Nafsu dan Ambisi: Menyalakan Semangat Hidup, Menjaga Keseimbangan Jiwa

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Dalam dinamika kehidupan manusia, tidak dapat dipisahkan dari dua kekuatan utama yang membentuk arah perjalanan hidupnya: nafsu dan ambisi. Keduanya adalah fitrah yang ditanamkan Allah dalam jiwa manusia, sebagai ujian sekaligus potensi untuk berkembang. Namun tanpa bimbingan iman, keduanya dapat membawa manusia pada kesesatan dan kehancuran batin.

Islam memandang nafsu bukan sebagai musuh mutlak, melainkan sebagai bagian dari fitrah insani yang harus dididik dan dikendalikan. Demikian pula ambisi, tidak dilarang bahkan dapat menjadi energi positif dalam membangun peradaban, selama ia berjalan di atas nilai-nilai keimanan, kejujuran, dan pengabdian kepada Allah dan sesama.

Nafsu dalam Al-Qur’an: Jalan Menuju Ketenangan Jiwa

Allah SWT menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa nafsu memiliki tingkatan:

  1. Nafs Ammarah (jiwa yang memerintah kepada keburukan):

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)

Nafsu ini yang menjadi sumber dari kerakusan, kedengkian, syahwat duniawi yang tak terkontrol.

  1. Nafs Lawwamah (jiwa yang mencela diri):

Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela (diri sendiri).” (QS. Al-Qiyamah: 2)

Ini adalah fase kesadaran spiritual yang mulai menyesali kesalahan dan ingin memperbaiki diri.

  1. Nafs Muthmainnah (jiwa yang tenang):

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai.” (QS. Al-Fajr: 27-28)

Ini adalah puncak dari perjuangan spiritual yang ditandai dengan kepasrahan, keteguhan, dan ketenangan dalam ketaatan kepada Allah.

Nafsu tidak bisa dibunuh, tapi bisa dilatih. Dalam pendekatan tarbiyah ruhaniyah, seperti yang ditekankan dalam gerakan Muhammadiyah melalui gerakan tajdid (pembaharuan), nafsu perlu dikawal dengan ilmu, amal, dan muhasabah diri. Nafsu perlu diarahkan agar menjadi daya dorong menuju perbaikan diri dan masyarakat.

Ambisi dalam Islam: Harapan yang Terikat pada Nilai

Ambisi atau ‘azm dalam Islam bukan hal yang tercela. Bahkan, Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki ghirah (semangat) dalam berbuat kebaikan, memperjuangkan keadilan, dan menegakkan amal ma’ruf nahi munkar. Rasulullah ﷺ adalah contoh agung seorang pemimpin dengan ambisi besar, namun yang dibingkai oleh keikhlasan dan visi kenabian.

Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Ini menunjukkan bahwa ambisi dalam Islam harus berdiri di atas fondasi niat yang lurus dan tawakal kepada Allah.

Namun ambisi dalam Islam bukanlah ambisi duniawi yang membabi buta—yang mengejar jabatan tanpa kompetensi, kekuasaan tanpa akhlak, atau harta tanpa keberkahan. Ambisi yang Islami adalah ambisi yang memberi manfaat. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ahmad)

Dalam konteks kader Muhammadiyah, ambisi untuk menjadi pemimpin, dosen, pebisnis, atau tokoh masyarakat adalah baik selama ia dimaknai sebagai wasilah dakwah dan kontribusi bagi umat, bukan untuk memuaskan ego atau menyaingi sesama.

Muhammadiyah: Mendidik Nafsu, Mengarahkan Ambisi

Gerakan Muhammadiyah sejak awal berdiri membawa misi besar untuk mentransformasi umat melalui ilmu, amal, dan akhlak. Dalam gerakan ini, nafsu pribadi dikendalikan oleh semangat al-ma’un dan tauhid sosial. Ambisi tidak boleh berhenti pada target personal, tapi harus ditujukan untuk kemajuan umat dan pencerahan peradaban.

Itulah sebabnya pendidikan Muhammadiyah sejak dini hingga perguruan tinggi, selalu menekankan keseimbangan antara spiritualitas, intelektualitas, dan integritas. Bahwa ilmu tanpa iman adalah sia-sia. Dan iman tanpa aksi juga kering. Maka, kader Muhammadiyah perlu memahami bahwa perjuangan menaklukkan nafsu dan mengarahkan ambisi adalah bagian dari jihad fi sabilillah yang terus berlangsung.

Dalam momen-momen penting seperti Ramadhan, Qiyamul Lail, atau bahkan kegiatan Baitul Arqam, kader dilatih untuk mengelola diri, melatih kesabaran, dan memperkuat komitmen amal saleh. Semua itu adalah proses pengasahan jiwa agar nafsu tak menjadi tiran, dan ambisi menjadi jalan maslahat.

Dakwah yang Menghidupkan Jiwa

Di tengah dunia yang semakin egoistik, di mana nafsu sering dikemas sebagai “hak pribadi”, dan ambisi sering dirayakan tanpa nilai, kita perlu kembali kepada panduan Islam yang mencerahkan.

Menjadi manusia yang mulia bukan berarti tanpa nafsu dan ambisi, tetapi mampu mengendalikan nafsu dan memurnikan ambisi. Di situlah letak kemuliaan insan yang ditanamkan oleh Islam.

Sebagaimana disebut dalam QS. Asy-Syams (91:9-10):

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.”

Maka tugas kita sebagai kader dan warga Muhammadiyah adalah menghidupkan dakwah yang mendidik jiwa, mengarahkan ambisi pada perjuangan, dan mengendalikan nafsu dalam bingkai iman dan ilmu. Inilah jihad kita hari ini—jihad melawan diri sendiri agar hidup lebih bermakna, dunia menjadi ladang amal, dan akhirat menjadi tempat kembali yang diridhai Allah. (*)

Tinggalkan Balasan

Search