Muhammadiyah Seleksi Kader Mubaligh-Ulama untuk Studi di Libya

www.majelistabligh.id -

Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar seleksi Program Inkubasi Kader Mubaligh dan Ulama Muhammadiyah bekerja sama dengan Universitas Kulliyah Da‘wah Al-Islāmiyyah Al-‘Ālamiyyah di Tripoli, Libya.

Seleksi ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan dipantau langsung oleh tim penguji dari Tabligh Institute Muhammadiyah pada Senin (4/8/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari program strategis dalam mencetak kader dakwah berkapasitas global.

Program ini terselenggara atas kerja sama Majelis Tabligh PP Muhammadiyah dengan Akhyar Institute. Tim seleksi dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Ustadz Fathurrahman Kamal, Lc, M.Si, didampingi Ustaz Fajar Rachmadani, Lc, M.Hum., Ph.D, Ustaz Akhmad Arif Rif’an, SHI, M.Si, dan Ustaz Talqis Nurdianto, Lc, MA., Ph.D.

Sebelum seleksi dimulai, Ustaz Fathurrahman Kamal memberikan taujih pengantar kepada peserta yang berasal dari berbagai provinsi di Indonesia.

Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa program inkubasi ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang Muhammadiyah dalam menyiapkan estafet perjuangan dakwah dan keilmuan.

“Majelis Tabligh menyelenggarakan program ini untuk membentuk kader mubaligh dan ulama yang mampu melanjutkan estafet perjuangan dakwah dan ilmu dalam Persyarikatan. Ini adalah program jangka panjang, bukan bersifat insidental,” ujar Fathurrahman.

Dia lalu menjelaskan, para peserta akan diproyeksikan untuk mengisi ruang-ruang strategis dakwah Muhammadiyah, baik di tingkat nasional maupun global.

Oleh karena itu, kesiapan intelektual dan spiritual menjadi kunci utama. Salah satu syarat penting program ini adalah kemampuan berbahasa Arab, baik lisan maupun tulisan.

“Kami mewajibkan setiap peserta menulis proposal penelitian dalam bahasa Arab. Ini menjadi titik awal penting agar ketika mereka melanjutkan studi magister pada bidang yang dipilih, mereka sudah memiliki arah dan fondasi ilmiah yang kuat,” tegasnya.

Selain kesiapan akademik, Ustaz Fathurrahman menekankan pentingnya ketahanan mental dan dukungan keluarga bagi peserta yang akan menempuh pendidikan di luar negeri.

Kondisi sosial dan budaya di Libya tentu berbeda dengan di Indonesia. Karena itu, peserta diimbau untuk memperkuat istikharah dan bermusyawarah dengan keluarga, terutama bagi yang telah berkeluarga.

“Rasulullah saw bersabda, tidak akan merugi orang yang bermusyawarah dan tidak akan menyesal orang yang beristikharah. Maka, komunikasi dengan keluarga menjadi bagian dari kesiapan ruhiyah dan mental,” jelasnya.

Fathurrahman juga menegaskan arah perjuangan Muhammadiyah di masa depan membutuhkan kader dakwah dengan kapasitas keilmuan tingkat dunia dan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab yang baik.

Sejak awal, peserta diwajibkan mengantongi surat rekomendasi Muhammadiyah serta menandatangani komitmen untuk mengabdi di Persyarikatan setelah menyelesaikan studi.

Majelis Tabligh menyampaikan apresiasi kepada Dr. Adi Hidayat selaku representasi resmi Kulliyah Da‘wah Al-Islāmiyyah Al-‘Ālamiyyah di Indonesia, serta Prof. Dr. Abu Bakar (Rektor Kulliyah) yang telah memberikan kesempatan belajar bagi kader Muhammadiyah di Tripoli.

Program ini diharapkan menjadi pilar strategis regenerasi ulama dan mubaligh Muhammadiyah yang berwawasan global, namun tetap berakar kuat pada nilai-nilai Islam dan semangat Persyarikatan. (indra/tim)

Tinggalkan Balasan

Search