Muhammadiyah Latih Umat Ukur Kiblat Akurat lewat Fenomena Istiwa A’dzam

Muhammadiyah Latih Umat Ukur Kiblat Akurat lewat Fenomena Istiwa A’dzam
www.majelistabligh.id -

Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa arah kiblat cukup diarahkan ke barat. Padahal, pandangan tersebut tidak sepenuhnya akurat, terutama bagi wilayah Indonesia yang memiliki variasi geografis cukup luas.

Akibat kesalahpahaman ini, tak sedikit masjid atau mushala yang arah kiblatnya menyimpang beberapa derajat dari arah yang semestinya.

Persoalan ini tidak hanya soal teknis, tetapi juga mencerminkan rendahnya literasi umat terkait metode ilmiah dalam menentukan arah kiblat.

Banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya menggunakan pendekatan yang tepat dan terukur dalam menetapkan arah ibadah, padahal arah kiblat merupakan salah satu rukun penting dalam pelaksanaan salat.

Menyikapi hal tersebut, Pusat Tarjih Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerja sama dengan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan Pelatihan Pengukuran Arah Kiblat, pada Selasa (15/7/2025).

Kegiatan ini digelar bertepatan dengan momen astronomi istimewa, yaitu istiwa’ a’dzam—ketika posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah—sehingga menjadi saat paling akurat untuk mengecek dan mengoreksi arah kiblat melalui pengamatan bayangan benda tegak.

Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya menerima materi teoretis, tetapi juga langsung terlibat dalam praktik lapangan. Dengan metode rashdul kiblat, peserta diajarkan bagaimana memanfaatkan fenomena alam ini untuk mengamati bayangan secara langsung pada waktu yang telah ditentukan. Teknik ini dinilai sebagai metode sederhana namun sangat akurat dalam menentukan arah kiblat.

Ketua Pusat Tarjih UAD Miftah Khilmi Hidayatulloh, dalam sambutannya menegaskan, koreksi arah kiblat bukanlah sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

“Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa menghadap ke barat sudah cukup. Padahal arah kiblat itu harus benar-benar menuju Ka’bah, tidak bisa sekadar mengira-ngira,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan bahwa dalam Islam, memang tidak ada beban yang melebihi kemampuan seseorang.

Hal itu sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 286, “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha”.

Namun demikian, umat Islam tetap dituntut untuk berusaha semaksimal mungkin dalam beribadah secara benar dan sesuai tuntunan.

“Dalam konteks arah kiblat, penyimpangan sekecil 0,1 derajat pun tetap dikategorikan sebagai kesalahan arah. Maka penting bagi kita untuk melakukan verifikasi dengan metode ilmiah,” tegasnya.

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah narasumber ahli di bidang ilmu falak dan astronomi. Salah satunya adalah Mutoha Arkanuddin dari Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak.

Dia menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini sangat relevan dengan pesan-pesan dalam Al-Qur’an.

“Dalam surat Al-Baqarah ayat 144, 149, dan 150, Allah secara eksplisit memerintahkan kita untuk menghadap kiblat. Maka menentukan arah kiblat yang tepat adalah bentuk nyata dari ketaatan kita terhadap perintah tersebut,” jelas Mutoha.

Selain Mutoha, pelatihan ini juga menghadirkan pakar-pakar lain seperti Oman Fathurohman dari Muhammadiyah, Kepala Pusat Studi Astronomi UAD Yudhiakto Pramudya, dan Najmuddin Saifullah dari Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DIY.

Mereka memberikan paparan mendalam mengenai konsep arah kiblat, perhitungan astronomi, serta dasar-dasar fikih yang mendasarinya.

Materi pelatihan mencakup berbagai pendekatan ilmiah, mulai dari penggunaan arah utara sejati (true north), metode harian pengukuran kiblat, hingga metode rashdul kiblat global.

Para peserta juga diajarkan cara menghitung arah kiblat dengan kalkulator, memanfaatkan fitur GPS, serta mengoperasikan aplikasi seperti GPS Test yang tersedia di perangkat Android.

Tak hanya itu, peserta juga mendapatkan pelatihan penggunaan instrumen-instrumen teknis seperti teodolit, kompas, dan instrumen bantu lainnya.

Panduan lengkap mengenai pemilihan waktu dan lokasi pengukuran, orientasi alat, hingga bagaimana mengantisipasi kendala teknis juga menjadi bagian dari pembelajaran.

Peserta yang hadir berasal dari beragam latar belakang, termasuk mahasiswa fisika, anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan para alumni Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).

Setelah pelatihan, mereka diberi tugas untuk melakukan pengukuran arah kiblat di masjid atau mushala sekitar tempat tinggal mereka dan menyosialisasikannya kepada masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah ingin menanamkan kesadaran baru bahwa ibadah yang sahih harus dilandasi dengan ilmu dan data yang tepat.

Pelatihan ini bukan hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga sebagai bentuk dakwah bil hal, yakni menyampaikan ajaran Islam dengan pendekatan praktis dan solutif berbasis sains.

Dengan semakin luasnya edukasi mengenai arah kiblat yang benar, diharapkan masyarakat Muslim akan semakin peduli terhadap akurasi ibadahnya.

Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi langkah konkret Muhammadiyah dalam mendorong budaya beragama yang tidak hanya tekstual, tetapi juga rasional, ilmiah, dan bertanggung jawab. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search