Oleh: Gus Dr. Sholikh Al Huda, M. Fil. I
Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur & Ketua PRM Desa Masangan Wetan Sidoarjo
Belakangan ini, ada satu fenomena menarik yang muncul di kalangan warga Muhammadiyah: ziarah bersama ke makam pendiri organisasi, Kiai Ahmad Dahlan dan istrinya Nyai Walidah. Fenomena ini semakin sering dilakukan oleh berbagai kalangan—dari pimpinan amal usaha, kader muda, hingga simpatisan Muhammadiyah yang ingin merasakan langsung “napas perjuangan” pendiri organisasi.
Bagi sebagian orang, ini adalah hal baru. Dulu, ziarah kubur (terutama yang dilakukan secara massal dan terorganisir) dianggap kurang tepat dalam lingkungan Muhammadiyah. Sebab, ada kekhawatiran bahwa praktik ini akan bergeser pada bentuk kultus individu atau bahkan berpotensi mengarah ke bid’ah, sebagaimana menjadi perhatian utama dalam gerakan purifikasi yang menjadi fondasi Muhammadiyah sejak awal berdiri.
Namun sekarang, kita melihat pergeseran. Ziarah ke makam tokoh-tokoh Muhammadiyah tidak lagi dilihat secara kaku. Bahkan, kegiatan ini kerap dimaknai sebagai bagian dari penghormatan sejarah, penguatan ideologis, hingga ekspresi spiritualitas modern yang lebih membumi. Maka muncul pertanyaan menarik: apakah ini tanda lahirnya “Muhammadiyah Baru”?
Dari Gerakan Purifikasi ke Gerakan Reflektif
Muhammadiyah sejak awal adalah gerakan pembaruan Islam yang memiliki dua wajah: purifikasi dan modernisasi. Dalam semangat purifikasi, Muhammadiyah menolak praktik-praktik keagamaan yang tidak berdasarkan dalil yang kuat—termasuk ziarah yang bernuansa mistik atau permintaan kepada orang yang telah wafat.
Namun, wajah kedua Muhammadiyah, yakni sebagai gerakan modernisasi, juga menekankan pentingnya rasionalitas, keterbukaan, dan penyesuaian dengan konteks zaman. Di sinilah menariknya melihat ziarah sebagai bagian dari proses adaptasi cara pandang warga Muhammadiyah terhadap tradisi dan nilai.
Ziarah dalam Muhammadiyah Baru bukan dimaknai sebagai ritual untuk mencari berkah dari orang mati. Tapi sebagai sarana edukasi sejarah, penguatan spiritualitas perjuangan, serta wujud penghargaan terhadap tokoh pendiri. Ini bukan ziarah dalam makna klasik, tapi lebih sebagai “ziarah ideologis”.
Perspektif Teori Sosial: Berger dan Luckmann
Dalam teori konstruksi sosial realitas yang dikembangkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, realitas sosial dibentuk secara terus menerus melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Ziarah yang dulu dipandang negatif kini mulai diinternalisasi kembali dalam pemahaman baru—sebagai tindakan penghormatan, bukan pemujaan.
Perubahan ini muncul dari bawah, dari pengalaman sosial warga Muhammadiyah yang mulai melihat nilai dalam menelusuri jejak pendiri. Ziarah menjadi bentuk refleksi spiritual: bahwa perjuangan Kiai Dahlan dan Nyai Walidah bukan hanya untuk dikenang, tapi juga dihidupkan kembali dalam tindakan nyata.
Ziarah sebagai Medium Pendidikan Ideologis
Kegiatan ziarah ini juga dapat dilihat sebagai bagian dari proses pendidikan ideologis. Ia menjadi sarana untuk mengingatkan generasi muda Muhammadiyah tentang nilai-nilai keikhlasan, keberanian melawan ketertinggalan, serta pentingnya berpikir progresif. Di sinilah letak pembaruan pemahaman sosial keagamaan itu bekerja.
Ketika kader muda Muhammadiyah datang ke makam Kiai Dahlan, mereka tidak sedang berdoa kepada beliau. Mereka sedang mengambil napas perjuangannya, menyerap semangat tajdid-nya, dan mengikat diri dalam satu kesinambungan sejarah. Ini adalah ziarah yang membebaskan, bukan membelenggu.
Muhammadiyah Baru: Bukan Ganti Arah, tapi Menyesuaikan Langkah
Munculnya fenomena semacam ini bukan berarti Muhammadiyah kehilangan jati diri atau mengaburkan prinsip. Justru sebaliknya, ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki fleksibilitas dalam menjaga nilai-nilai pokok sembari menyesuaikan bentuk dengan dinamika zaman. Dalam Muhammadiyah Baru, kita menyaksikan keberanian untuk meninjau ulang cara pandang—tanpa harus meninggalkan prinsip dasar Islam yang murni.
Ini adalah bentuk kedewasaan kolektif. Muhammadiyah kini mulai memandang realitas keagamaan bukan hanya dalam kerangka benar-salah secara hitam putih, tapi dalam kacamata makna, fungsi, dan relevansi sosial.
Tantangan Internal: Dialog antara Generasi
Tentu saja, pergeseran seperti ini tidak akan bebas dari resistensi. Akan selalu ada perbedaan tafsir di dalam tubuh Muhammadiyah. Sebagian masih memegang kuat model lama, yang cenderung lebih skripturalis dan eksklusif. Sebagian lain, terutama generasi muda dan mereka yang aktif dalam ranah pemikiran, mulai terbuka pada pemaknaan yang lebih kontekstual dan dinamis.
Inilah mengapa dialog antar-generasi dalam Muhammadiyah menjadi sangat penting. Agar perbedaan cara pandang ini tidak menimbulkan benturan, tapi menjadi energi kolektif untuk memperkuat identitas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang mencerdaskan, memajukan, dan membebaskan.
Penutup: Kembali ke Akar, Menatap Masa Depan
Fenomena ziarah ke makam Kiai Dahlan dan Nyai Walidah adalah simbol. Simbol bahwa warga Muhammadiyah tidak ingin tercerabut dari akar sejarahnya. Di tengah derasnya arus modernitas dan tantangan global, ziarah menjadi semacam “penguatan akar”—sebelum melangkah lebih jauh ke masa depan.
Muhammadiyah Baru bukan berarti Muhammadiyah yang baru secara struktural atau ideologis. Tapi Muhammadiyah yang mampu membaca ulang nilai-nilainya secara lebih reflektif dan spiritual, sekaligus tetap menjunjung tinggi rasionalitas dan tajdid.
Ziarah dalam konteks ini adalah bentuk keberanian untuk menengok ke belakang, agar langkah ke depan menjadi lebih kuat dan bermakna. (*)
