Muhammadiyah di Mata Anak Muda #4: Dukung KHGT karena Gak Mau Ribet, Pilih Tarawih 11 Rakaat

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta merilis Laporan Survei Nasional bertajuk “Muhammadiyah di Mata Anak Muda.”  Hasil survei menunjukkan mayoritas anak muda mendukung gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diinisiasi Muhammadiyah. Demikian tentang salat tarawih, mayoritas memilih 8 rakaat dan 3 rakaat witir, karena lebih khusuk.

***

Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diinisiasi Muhammadiyah untuk menentukan 1 Ramadan dimulainya puasa dan 1 Syawal Idulfitri, ternyata mendapatkan persepsi positif dari anak muda. Alasanya sederhana, mereka tak mau ribet dan adanya kepastian berdasarkan keilmuan. Dan yang paling penting, untuk persatuan umat.

Dalam survei tentang penggunaan KHGT, menunjukkan angka sebagai berikut:

  • 82,9% Setuju: Angka ini menunjukkan dukungan yang nyaris bulat. Anak muda menginginkan kepastian dan kesatuan dalam penentuan hari-hari besar Islam.
  • 11,7% Tidak Tahu: Kelompok ini lebih besar daripada kelompok yang tidak setuju. Ini berarti tantangan Muhammadiyah untuk terus melakukan edukasi tentang KHGT.
  • 5,4% Tidak Setuju: Angka resistensi yang sangat rendah, menunjukkan bahwa argumen tradisional/lama sudah mulai ditinggalkan oleh generasi baru

Anak muda saat ini merupakan generasi yang mendambakan keteraturan serta kepastian, sehingga dukungan sebesar 82,9% terhadap Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) menjadi bentuk pengakuan bahwa perpaduan dalil agama dengan sains astronomi modern sangatlah relevan.

Angka ini sekaligus menunjukkan bahwa Muhammadiyah memiliki legitimasi kuat dalam menawarkan pembaruan sistem kalender Islam, karena dianggap sebagai solusi modern atas masalah klasik perbedaan tanggal lebaran yang melelahkan.

Meskipun citra KHGT di mata responden sangat positif dengan tingkat penolakan yang rendah (5,4%), keberadaan kelompok yang belum mengetahui konsep ini (11,7%) menunjukkan bahwa sosialisasi belum sepenuhnya merata. Oleh karena itu, fokus penguatan ke depan perlu diarahkan pada edukasi publik dan perluasan literasi agar kelompok yang belum memahami dapat beralih menjadi pendukung berdasarkan pengetahuan yang memadai.

Kecenderungan anak muda menginginkan kepastian dalam penentuan awal Ramadan dan Idulfitri. Perdebatan tahunan terkait penetapan hari besar Islam mulai ditinggalkan. Mereka tampaknya sudah jenuh dengan perdebatan penentuan Lebaran setiap tahun. Survei ini menunjukkan bahwa mayoritas anak muda telah menerima dan mendukung KHGT sebagai solusi atas kejenuhan ini.

Tingginya tingkat dukungan ini menjadi sinyal positif bagi Muhammadiyah dalam mendorong pembaruan sistem kalender Islam yang lebih terintegrasi secara global. Visi besar Muhammadiyah untuk menyatukan umat melalui pendekatan sains mendapatkan respons positif dari anak muda.

Anak Muda Lebih Suka Tarawih 11 Rakaat

Dalam hal ibadah, khususnya salat tarawih di bulan Ramadan, anak muda masa lebih cenderung memilih salat tarawih dan witir 11 rakaat. Alasanya sederhana, mereka menilai bahwa ibadah tarawih dengan 8 rakaat dan witir 3 rakaat, lebih khusuk dan tidak tergesa-gesa. Mereka lebih menikmati salat tarawih dengan jumlah lebih sedikit tetapi penuh dengan kekhusukan.

Dari kecenderungan tentang salat tarawih, dalam survei tersebut menunjukkan angka sebagai berikut:

  • 87,9% Sepakat: Sebagian besar responden memilih format tarawih 11 rakaat (8 rakaat tarawih + 3 rakaat witir) yang identik dengan praktik di Muhammadiyah.
  • 12,1% Tidak Sepakat: Sebagian kecil responden mungkin lebih memilih format 23 rakaat atau memiliki preferensi lain sesuai latar belakang organisasinya.

Bagi Gen Z dan Milenial yang memiliki mobilitas tinggi, durasi ibadah yang lebih pendek namun tetap padat makna adalah nilai tambah. Muhammadiyah berhasil memosisikan praktik 11 rakaat ini bukan hanya sebagai identitas organisasi, melainkan sebagai “Standard of Convenience” (standar kenyamanan) dalam beragama. Menariknya, angka 87,9% ini kemungkinan besar juga mencakup anak muda di luar kader Muhammadiyah yang merasa format ini lebih masuk akal untuk gaya hidup mereka.

Data ini sangat nyambung dengan temuan survei, membuktikan bahwa 11 rakaat adalah ‘pemenang’ di hati anak muda. Artinya, model ibadah Muhammadiyah sinkron dengan gaya hidup generasi ‘sat-set’, cepat, praktis, namun tetap memiliki landasan dalil yang kuat. Muhammadiyah sukses menjadikan praktiknya sebagai preferensi arus utama bagi milenial dan Gen Z.

Anak Muda Lebih Suka Salat Id di Lapangan

Demikian dengan salat Idulfitri maupun Iduladha, anak muda lebih banyak memilih melaksanakan di lapangan terbuka. Selain lebih terlihat ramai, sekaligus menjadi syiar Islam secara visual. Dari survei ini menunjukkan angka sebagai berikut:

  • 88,6% Sepakat: Sebagian besar responden memilih mengikuti salat Id di lapangan terbuka, praktik yang secara historis dipelopori dan dipertahankan secara konsisten oleh Muhammadiyah.
  • 1,5% Tidak Sepakat: Sebagian kecil responden tetap memilih masjid atau tempat tertutup lainnya sebagai lokasi ibadah.

Praktik shalat Id di lapangan terbuka yang dipelopori Muhammadiyah telah menjadi “produk budaya” yang sukses besar di pasaran ide publik, dengan tingkat persetujuan mencapai 88,6%. Bagi anak muda, pelaksanaan salat di ruang terbuka memberikan pengalaman spiritual yang lebih berkesan memiliki rasa lapang, udara terbuka, serta visual kebersamaan umat yang masif.

Dominasi angka tersebut membuktikan betapa cairnya pengaruh Muhammadiyah di luar struktur formal organisasi, sekaligus menandakan bahwa praktik ini telah menjadi kecenderungan yang mapan sebagai simbol kenyamanan dan kebersamaan beragama yang bermakna. (bersambung)

 

Tinggalkan Balasan

Search