*)Oleh: Nashrul Mu’minin
Content Writer, Yogyakarta
Di tengah gelombang informasi yang melaju tanpa ampun, umat manusia saat ini hidup dalam era di mana jari-jemari lebih cepat menekan tombol “share” ketimbang mencerna isi sebuah berita. Disinformasi bukan lagi sekadar ancaman maya, melainkan sudah menjadi realitas sosial yang merusak sendi-sendi kehidupan, mulai dari cara kita berpikir, bersikap, hingga menentukan pilihan.
Dalam pusaran ini, Muhammadiyah tampil sebagai penjaga nalar dan nurani, khususnya melalui pendekatan literasi digital yang menyatu dalam berbagai platform, terutama website resminya.
Literasi bukanlah perkara baru bagi Muhammadiyah. Sejak awal kelahirannya tahun 1912, organisasi ini dikenal sebagai pelopor pencerahan umat melalui pendidikan dan penerbitan. Surat kabar Suara Muhammadiyah menjadi saksi sejarah bahwa informasi yang baik, sehat, dan tercerahkan adalah napas perjuangan dakwah.
Kini, warisan itu tidak hanya hadir dalam bentuk cetak, tetapi telah menjelma dalam bentuk digital—terakses di ujung jemari siapa pun yang mencari ilmu, klarifikasi, dan makna.
Website resmi Muhammadiyah dan jaringan medianya seperti PWMU.CO, Suara Muhammadiyah Online, dan berbagai laman PWM/PCM daerah bukan sekadar tempat menyimpan berita kegiatan. Lebih dari itu, ia menjadi titik temu antara nalar kritis, nilai keislaman, dan semangat kebangsaan. Di saat masyarakat dilanda kebingungan akibat banjir hoaks, situs-situs ini justru menawarkan oase pengetahuan, konfirmasi, dan penjernihan perspektif. Dalam setiap artikel, ada upaya untuk merangkai informasi yang mendidik, bukan sekadar mengabarkan.
Literasi digital yang ditawarkan Muhammadiyah tidak bersifat elitis atau menara gading akademis. Justru ia dirancang untuk membumi, menyentuh kehidupan sehari-hari umat Islam Indonesia. Artikel yang mengupas hukum Islam dalam kehidupan modern, refleksi sosial-kebangsaan, hingga pemikiran tajdid dan wasathiyah, hadir dalam bahasa yang dapat dijangkau masyarakat umum. Hal ini penting, sebab jika literasi digital hanya dimiliki kalangan terbatas, maka jurang disinformasi tidak akan pernah tertutup.
Dalam hal ini, website Muhammadiyah menjalankan tiga peran penting. Pertama, sebagai penjernih informasi. Di era post-truth, fakta sering kali dikalahkan oleh emosi dan opini. Media resmi Muhammadiyah hadir untuk memberikan kerangka berpikir yang objektif, faktual, dan berlandaskan nilai Islam berkemajuan.
Kedua, sebagai ruang edukasi. Literasi tidak berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi lebih jauh pada kemampuan berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.
Ketiga, sebagai alat dakwah digital. Dakwah yang efektif hari ini tidak bisa meninggalkan dunia maya, dan Muhammadiyah menyadari hal itu dengan merespon cepat kebutuhan zaman melalui konten-konten yang kreatif, reflektif, dan menggugah kesadaran.
Generasi milenial dan Gen Z sebagai pengguna aktif internet tentu menjadi target penting dakwah literasi ini. Tantangan besar menghadang: algoritma media sosial yang bias, konten viral yang tak selalu bermutu, hingga budaya instan yang menggerus minat membaca mendalam.
Di sinilah relevansi Muhammadiyah diuji, bukan sekadar dalam retorika, tetapi dalam konsistensi menghadirkan konten yang mendalam, inspiratif, dan transformatif. Media digital Muhammadiyah juga memiliki kekuatan untuk membentuk opini publik yang sehat, membuka ruang diskusi berbasis data, serta memupuk karakter kebangsaan yang toleran dan cerdas.
Tentu, perjuangan ini tidak bebas dari hambatan. Di balik layar digital, ada kerja-kerja sunyi yang terus dilakukan oleh para penulis, editor, desainer, dan admin media yang menghidupkan konten-konten berkualitas. Mereka bukan hanya bekerja demi angka pembaca, tetapi demi membangun peradaban. Di tengah kepungan clickbait dan konten dangkal, mereka bertahan sebagai penjaga kualitas, sebagai simpul dari harapan umat agar tidak terjerumus dalam kabut disinformasi.
Muhammadiyah telah memilih jalan yang benar: jalan literasi. Jalan ini mungkin tidak gemerlap seperti konten hiburan yang viral dalam hitungan menit. Namun, ia adalah jalan yang membangun akar. Di balik setiap artikel dan refleksi keislaman yang ditulis dengan baik, ada benih yang ditanam untuk masa depan umat yang tercerahkan. Muhammadiyah tidak sekadar hadir di dunia digital, tetapi menyuntikkan makna ke dalamnya.
Oleh karena itu, kita sebagai bagian dari umat, apalagi kader Muhammadiyah, harus mendukung penuh misi ini. Menyebarkan konten-konten pencerahan, menghidupkan diskusi sehat, serta ikut serta menulis dan berbagi kebaikan. Literasi digital bukan sekadar tugas media, tapi gerakan kolektif. Jika kita diam, maka kebisingan disinformasi akan terus menguasai ruang-ruang kesadaran publik.
Akhirnya, kita percaya bahwa di balik layar digital Muhammadiyah, ada harapan yang sedang dirajut. Asa bahwa umat Islam Indonesia akan tetap kokoh di tengah terpaan hoaks, tetap cerdas dalam menyikapi perbedaan, dan tetap setia pada dakwah yang mencerahkan. Literasi bukan hanya alat untuk membaca dunia, tetapi jalan untuk memperbaikinya. Dan Muhammadiyah telah memberi teladan, bahwa dakwah bukan hanya di mimbar, tapi juga di layar. (*)
