Muhammadiyah terus mengampanyekan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai penaaggalan global. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga pada forum-forum internasional.
Pada forum internasional yang digelar oleh Organisation of Islamic Cooperation (Organisasi Kerjasama Islam/OKI) bekerja sama dengan Gulf Research Center melalui program Dialogue Lab, Muhammadiyah menyampaikan perkembangan penting terkait upaya penyatuan sistem kalender hijriah di dunia Islam.
Forum yang dilaksanakan secara daring pada Ahad (8/3/2026) tersebut mengangkat tema al-Turāts al-Tsaqāfī al-Syaʿbī fī Ramaḍān (Warisan Budaya Populer di Bulan Ramadan) dan dihadiri sejumlah akademisi serta tokoh dari berbagai negara.
Dalam kesempatan itu, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menyampaikan bahwa Muhammadiyah secara resmi telah menerapkan KHGT sejak Ramadan 1447 Hijriah. Langkah ini merupakan bagian dari kontribusi Muhammadiyah dalam mendorong lahirnya sistem penanggalan Islam yang lebih terpadu di tingkat global.
“Izinkan saya menyampaikan kepada semua, sebuah perkembangan penting dari Indonesia. Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, secara resmi telah mengadopsi dan mulai menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal sejak Ramadan 1447 Hijriah,” tutur Rofiq yang menyampaikannya dalam bahasa Arab.
Rofiq menerangkan bahwa KHGT merupakan sistem kalender Islam yang memandang seluruh permukaan bumi sebagai satu kawasan penentuan awal bulan atau maṭlaʿ wāḥid (satu kawasan matlak). Dengan prinsip “satu hari, satu tanggal untuk seluruh dunia”, kalender ini disusun berdasarkan al-ḥisāb al-falakī al-daqqīq, bukan semata-mata bergantung pada observasi visual terhadap hilal atau al-ruʾyah al-baṣariyyah.
Menurutnya, pendekatan ini memungkinkan umat Islam menyusun jadwal ibadah secara pasti untuk waktu yang jauh ke depan. Hal tersebut juga diharapkan dapat mengurangi perbedaan yang selama ini kerap terjadi dalam penentuan awal bulan-bulan penting seperti Ramadan, Syawal, dan Zulhijah, meskipun secara astronomis posisi hilal sering kali sebenarnya telah memenuhi kriteria di banyak wilayah dunia.
Lebih jauh, Rofiq menyebut upaya pengembangan kalender hijriah global ini sebagai bagian dari ikhtiar “membayar utang peradaban Islam”. Selama lebih dari empat belas abad sejarah Islam, umat Muslim belum memiliki sistem kalender hijriah yang diterapkan secara seragam di tingkat dunia.
“Kami berharap Organisasi Kerja Sama Islam dapat memainkan peran yang lebih aktif dalam memfasilitasi dialog antara negara-negara dan berbagai mazhab untuk membahas pentingnya sistem kalender global ini,” kata Rofiq.
Bagi Muhammadiyah, tujuan utama dari gagasan kalender hijriah global ini bukanlah memaksakan satu metode kepada seluruh negara atau mazhab, melainkan membangun kesepahaman ilmiah dan syar‘i bahwa umat Islam layak memiliki sistem penanggalan yang lebih terkoordinasi di tingkat dunia.
Dukungan Penuh dari OKI
Langkah progresif Muhammadiyah ini sejalan dengan visi besar dunia Islam yang juga menjadi perhatian utama OKI. Dalam sebuah pernyataan resmi saat peluncuran KHGT di Yogyakarta pada 25 Juni 2025 (29 Zulhijjah 1446) silam, Asisten Sekretaris Jenderal OKI Bidang Kemanusiaan, Budaya, dan Sosial, H.E. Ambassador Tarig Ali Bakheet, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini.
Ambassador Bakheet menegaskan bahwa inisiatif Kalender Hijriah Global Tunggal memiliki resonansi yang sangat kuat dengan tujuan-tujuan strategis OKI serta resolusi-resolusi terbaru organisasi tersebut. Salah satu landasan hukum internasional yang memperkuat langkah ini adalah Resolusi No. 1/51-C mengenai Kalender Hijriah Terpadu yang diadopsi dalam Sidang ke-51 Dewan Menteri Luar Negeri (CFM) OKI di Istanbul tahun 2025.
Resolusi tersebut secara eksplisit mendorong negara-negara anggota untuk mengadopsi kalender Hijriah yang bersatu berdasarkan perhitungan astronomi yang akurat (precise astronomical calculations).
“Hari ini, dari kota Yogyakarta, kita menyaksikan langkah bersejarah ke depan. OKI berkomitmen untuk bekerja sama erat dengan Muhammadiyah dan pemangku kepentingan lainnya—sesuai dengan resolusi OKI—untuk mensosialisasikan dan mendorong adopsi model kalender terpadu ini secara lebih luas di seluruh dunia Muslim,” tegas Ambassador Bakheet dalam pidatonya.
Ia mengakui bahwa perjalanan menuju persatuan penanggalan ini memang tidak sederhana dan membutuhkan kesabaran, visi, serta keberanian untuk menjembatani perbedaan melalui dialog, sains, dan ketulusan.
Namun, dukungan resmi dari OKI ini memberikan sinyal kuat bahwa upaya Muhammadiyah dalam “membayar utang peradaban” telah menjadi bagian dari arus utama agenda persatuan umat Islam global. (*/tim)
