Najasatu Lisan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri

Najasatu lisan, dalam bahasa Arab, secara harfiah berarti kotoran lisan, atau najisnya lisan. Dalam konteks agama IsIam, ungkapan ini merujuk pada perkataan yang buruk, tidak bermanfaat, atau bahkan haram, yang keluar dari lisan seseorang. Menjaga lisan merupakan bagian penting dari ajaran IsIam, karena lisan memiliki potensi besar untuk membawa kebaikan atau pun keburukan.

Najis lisan, yang dimaksud adalah perkataan-perkataan yang kotor, dusta, ghibah, fitnah, namimah (adu domba), mencela, menghina, dan perkataan buruk lainnya.

IsIam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Lisan adalah salah satu anggota tubuh yang paling berpengaruh. Perkataan yang baik dapat membawa kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan perkataan buruk dapat menimbulkan dosa, permusuhan, dan berbagai dampak negatif lainnya.

Terdapat banyak ayat Al Qur’an dan hadis Nabi yang menganjurkan menjaga lisan, di antaranya,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar,”
(QS Al-Ahzab: 70)

Berbicara yang baik atau diam. Rasulullah bersabda,”Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, berkata yang baik atau diam (HR Bukhari dan Muslim)

Bermanfaat, untuk mempertimbangkan sebelum diucapkan.

Menghindari ghibah, fitnah, dan namimah. Perkataan-perkataan ini sangat dilarang dalam IsIam, karena dapat menimbulkan fitnah dan permusuhan.

Membiasakan diri dengan dzikir dan berdoa. Dengan mengingat Allah, dan berdoa, lisan akan terjaga dari perkataan yang buruk.

Dengan demikian, menjaga lisan adalah bagian penting dari ketaatan kepada Allah, dan merupakan cermin dari kebaikan akhlak seorang muslim.

Semoga bermanfaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Search