Hasil survei Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta tentang “Muhammadiyah di Mata Anak Muda” menunjukkan bahwa anak muda menilai Muhammadiyah cepat membantu jika ada bencana, aksi heroik menjadi ikonik. Demikian juga soal dakwah, “nyambung” dengan pikiran anak muda.
***
Dalam survei ini menunjukkan bahwa mayoritas anak muda, baik generasi Millenial maupun GenZ, menilai bahwa orang Muhammadiyah humble dan suka berbagi. Dari hasil survei tersebut menunjukkan bahwa:
- 85,9% Sepakat: Sebagian besar responden melihat orang-orang (kader/warga) Muhammadiyah sebagai sosok yang suka menolong, peduli, dan berbagi.
- 14,1% Tidak Sepakat: Sebagian kecil responden mungkin memiliki pengalaman personal yang berbeda atau belum berinteraksi cukup dekat dengan warga Muhammadiyah.
Aksi Heroik Paling ‘Ikonik’ dari Muhammadiyah
Program bantuan dan penanganan bencana yang dijalankan oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menjadi wajah paling “ikonik” dan familiar di benak 69,3% anak muda karena sifatnya yang nyata, langsung terlihat, dan menyentuh kebutuhan sosial yang mendesak. Keberhasilan ini menunjukkan adanya “Action Bias” di kalangan generasi muda yang lebih memberikan atensi pada program bersifat heroik, visual, dan memiliki “drama” kemanusiaan yang kuat dibandingkan sekadar institusi administratif.
Meskipun program kesejahteraan sosial dan beasiswa pendidikan juga cukup dikenal, Muhammadiyah masih menghadapi tantangan besar dalam komunikasi publik karena program strategis lainnya seperti pemberdayaan perempuan, petani, dan zakat (Lazismu) cenderung “tenggelam” dan kurang populer di mata Gen Z.

Di saat banyak organisasi dikritik karena kebijakan dan perilaku elitenya, Muhammadiyah justru memiliki akar rumput yang sangat kuat secara moral. Data ini membuktikan bahwa kekuatan sejati Muhammadiyah ada pada karakter manusianya yang suka menolong, bukan sekadar pada megahnya amal usaha.
Program bantuan dan penanganan bencana menjadi wajah paling “ikonik” dan familiar di benak anak muda dengan persentase mencapai 69,3 persen, disusul oleh program santunan kesejahteraan sosial (59,1 persen) serta beasiswa pendidikan (58,5 persen).
Temuan ini membuktikan bahwa citra Muhammadiyah paling kuat pada bidang-bidang yang bersifat nyata, langsung terlihat, dan mampu menyentuh kebutuhan sosial yang mendesak. Dengan demikian, aksi kebencanaan, bantuan sosial, dan pendidikan telah bertransformasi menjadi identitas utama organisasi yang paling mudah dikenali oleh responden dibandingkan aspek administratif lainnya.
Dakwah Muhammadiyah Gak Kaku
Soal aktivitas dakwah, Muhammadiyah di mata anak muda dinilai sangat fleksibel, tidak memaksa, tidak kaku, tidak terlalu menggurui, dan dakwah penuh dengan ilmu. Anak muda sangat tertarik dengan model dakwah seperti ini, tidak sekedar hitam-putih, surga-neraka, atau sekedar baik-buruk. Demikian juga bahasa dan narasi yang digunakan, dapat diterima anak muda dengan baik.
Angka hasil survei menunjukkan:
- 84,5% Sepakat: Sebagian besar responden merasa Muhammadiyah tidak lagi terjebak pada gaya dakwah konvensional/kaku. Mereka melihat adanya upaya adaptasi terhadap selera, bahasa, dan platform yang digunakan anak muda (budaya populer).
- 15,5% Tidak Sepakat: Kelompok kecil ini mungkin masih merasakan adanya sisa-sisa formalitas atau bahasa yang terlalu organisatoris/akademis yang sulit dicerna oleh sebagian segmen anak muda lainnya.
Dengan hasil ini, Muhammadiyah dipersepsikan sukses memosisikan diri sebagai “pembangun jembatan” yang mampu membungkus nilai agama ke dalam konteks sosial yang relevan bagi generasi muda. Keberhasilan ini didorong oleh pengelolaan media sosial yang estetik, penggunaan infografis yang jernih, serta hadirnya tokoh-tokoh muda yang aktif berdiskusi secara cair di berbagai platform publik.
Secara visual dan narasi, gaya dakwah ini dinilai sangat selaras dengan budaya populer dan frekuensi Gen Z, sehingga mayoritas responden melihat adanya relevansi kuat antara pendekatan organisasi dengan dunia mereka. Meski hasil ini menunjukkan citra dakwah yang positif dan adaptif, temuan tersebut tetap harus dipahami sebagai data persepsi pada kelompok responden yang diteliti, bukan sebagai ukuran objektif mengenai efektivitas dakwah secara menyeluruh.
“Survei ini memecahkan mitos bahwa organisasi besar yang sudah berumur lebih dari seabad pasti ketinggalan zaman. Faktanya, 84,5% anak muda justru merasa Muhammadiyah sangat ‘nyambung’ dengan budaya populer mereka. Ini adalah bukti bahwa Muhammadiyah berhasil ‘menerjemahkan’ nilai-nilai agama menjadi konten yang relevan, visual, dan tidak menggurui di mata generasi digital.” (bersambung)
