Muhammadiyah Merawat Bhinneka Tunggal Ika Melalui Gerakan Sosial

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir.
www.majelistabligh.id -

Muhammadiyah terus merawat Bhinneka Tunggal Ika melalui gerakan sosial, bukan lewat politik praktis. Gerakan sosial ini telah dipilih Muhammadiyah sejak awal. Karena itu, meskipun Muhammadiyah sebagai ormas Islam, tapi manfaatnya untuk semua.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Rakornas BSI di Kabupaten Magelang, Kamis (22/1/2026).

“Kami mewujudkan Bhinneka Tunggal Ika itu lewat pergerakan sosial. Tidak lewat pergerakan politik, dan itu lebih lekat. Bahwa kita bersama mereka saudara,” kata Haedar.

Haedar mencontohkan gerakan Muhammadiyah di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Muhammadiyah di KTI fokus pada gerakan membangun sumber daya manusia melalui bidang pendidikan dan kesehatan. Pelayanan ini tidak hanya diberikan untuk warga Muhammadiyah atau umat Islam saja, tapi untuk semua. “Sampai di Indonesia Timur lahir Krismuha (Kristen Muhammadiyah), saudara-saudara Kristen di sana merasa bagian dari Muhammadiyah,” ungkapnya.

Berbagai gerakan sosial yang dilakukan Muhammadiyah itu, imbuhnya, untuk merealisasikan dan mewujudkan kesejahteraan untuk semua. Maka kerja sama Muhammadiyah dengan berbagai pihak diarahkan untuk realisasi kesejahteraan.

Khususnya dalam konteks mewujudkan kesejahteraan ekonomi bangsa, menurut Haedar masih membutuhkan kerja ekstra dan konkret – tidak boleh hanya sebatas artificial.

Haedar Nashir memandang, jika ekonomi umat membaik dan bergerak ke angka yang menggembirakan, kualitas pendidikan dan kesehatan umat akan ikut membaik sehingga indeks pembangunan manusia (IPM) ikut terkatrol naik.

Berbagai stakeholder diminta Haedar membuka mata atas kenyataan rendahnya IPM, serta indeks IQ bangsa Indonesia yang jika dihitung rerata bahkan masih di bawah Malaysia dan negara tetangga lainnya.

“Tapi mayoritas masih seperti itu. Kenapa? Karena ekonominya masih berada di bawah. Dalam konteks itu, saya yakin kerja sama kita, sinergi, dan kolaborasi kita harus pada program-program yang praksis,” ungkapnya.

Program-program pemberdayaan bagi umat, imbuhnya, harus memiliki daya jangkau strategis jauh ke depan. Besarnya modal sosial yang dimiliki harus digunakan sebaik-baiknya untuk membangun peradaban bangsa yang maju. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search