Mukjizat Surah Al-Ikhlas

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Surah Al-Ikhlas hanya empat ayat. Namun di dalamnya tersimpan bantahan paling tuntas terhadap keyakinan sesat yang telah menyebar ribuan tahun. Allah pilihkan bantahan yang sangat ringkas, sangat cerdas, dan tidak boros satu kata pun.

Adapun rahasianya tersembunyi di balik pilihan satu partikel kecil yang kebanyakan pembaca lewati begitu saja. Apakah itu?

  1. Dua Ayat yang Tampak Sederhana, tapi Menyimpan Kedalaman

Kita bisa membaca dua ayat ini:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Lam yalid wa lam yūlad. Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al-Ikhlash, 112:3-4)

Jika kita membaca terjemahnya, semua terasa wajar dan mudah dipahami. Tapi dalam bahasa Arab aslinya, ada sesuatu yang sangat menarik: ketiga kalimat di atas sama-sama menggunakan partikel lam (لَمْ). Dan partikel lam dalam bahasa Arab berarti: meniadakan sesuatu yang terjadi di masa lalu.

Pertanyaan yang layak muncul: mengapa Al-Quran memilih kata bermakna “masa lalu” untuk menyatakan bahwa Allah Swt tidak beranak dan tidak diperanakkan? Bukankah seharusnya menggunakan lan (لَنْ) — yang berarti meniadakan sesuatu di masa depan  agar lebih lengkap dan menyeluruh?

Jawabannya menyimpan kecerdasan bahasa yang luar biasa.

  1. Membantah Klaim yang Sudah Terlanjur Tersebar

Untuk memahami pilihan kata ini, kita perlu kembali ke konteks turunnya surah ini. Ketika surat Al-Ikhlas diturunkan, dunia sudah dipenuhi oleh beragam keyakinan menyimpang yang menisbatkan anak kepada Tuhan atau menjadikan sesuatu sebagai “anak Tuhan.”

  • Orang-orang Arab musyrik menyebut malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah.
  • Orang Yahudi menyebut Uzair sebagai anak Allah.
  • Orang Nasrani menyebut Isa Al-Masih sebagai anak Allah.
  • Belum lagi peradaban Yunani, Mesir, India, dan lainnya yang memiliki dewa-dewi yang dianggap keturunan Tuhan — Apollo, Athena, Herkules, Horus, Ganesha, dan banyak lagi.

Semua keyakinan itu sudah ada. Sudah tersebar. Sudah mengakar dalam pikiran manusia sejak lama. Maka, Al-Quran datang dengan partikel lam — yang menafikan kejadian di masa lalu — untuk menegaskan bahwa:

Semua yang sudah kalian yakini itu, semua klaim yang sudah kalian sebarkan itu tidak pernah terjadi. Sejak dahulu, Allah Swt tidak pernah beranak. Allah Swt tidak pernah diperanakkan. Bantahan ini benar-benar tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat konteks.

  1. Tapi Bukankah Itu Membuka Celah untuk Masa Depan?

Inilah pertanyaan yang sangat wajar untuk diajukan: jika lam hanya menafikan masa lalu, bukankah itu membuka kemungkinan Allah memiliki anak pada masa depan? Dan, di sinilah kecerdasan Al-Quran semakin terasa.

Jawabannya adalah tidak dan bukan karena ada kata lain yang menambahkan penafian untuk masa depan. Tetapi, karena logika teologinya sendiri sudah menutup celah itu secara tuntas.

Perhatikan: tidak ada satu pun keyakinan di dunia ini yang meyakini bahwa Tuhan mereka akan melahirkan anak pada masa depan. Atau, Tuhan mereka akan dilahirkan pada masa yang akan datang. Semua klaim tentang “anak Tuhan” selalu berbicara tentang sesuatu yang sudah ada atau sudah terjadi, bukan yang akan datang.

Isa Al-Masih misalnya, ia baru disebut anak Allah setelah lahir dan ada di dunia. Apollo, Athena, Herkules, mereka disebut anak dewa setelah kisah mereka dibuat. Tidak ada satu pun agama yang mengatakan, “Tuhan kami akan melahirkan anak tahun depan.”

Maka, Al-Quran cukup menafikan apa yang sudah terjadi dan dengan sendirinya, semua kemungkinan masa depan pun tertutup.

Bukankah konsep “Tuhan beranak” hanya bisa lahir dari peristiwa yang sudah ada sebelumnya. Jika dari zaman azali saja tidak pernah terjadi, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi di masa depan?

Inilah salah satu kemukjizatan Al-Quran kehematan dan efektivitas kata yang luar biasa. Satu partikel kecil berhasil membantah masa lalu dan menutup kemungkinan masa depan sekaligus tanpa perlu menambahkan kata ekstra, tanpa perlu mengulangi kalimat.

  1. Tidak Ada yang Setara dalam Segala Hal

Ayat keempat melengkapi dengan pernyataan yang menyeluruh, “Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad” dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan: tidak ada yang menyerupai-Nya dalam Zat-Nya, dalam sifat-Nya, maupun dalam tindakan-Nya. Tiada yang bisa menjadi tandingan atau sekutu-Nya.

Ini bukan sekadar pernyataan keunikan, ini adalah penutup logis dari seluruh rangkaian surah, yaitu:

Allah itu Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang bisa disejajarkan dengan-Nya dalam aspek apapun.

  1. Pelajaran untuk Kita

Surah Al-Ikhlas adalah surah yang banyak dari kita hafal sejak kecil. Tapi ternyata, di balik hafalannya yang pendek itu, tersimpan kedalaman makna yang luar biasa. Satu partikel kecil (lam) membuktikan bahwa Al-Quran bukan sekadar teks keagamaan biasa. Ia adalah firman Allah dengan pilihan kata yang presisi dan tidak tertandingi siapapun.

Maka, setiap kali membaca “Lam yalid wa lam yūlad” kita sedang mengucapkan bantahan ringkas dan tuntas terhadap ribuan tahun kesesatan teologi yang pernah menyebar di muka bumi. || Disarikan dari Keajaiban Bahasa Al-Quran (Syaikh Fadhil As-Samara’i), Tafsir Al-Wajiz (Syaikh Wahbah Az-Zuhaili), Zubdatut Tafsir (Syaikh Sulaiman Al-Asyqar).

Tinggalkan Balasan

Search