Di balik kesibukan pelayanan medis yang serba cepat, Rumah Sakit Muhammadiyah/Aisyiyah memancarkan ketenangan yang berbeda.
Setiap langkah pelayanannya berlandaskan tiga nafas Surat Al-Ma’un: pelayanan berkualitas, pengelolaan keuangan yang sehat, dan kepedulian sosial yang nyata.
Di berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur, rumah sakit ini menjadi pilihan utama masyarakat, bukan hanya karena mutu layanan medisnya, tetapi juga karena nilai-nilai luhur yang menyertai setiap tindakan pelayanannya.
Sebagai bagian dari amal usaha Muhammadiyah yang sudah berkiprah selama 112 tahun, RS Muhammadiyah/Aisyiyah tidak sekadar dibangun dengan pondasi bisnis sebagai tujuan utama, tetapi juga membawa misi sosial.
Inilah yang membedakan RS Muhammadiyah/Aisyiyah dengan rumah sakit lain. RS Muhammadiyah/Aisyiyah hadir bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit jasmani, tetapi juga merawat nilai-nilai kemanusiaan dalam sistem pelayanannya.
Mereka yang datang sebagai pasien tidak sekadar diposisikan sebagai konsumen yang harus membayar, melainkan sebagai manusia yang perlu dilayani dengan empati dan kesungguhan.
Pelayanan medis dijalankan dengan standar profesional dan islami, tanpa menghilangkan sentuhan nurani. Bahkan dalam suasana rumah sakit yang sibuk, ada ketenangan yang memancar dari nilai keikhlasan dan pengabdian.
Apa rahasianya? Jawabannya terletak pada filosofi yang menjadi nafas RS Muhammadiyah/Aisyiyah: tiga nafas dari Surat Al-Ma’un.
Filosofi ini bukan sekadar jargon, tetapi prinsip hidup yang dijalankan oleh seluruh elemen rumah sakit dengan konsisten:
1. Pelayanan Berkualitas
RS Muhammadiyah/Aisyiyah terus meningkatkan standar medisnya. Mulai dari SDM, alat kesehatan, hingga sistem informasi, semuanya diarahkan untuk menjamin mutu layanan yang andal dan aman demi keselamatan pasien.
2. Sehat secara keuangan.
Di saat banyak rumah sakit terjebak dalam utang atau pemborosan, RS Muhammadiyah/Aisyiyah justru mengelola keuangan secara sehat dan memegang prinsip akuntabilitas. Tidak ada ruang untuk pemborosan, karena setiap rupiah di sana adalah amanah umat.
3. Berdampak sosial.
Inilah yang paling menyentuh. Keuntungan rumah sakit tidak berhenti di neraca laba rugi, tetapi mengalir kembali ke masyarakat dalam bentuk layanan sosial bagi yang tidak mampu, program kesehatan masyarakat, penguatan layanan primer, bakti guru, dan berbagai kegiatan sosial lainnya.
Sebagai bagian dari gerakan dakwah, RS Muhammadiyah/Aisyiyah memang tidak sekadar membangun rumah sakit, tetapi juga membangun peradaban.
Ketika rumah sakit lain mengejar branding melalui promosi besar-besaran, RS Muhammadiyah/Aisyiyah membangun mereknya dari hati ke hati, melalui kepercayaan pasien, kebermanfaatan nyata, dan jejak sosial yang mendalam serta bisa dirasakan masyarakat.
Di Jawa Timur, RS Muhammadiyah/Aisyiyah hadir hampir di seluruh kota dan kabupaten. Mereka tidak hadir sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai pilar yang bersinergi dengan pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Jawa Timur.
RS Muhammadiyah/Aisyiyah hadir di Surabaya, Sidoarjo, Kota Mojokerto, Jombang, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Madiun, Ponorogo, Nganjuk, Kota Kediri dan Kabupaten Kediri, Kota Blitar, Kota Malang, Kabupaten Malang, Lumajang, Jember, Kota Probolinggo, hingga Banyuwangi.
RS Muhammadiyah/Aisyiyah telah menjadi bagian dari denyut nadi kesehatan masyarakat. Mereka menjadi andalan para ibu yang hendak melahirkan, para lansia yang membutuhkan pengobatan rutin, hingga anak-anak yang demam di tengah malam.
Saya percaya, di tengah tantangan zaman, rumah sakit yang berakar pada nilai dan misi sosial seperti ini akan terus menjadi pilihan rakyat. Bukan hanya karena harganya yang lebih terjangkau, tetapi juga karena jiwanya yang menyentuh dan berdampak sosial bagi masyarakat.
Masyarakat Jawa Timur memilih RS Muhammadiyah/Aisyiyah bukan karena iklan, melainkan karena pengalaman.
Mereka datang bukan hanya untuk sembuh, tetapi juga untuk mendapatkan ketenangan, penghormatan, dan nilai yang lebih tinggi dari sekadar pelayanan medis.
Itulah alasan mendalam mengapa brand RS Muhammadiyah/Aisyiyah akan terus tumbuh—karena mereka bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga memuliakan. (*)
