Anggota Bidang Daerah 3T dan Komunitas Khusus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Arni Surwanti, menegaskan bahwa Muhammadiyah memberikan perhatian khusus pada isu kesehatan mental difabel di Indonesia. Sebab mereka masih memerlukan penguatan literasi dan akses layanan.
Ia menjelaskan bahwa gangguan mental seperti depresi, kecemasan, maupun skizofrenia bukanlah aib, melainkan kondisi yang membutuhkan penanganan tepat dan dukungan sosial. “Diperlukan kerangka masyarakat dan kebijakan yang inklusif agar penyandang disabilitas mental tidak mengalami diskriminasi, pasung, atau isolasi sosial,” tegasnya.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah terapi berbasis aktivitas fisik dan psikologis untuk meningkatkan fokus, empati, serta regulasi emosi. Dalam konteks ini, Arni bersama Retno Widodati (Dosen UMY) menginisiasi pengabdian masyarakat melalui implementasi Equine-Assisted Therapy (EAT) atau terapi berbasis kuda.
EAT merupakan metode terapi yang memanfaatkan interaksi antara manusia dan kuda untuk meningkatkan kondisi fisik, psikologis, sosial, dan kognitif penyandang disabilitas. Program ini juga menghadirkan kolaborasi internasional dengan melibatkan Prof. Ryuhei Sano dari Hosei University, Jepang, serta Muthusamy dari Riding for Disability Association Malaysia yang telah berpengalaman dalam penerapan terapi serupa.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, diharapkan pemberdayaan difabel tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan kualitas hidup secara menyeluruh.
Hal ini sesuai dengan Amanat Muktamar ke-48 Muhammadiyah yang menegaskan pentingnya penguatan kelompok akar rumput, terutama kelompok rentan, untuk diberdayakan secara berkelanjutan.
Komitmen tersebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen Persyarikatan, termasuk civitas akademika Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Dalam aspek ekonomi, Arni bersama MPM dan tim pengabdian masyarakat dosen UMY mendampingi Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM) Difabel di Sleman yang bergerak di sektor peternakan ayam petelur.
Ia menjelaskan bahwa JATAM Difabel merupakan model kewirausahaan sosial yang mengintegrasikan pemberdayaan ekonomi, kesejahteraan hewan, serta keberlanjutan lingkungan.
“Seiring meningkatnya permintaan pasar terhadap produk pangan sehat dan beretika, usaha ini memiliki potensi untuk dikembangkan ke skala yang lebih besar,” ujar Arni. (*/tim)
