwalkan berada di Myanmar selama dua pekan, yakni mulai dari tanggal 25 April hingga 7 Mei 2025. Selama di lapangan, mereka berinteraksi langsung dengan korban, mendistribusikan bantuan, dan mencatat berbagai kebutuhan mendesak masyarakat terdampak.
Pada Kamis, 1 Mei 2025, Tim Kemanusiaan Muhammadiyah menyampaikan bahwa sebagian besar bantuan yang dipercayakan oleh masyarakat Indonesia telah berhasil disalurkan kepada warga Myanmar yang membutuhkan. Bantuan ini berupa kebutuhan pokok, perlengkapan ibadah darurat, dan logistik untuk pembangunan tempat ibadah sementara.
Salah satu lokasi yang menjadi fokus asesmen adalah Masjid Thar Lay Saw Ang yang berada di kawasan Amarapura, Mandalay—kota terbesar kedua di Myanmar.
Menurut pengakuan Imam Masjid, Mohammad Utsman (35), kondisi masjid mereka sangat memprihatinkan. Struktur bangunan mengalami kerusakan berat, sehingga dinyatakan tidak layak lagi untuk digunakan.
“Masjid ini harus diruntuhkan terlebih dahulu sebelum dibangun kembali,” tutur Utsman kepada relawan MuhammadiyahAid pada Sabtu (3/5/2025).
Utsman, yang telah menjabat sebagai imam sejak 2021, mengaku bahwa biaya untuk membangun ulang masjid tersebut sangat besar. Meskipun upaya penggalangan dana telah dilakukan dengan menggugah solidaritas sesama Muslim di Myanmar, bantuan yang terkumpul masih belum mencukupi.
“Alhamdulillah, ada satu yayasan yang bersedia membantu pembangunan, tetapi tetap saja jumlahnya belum cukup untuk membangun secara menyeluruh,” tambahnya.
Saat ini, untuk sementara waktu, kegiatan ibadah jamaah dilakukan di madrasah yang biasanya digunakan untuk kegiatan belajar-mengajar.
Namun karena madrasah sedang diliburkan pasca-gempa, ruangan tersebut dialihfungsikan menjadi tempat salat berjamaah.
Sebagian warga lainnya yang tinggal di pengungsian juga tetap menjalankan ibadah di musala darurat yang dibangun dari bahan-bahan seadanya seperti terpal dan bambu.
Selain mengunjungi Mandalay, Tim Kemanusiaan Muhammadiyah juga menyambangi wilayah Sagaing, tepatnya di Masjid Ulin, yang mengalami kehancuran total. Salah seorang saksi mata bernama Anas mengungkapkan betapa mengerikannya gempa kedua yang terjadi setelah gempa awal.
“Pada guncangan pertama masjid masih berdiri, meskipun sudah terasa goyang. Namun saat gempa susulan, menara dan bangunan utama masjid langsung ambruk,” ujarnya penuh duka. Tragisnya, 50 jamaah dilaporkan meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan saat itu.
Kini, yang tersisa dari Masjid Ulin hanyalah gerbang utama. Seluruh struktur lainnya rata dengan tanah. Untuk tetap menjalankan ibadah, warga mendirikan masjid darurat dari bambu dan terpal, memanfaatkan lantai masjid lama yang masih bisa digunakan.
Fasilitas seperti tempat wudu dan toilet pun turut hancur, menyulitkan aktivitas ibadah dan kebersihan jamaah.
Hingga laporan terakhir yang disampaikan oleh relawan pada Jumat, 2 Mei 2025, tercatat sebanyak 15 masjid telah berhasil diidentifikasi mengalami kerusakan dan masuk dalam tahap asesmen.
Tim juga sudah berdialog dengan para pengurus di lima masjid untuk menggali kebutuhan mendesak mereka dan memetakan upaya pemulihan jangka panjang.
Melalui misi kemanusiaan ini, Muhammadiyah tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga harapan dan solidaritas dari masyarakat Indonesia kepada saudara-saudara seiman di Myanmar yang tengah dilanda duka.
Kehadiran para relawan ini menjadi bukti bahwa semangat kemanusiaan tak mengenal batas negara maupun suku bangsa. (*/wh)
