Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta telah melakukan survei “Muhammadiyah di Mata Anak Muda.” Survei ini berangkat dari anggapan sebagian orang bahwa ada fenomena rendahnya keterlibatan formal anak muda dalam organisasi keagamaan arus utama. Bagaimana hasil survei ini, kami menuliskannya dalam beberapa edisi.
***
Hasil survei yang telah dipublis, terdapat kabar yang menggembirakan sekaligus menantang. Dalam temuan pada survei ini menunjukkan adanya Collective Pride atau kebanggaan kolektif yang sangat tinggi, di mana 91% responden menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah.
Menurut Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd., Kepala PSKP UAD, Muhammadiyah kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai organisasi dakwah tradisional, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah Social Enterprise raksasa. Kualitas layanan pendidikan dan kesehatannya diakui secara luas oleh lintas generasi dan lintas iman.
Namun, ada catatan kritis yang sangat berharga. Polarisasi opini terkait isu sensitif seperti konsesi tambang, dimana angka penolakan mencapai 46%, menjadi pengingat bagi Persyarikatan untuk terus menjaga amanah ekologis dan legitimasi moral di mata publik. Begitu pula dengan tantangan keterjangkauan pendidikan di wilayah urban yang perlu terus dievaluasi agar misi inklusivitas tetap terjaga.
“Survei ini sangat penting sebagai rujukan strategis bagi Muhammadiyah dalam merumuskan kebijakan dakwah, kaderisasi, dan komunikasi publik yang lebih relate dengan kegelisahan anak muda. Tugas Muhammadiyah adalah memastikan tetap menjadi gerakan Islam berkemajuan yang terus memenangkan hati dan pikiran generasi masa depan,” tandasnya.
Cakupan Responden
Survei ini mengambil sample responden berusia 17-40 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa data yang terekam sangat kuat mewakili suara generasi Z (Gen Z) dan milenial muda, yang umumnya berada pada fase mahasiswa, fresh graduate, atau pekerja di tahap awal karier.
Kelompok ini merupakan agen perubahan yang paling aktif secara sosial, melek digital, dan kritis, sehingga persepsi mereka dapat menjadi fondasi penting bagi Muhammadiyah dalam merumuskan strategi dakwah dan komunikasi yang lebih inklusif dan relevan dengan gaya hidup anak muda masa kini.
Karena survei ini berskala nasional, maka responden berasal dari Sabang sampai Merauke, mencakup seluruh pulau besar di Indonesia (Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Bali-Nusra, hingga Maluku-Papua).
Anak Muda Sebut Pendidikan Muhammadiyah ‘Worth it’
Sebanyak 81% Anak Muda Sebut Sekolah dan Kampus Muhammadiyah Worth it. Peta sentimen ini menunjukkan hasil yang sangat positif bagi organisasi. Dari sentimen posistif ini, dibedah lagi dengan jawaban sebagai berikut:
- 88,1% Sepakat: Responden percaya bahwa kualitas pendidikan di bawah naungan Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki mutu yang bagus dan sebanding dengan apa yang mereka keluarkan (dana, tenaga, waktu).
- 11,9% Tidak Sepakat: Sebagian kecil responden mungkin memiliki ekspektasi berbeda atau membandingkannya dengan standar lain, serta kemungkinan memiliki pengalaman yang berbeda dari sebagian besar lainnya.
Angka 88,1% menjadi bukti legitimasi kualitas pendidikan Muhammadiyah yang dianggap “worth it” karena sukses menawarkan nilai tambah serta pengembangan karakter bagi anak muda.
Di tengah persaingan sekolah swasta, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tetap menjadi pilihan rasional yang menguntungkan, sehingga sektor pendidikan kini menjadi identitas yang paling melekat pada organisasi ini.
Namun, jika dibedah berdasarkan wilayah, muncul data yang kontras:
- Wilayah Rural (Pedesaan): Tingkat persetujuan sangat tinggi mencapai 84,6%. Di desa, Muhammadiyah dipandang sebagai solusi pendidikan yang sangat ekonomis.
- Wilayah Urban (Perkotaan): Tingkat persetujuan turun menjadi 69%, sementara 31% menyatakan tidak sepakat (menganggap tidak murah).
Di kawasan perkotaan, Muhammadiyah menghadapi tantangan persepsi. Angka 31% yang menyatakan “tidak sepakat” di kota bisa disebabkan oleh dua hal:
- Standar Fasilitas: Sekolah Muhammadiyah di kota seringkali memiliki fasilitas premium (berstandar internasional) yang tentu berimplikasi pada biaya.
- Kompetisi: Di kota besar, anak muda memiliki banyak pembanding (sekolah negeri yang gratis atau sekolah swasta elit lainnya), sehingga standar “murah” menjadi lebih kompetitif.
Anak Muda Akui Layanan Kesehatan Muhammadiyah Jempolan
Di bidang kesehatan, responden memberikan penilaian yang sangat tinggi pada dua aspek kesehatan: Kualitas (86,1%) dan Keterjangkauan (80,5%).
Kualitas menjadi faktor paling dominan dalam membentuk persepsi positif anak muda terhadap layanan kesehatan Muhammadiyah, dengan angka mencapai 86,1%. Persentase tinggi ini mencerminkan reputasi yang kuat dalam hal profesionalitas tenaga medis, ketepatan penanganan, serta standar institusi yang layak dipercaya.
Di sisi lain, aspek keterjangkauan juga dinilai tinggi sebesar 80,5%, yang menunjukkan bahwa layanan tersebut dianggap mudah diakses oleh masyarakat, baik dari segi biaya maupun lokasi. Secara keseluruhan, Muhammadiyah dipandang berhasil menyediakan layanan kesehatan yang tidak hanya unggul secara mutu, tetapi juga inklusif dalam menjangkau kebutuhan sosial masyarakat luas.
Bidang pendidikan dan kesehatan menjadi salah satu andalan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan. Kedua bidang tersebut memang menjadi perhatian khusus Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. || bersambung
