Ngaji Sambil Rekreasi di Bukit Salam: Fenomena Kajian Ahad Pagi yang Kondang dari PDM Trenggalek

*) Oleh : Noor Hudawan, S.Pd, M.Pd.I
www.majelistabligh.id -

Jika suatu hari Anda menempuh perjalanan dari Tulungagung menuju Trenggalek melalui Jalur Lintas Selatan (JLS), bersiaplah untuk terpesona.

Di sepanjang lintasan yang memeluk garis pantai dan menyusuri perbukitan, Anda akan menemui hamparan tebing indah yang seolah mengajak siapa pun untuk sejenak berhenti dan menyerap keindahan alam.

Di salah satu tikungan perjalanan itu, tepatnya di kawasan Watulimo Bukit Salam, bukan hanya panorama yang memukau yang akan Anda temui, tetapi juga gelombang manusia yang berkumpul dalam satu semangat: menuntut ilmu agama.

Fenomena itu adalah Kajian Ahad Pagi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Trenggalek. Sebuah gerakan dakwah mingguan yang kini menjelma menjadi tabligh akbar akbar yang hidup dan menggairahkan.

Bukan sekadar pengajian rutin, melainkan peristiwa keagamaan yang telah menjadi magnet spiritual sekaligus sosial bagi ribuan warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru Trenggalek dan sekitarnya.

Pada Ahad, 4 Mei 2025 lalu, Bukit Salam menjadi saksi dari ledakan antusiasme jama’ah. Sekitar 6.000 orang hadir memadati area pengajian, jumlah yang jauh melampaui ekspektasi panitia.

Ketua PDM Trenggalek, Drs. H. Wicaksono, M.PdI, dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada para jamaah.

“Kami hanya menyiapkan 3.000 kursi, ternyata yang hadir dua kali lipatnya. Sebagian besar harus lesehan,” ungkapnya, sembari tetap bersyukur atas semangat luar biasa para peserta.

Wicaksono menjelaskan bahwa ide ngaji sambil rekreasi ini lahir dari keresahan akan gejala melemahnya partisipasi jamaah di era modern.

“Jangan sampai jamaah kita menjadi jennate (tinggal nama). Kita perlu wadah yang bukan hanya memberi ilmu, tapi juga menghadirkan kebahagiaan,” tuturnya.

Maka jadilah Bukit Salam bukan hanya sebagai tempat pelarian dari hiruk-pikuk kota, tapi juga oase ruhani yang mempertemukan keindahan ciptaan Tuhan dan kandungan hikmah dalam Al-Qur’an dan sunnah.

Salah satu keunikan Kajian Ahad Pagi ini adalah atmosfer kekeluargaan dan budaya lokal yang kental. Hal itu tercermin dari sambutan Hardianto, Sekretaris Camat Watulimo, yang menyuarakan semangat kolaboratif dengan slogan “Kondang” akronim dari Kondusif, Andalan, dan Ngangeni.

Kata ngangeni (bikin kangen) menjadi kata kunci yang menggambarkan suasana acara ini: siapa pun yang pernah datang, pasti ingin kembali. Suasana damai, materi kajian yang berbobot, dan keramahan panitia menciptakan pengalaman spiritual yang membekas di hati.

Ngaji Sambil Rekreasi di Bukit Salam: Fenomena Kajian Ahad Pagi yang Kondang dari PDM Trenggalek
foto: ist

Muhammadiyah, Tuan Rumah Solusi Sosial

Saya mewakili Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, dibri kesempatan menyamaikan tausiyah dalam acara tersebut. Saya menegaskan pentingnya peran Muhammadiyah dalam membangun bangsa, khususnya di bidang ketahanan pangan dan kemandirian umat.

Saya mendorong jika semangat lokal Trenggalek dalam bidang pertanian dengan program nasional GERINA (Gerakan Indonesia Menanam) juga perlu didukung oleh dai nasional, Dr. Ustaz Adi Hidayat.

Trenggalek, di mata saya, punya kekuatan di sektor pertanian. Maka Muhammadiyah di sini harus menjadi pelopor, bukan hanya dalam dakwah, tapi juga dalam ketahanan pangan. Jika ada persoalan sosial di Watulimo, serahkan pada Muhammadiyah. Insya Allah amanah.

Tak lupa, saya juga mengingatkan jemaah agar tidak lupa bersyukur. Kita mungkin tidak punya semua hal yang kita inginkan, tapi kita diberi banyak hal yang kita butuhkan. Itu cukup untuk jadi alasan bersyukur setiap hari.

Ngaji Sambil Rekreasi di Bukit Salam: Fenomena Kajian Ahad Pagi yang Kondang dari PDM Trenggalek
Paduan suara yang digawangi para aktivis Muhammadiyah. foto: ist

Dari Tradisi Menuju Gerakan Kultural

Kajian Ahad Pagi di Bukit Salam bukan sekadar aktivitas keagamaan. Ia adalah gerakan kultural yang memadukan nilai religiusitas, lokalitas, dan ekologi.

Para peserta tak hanya pulang membawa catatan kajian, tetapi juga membawa suasana batin yang baru: segar, ringan, dan penuh inspirasi.

Dari sini tampak bahwa PDM Trenggalek tak sekadar berdakwah, tetapi merancang pengalaman spiritual yang menyentuh semua indra dan menggerakkan nurani.

Kajian ini menjadi bukti bahwa dakwah bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan menyentuh. Bahwa agama tak harus disampaikan dalam ruang sempit dan suasana kaku.

Ia bisa hidup dalam ruang terbuka, di antara semilir angin bukit dan kicau burung, sembari lesehan bersama ribuan orang dalam satu cita.

Fenomena Kajian Ahad Pagi di Bukit Salam adalah simbol bahwa gerakan Islam kultural tak mati. Ia tumbuh, berkembang, dan terus menemukan cara baru untuk tetap menyapa umatnya.

Trenggalek telah memulainya — mengubah rutinitas menjadi spirit, mengemas dakwah dalam bentuk yang menyentuh dan membahagiakan.

Maka, bila suatu saat Anda melintasi Watulimo di pagi Ahad, sempatkanlah singgah. Bukan hanya karena pemandangannya, tapi karena ruh yang hidup di sana — ruh dari umat yang kondang karena semangat, komitmen, dan cinta pada ilmu serta kebersamaan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search