Niat Menentukan Keselamatan Seseorang

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Niat secara bahasa berarti al-qashd (keinginan). Sedangkan niat secara istilah syar’i, yang dimaksud adalah berazam (bertedak) mengerjakan suatu ibadah ikhlas karena Allah, letak niat dalam batin (hati). Niat merupakan syarat sah diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]

Setiap amalan  ditentukan niat. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang ia niatkan. Balasannya pahala berlimpah  ketika seseorang berniat ikhlas karena Allah. Sedangkan kalimat “Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”, ini dilihat dari sudut siapakah amalan tersebut ditujukan, ikhlas lillah ataukah ditujukan kepada selainnya.

Ikhlas merupakan inti dari setiap amal yang bernilai di sisi Allah SWT. Tanpa keikhlasan, sebaik dan sebanyak apapun perbuatan seseorang tidak akan diterima oleh Allah. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan dalil tentang ikhlas beramal menjadi sangat penting bagi setiap muslim. Islam tidak hanya menilai tindakan lahiriah, tetapi juga menilai niat dan tujuan yang tersembunyi di dalam hati. Dalam artikel ini, kita akan membahas empat dalil tentang ikhlas beramal yang menegaskan betapa pentingnya niat dalam menentukan nilai suatu amal di sisi Allah SWT.

Hadits ini merupakan separuh dari ajaran Islam. Imam Syafi’i bahkan mengatakan bahwa hadits “Innamal a’malu bin niyyat” mencakup sepertiga ilmu agama. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh dalil tentang ikhlas beramal terhadap seluruh aspek kehidupan seorang muslim. Segala amal ibadah, mulai dari shalat, puasa, hingga sedekah, akan bernilai hanya jika dikerjakan dengan niat yang murni.

Hadis berikut mengabarkan tentang amalan yang besar, utama dan bermanfaat tetapi mendapatkan balasan   kerugian besar berupa siksa neraka.

Suatu hari ketika Syufay al-Ashbahani memasuki kota Madinah, tiba-tiba dia mendapati seseorang yang sedang dikerumuni orang banyak, maka dia pun bertanya,

“Siapakah orang ini?”

Mereka menjawab, “Ini adalah Abu Hurairah sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Maka Syufay pun mendekat hingga dia duduk di hadapan Abu Hurairah, yang saat itu dia sedang menyampaikan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para hadirin. Ketika selesai dan hadirin telah meninggalkan tempat, Syufay berkata, “Sebutkanlah untukku sebuah hadits yang engkau dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat engkau hafal dan engkau pahami.”

Abu Hurairah menjawab, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.” Saat Abu Hurairah akan menyebutkan hadits itu tiba-tiba beliau tidak sadarkan diri untuk beberapa saat.

Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan amat aku pahami.”

Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat.

Ketika siuman dia kembali berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi untuk beberapa saat.

Ketika siuman dia mengusap wajahnya dan berkata, “Baiklah, akan kuceritakan padamu suatu hadits yang aku dengar langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ini, saat itu kami hanya berdua dengan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Tiba-tiba Abu Hurairah tidak sadarkan diri lagi dalam waktu yang cukup panjang, hingga Syafi’i pun menyandarkan Abu Hurairah ke tubuhnya, sampai beliau siuman.

Ketika sadar beliau berkata, “Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku:

إن الله تبارك و تعالى إذا كان يوم القيامة نزل إلى العباد ليقضي بينهم و كل أمة جاثية فأول من يدعو به رجل جمع القرآن ورجل يقتل في سبيل الله ورجل كثير مال فيقول للقارىء: ألم أعلمك ما أنزلت على رسولي ؟ قال: بلى يا رب, قال: فماذا عملت فيما علمت؟, قال: كنت أقوم به أثناء الليل و آناء النهار, فيقول الله له: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, ويقول الله: بل أردت أن يقال: فلان قارىء فقد قيل. ويؤتى بصاحب المال فيقول الله: ألم أوسع عليك حتى لم أدعك تحتاج إلى أحد؟, قال: بلى, قال: فماذا عملت فيما آتيتك؟, قال: كنت أصل الرحم و أتصدق, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, فيقول الله: بل أردت أن يقال فلان جواد فقد قيل ذاك. ويؤتى بالذي قتل في سبيل الله فيقال له: فيم قتلت؟, فيقول: أمرت بالجهاد في سبيلك فقاتلت حتى قتلت, فيقول الله: كذبت, وتقول الملائكة: كذبت, و يقول الله عز و جل له: بل أردت أن يقال فلان جريء فقد قيل ذلك, ثم ضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم على ركبتي فقال: يا أبا هريرة أولئك الثلاثة أول خلق الله تسعر بهم النار يوم القيامة

“Sesungguhnya pada hari kiamat nanti Allah subhanahu wa ta’ala akan turun kepada para hamba-Nya untuk mengadili mereka, dan saat itu masing-masing dari mereka dalam keadaan berlutut.

Lantas yang pertama kali dipanggil oleh-Nya tiga orang:

Seorang yang rajin membaca Al Quran,

orang yang berperang di jalan Allah dan

orang yang hartanya banyak.

Maka Allah pun berkata kepada si Qori’, ‘

Bukankah Aku telah mengajarkan padamu apa yang telah Aku turunkan kepada Rasul-Ku?’

Si Qori’ menjawab, ‘Benar ya Allah.’

Allah kembali bertanya, ‘Lantas apa yang telah engkau amalkan dengan ilmu yang engkau miliki?’

Si Qori menjawab, ‘Aku pergunakan ayat-ayat Al Quran yang kupunyai untuk dibaca dalam shalat di siang maupun malam hari,’

serta merta Allah berkata, ‘Engkau telah berdusta!’

Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lantas Allah berfirman, ‘Akan tetapi engkau membaca Al Quran agar supaya engkau disebut-sebut qori’! Dan pujian itu telah engkau dapatkan di dunia.’

Kemudian didatangkanlah seorang yang kaya raya, lantas Allah berfirman padanya,

‘Bukankah telah Kuluaskan rizkimu hingga engkau tidak lagi membutuhkan kepada seseorang?

” Dia menyahut, ‘Betul.’ Allah kembali bertanya,

‘Lantas engkau gunakan untuk apa harta yang telah Kuberikan padamu?’

Si kaya menjawab, ‘Harta itu aku gunakan untuk silaturrahmi dan bersedekah.’

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’

Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetapi engkau ingin agar dikatakan sebagai orang yang dermawan! Dan pujian itu telah engkau dapatkan di dunia.’

Lantas didatangkan orang yang berperang di jalan Allah, kemudian dikatakan padanya, ‘

Apa tujuanmu berperang?’

Orang itu menjawab, ‘Karena Engkau memerintahkan untuk berjihad di jalan-Mu, maka aku pun berperang hingga aku terbunuh di medan perang.’

Serta merta Allah berkata, ‘Engkau dusta!’

Para malaikat juga berkata, ‘Engkau dusta!’

Lalu Allah berfirman, ‘Akan tetap engkau ingin agar dikatakan engkau adalah si pemberani! Dan pujian itu telah engkau dapatkan di dunia.’

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk lututku sambil berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, mereka bertiga adalah makhluk Allah yang pertama kali yang dikobarkan dengannya api neraka di hari kiamat.”

(HR. Ibnu Khuzaimah dalam kitab Shahih-nya IV:115, no: 2482, Ibnu Hibban juga dalam kitab Shahih-nya II:135, no: 408. Al-Hakim dalam al-Mustadrak 1/415 berkata, “Isnadnya shahih” dan disepakati oleh adz-Dzahaby dan Al Albani).

Tinggalkan Balasan

Search