Keberhasilan Muhammadiyah dalam membangun sistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas kembali mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.
Kali ini, apresiasi datang dari lembaga riset terkemuka asal Turki, Enstitu Sosyal Turkiye, yang secara khusus mengunjungi Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Jakarta pada Jumat (2/5/2025), untuk menjajaki potensi kerja sama di bidang pendidikan.
Lembaga Enstitu Sosyal Turkiye, yang dikenal sebagai think tank atau pusat kajian kebijakan publik di Turki, mengirimkan satu delegasinya, yakni Murat Yas, peneliti yang juga merupakan tokoh intelektual muda di negaranya.
Dalam pertemuan tersebut, Murat Yas menyampaikan rasa kagum dan apresiasi yang tinggi terhadap peran strategis Muhammadiyah dalam memajukan pendidikan di Indonesia, terutama dalam menjangkau masyarakat di wilayah-wilayah terpencil.
“Di Turki, mungkin banyak orang akan merasa terkejut ketika mengetahui bahwa Muhammadiyah memiliki jaringan sekolah yang begitu luas di seluruh pelosok Indonesia. Ini adalah pencapaian luar biasa yang patut dipelajari,” ujar Murat dengan antusias.
Murat Yas menjelaskan bahwa Enstitu Sosyal berfokus pada pengembangan gagasan dan kebijakan dalam tiga bidang utama: pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Dari ketiga sektor tersebut, pendidikan menjadi prioritas utama dalam program-program yang mereka jalankan. Oleh karena itu, kunjungan ke Muhammadiyah dipandang sebagai langkah strategis untuk memperdalam pemahaman mereka tentang praktik pendidikan berbasis nilai dan kemandirian masyarakat.
“Kami berharap kunjungan ini tidak hanya menjadi pertemuan biasa, tetapi bisa menjadi awal dari kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan, terutama dalam sektor pendidikan,” tambahnya.
Kedatangan Murat Yas disambut hangat oleh para pimpinan pusat Muhammadiyah.
Ketua PP Muhammadiyah Prof. Syafiq A. Mughni menegaskan bahwa Muhammadiyah sangat terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi internasional, khususnya dengan lembaga-lembaga riset dan pendidikan dari luar negeri.
“Kami menyambut baik keinginan dari Enstitu Sosyal untuk bekerja sama. Setelah pertemuan ini, kami akan menjajaki kemungkinan untuk menyelenggarakan konferensi atau webinar internasional yang secara khusus membahas isu-isu pendidikan kontemporer,” ujar Syafiq.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah lainnya, Dr. Saad Ibrahim menambahkan bahwa kekhasan pendidikan Muhammadiyah terletak pada integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum. Hal ini tercermin dalam kurikulum yang diterapkan di pesantren-pesantren Muhammadiyah yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kurikulum tersebut tidak hanya membentuk peserta didik yang cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter dan spiritualitas,” ppaar dia.
Menanggapi penjelasan tersebut, Murat Yas menunjukkan ketertarikannya yang besar untuk mendalami model pendidikan pesantren Muhammadiyah.
Dia bahkan menyatakan keinginan untuk menjadikan topik ini sebagai bagian penting dalam konferensi bersama yang tengah direncanakan.
Pertemuan ini menjadi bukti bahwa Muhammadiyah tidak hanya berperan besar dalam pembangunan nasional, tetapi juga menjadi aktor penting dalam diplomasi budaya dan pendidikan di tingkat global.
Pengakuan dari peneliti luar negeri seperti Murat Yas merupakan dorongan semangat bagi Muhammadiyah untuk terus berinovasi dan memperluas jangkauan kontribusinya demi masa depan pendidikan yang lebih adil dan merata. (*/wh)
