Optimis Sebagai Cermin Keimanan

www.majelistabligh.id -

*Oleh: Suko Wahyudi
PRM Timuran Yogyakarta

Kehidupan manusia di dunia ini tak pernah sepi dari ujian dan cobaan. Dalam setiap denyut waktu, selalu ada tantangan yang menuntut kekuatan jiwa dan keteguhan hati. Oleh karena itu, dalam perspektif ajaran Islam, dibutuhkan pribadi yang tangguh, tidak mudah menyerah, dan senantiasa menyemai optimisme sebagai bagian dari laku spiritualnya.

Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (Al-Baqarah [2]: 155).

Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang shaleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran) (Al-A’raf [7]: 168).

Optimisme, dalam pengertian yang hakiki, bukanlah angan-angan kosong tanpa dasar. Ia tumbuh dari keyakinan mendalam bahwa pertolongan Allah senantiasa hadir bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan berjuang. Seorang mukmin tak sepatutnya membiarkan dirinya tenggelam dalam keputusasaan, sebab dalam setiap kesulitan, tersimpan benih harapan.

Al-Qur’an menegaskan bahwa keputusasaan merupakan sikap yang jauh dari sifat-sifat orang beriman. Dalam surat Az-Zumar ayat 53, Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa.” Ayat ini menjadi penegas bahwa optimisme adalah cermin dari iman yang hidup.

Optimisme tidak tumbuh secara spontan, melainkan merupakan hasil dari proses internalisasi nilai-nilai positif yang terus-menerus diasah dalam ruang batin dan praktik keseharian. Ia membutuhkan kesadaran untuk melatih pikiran agar senantiasa berpihak pada harapan, tindakan yang berpijak pada kebaikan, serta karakter yang dibentuk oleh kesabaran.

Dalam praktik hidup sehari-hari, ada sejumlah langkah yang dapat dijadikan upaya untuk menumbuhkan optimisme. Yang pertama dan utama adalah membangun rasa percaya diri, yakni menyadari bahwa setiap manusia diciptakan dengan potensi dan kelebihan masing-masing yang menjadi bekal dalam menghadapi dunia.

sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (At-Tin [95]: 4)

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al-Isra’ [17]: 70)

Membiasakan diri untuk melihat sisi terang dari setiap peristiwa, tak terkecuali dalam hal-hal yang tampaknya menyakitkan, menjadi salah satu sikap yang mendewasakan jiwa. Seorang mukmin diajarkan untuk mencari hikmah dari setiap kejadian, karena pada dasarnya tidak ada yang sia-sia dalam skenario Ilahi.

Berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan juga merupakan langkah penting. Evaluasi diri memang diperlukan, namun membelenggu batin dengan rasa bersalah yang berkepanjangan justru akan menggerogoti semangat dan menutup peluang perubahan yang Allah bukakan.

Fokus pada apa yang sedang diupayakan saat ini adalah laku yang sejalan dengan etika spiritual Islam. Terlalu menyesali masa lalu atau mencemaskan masa depan akan membuat seseorang kehilangan kekuatan untuk hidup sepenuhnya di waktu sekarang, padahal di sinilah letak aktualisasi iman dan ikhtiar.

Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, seorang mukmin menyerahkan hasilnya kepada Allah, meyakini bahwa segala yang terjadi adalah bagian dari kehendak dan kebijaksanaan-Nya yang tak terbantahkan.

Lingkungan sosial yang sehat dan penuh semangat positif turut membentuk daya juang seseorang. Pergaulan yang baik akan memperkuat langkah, menguatkan harapan, serta menjadi ruang pantulan semangat saat diri mulai diliputi keraguan dan kelelahan batin.

Dalam surat Ali Imran ayat 139, Allah SWT menyampaikan sabda-Nya yang agung: “Dan janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” Ayat ini merupakan deklarasi keagungan spiritual bagi jiwa-jiwa yang sedang diuji.

Ayat tersebut menegaskan bahwa iman tidak hanya menjadi pelita dalam kesendirian, tetapi juga kekuatan untuk bangkit dalam keterpurukan. Optimisme lahir dari iman yang kokoh, yang percaya bahwa kemenangan bukanlah milik mereka yang paling kuat, melainkan milik mereka yang paling sabar dan percaya.

“Ketahuilah, bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, jalan keluar bersama kesulitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (HR. Muslim)

Kisah-kisah para nabi merupakan teladan nyata dari sikap optimis yang dibingkai dalam iman. Nabi Ayub AS, yang diuji dengan penyakit dan kehilangan, tetap bersyukur dalam doanya. Nabi Yusuf AS, yang dijatuhkan ke dasar sumur dan dipenjara, tetap yakin akan keadilan Allah. Inilah potret spiritual dari optimisme yang hidup.

Rasulullah Muhammad SaW pun menghadapi berbagai rintangan dalam menyebarkan dakwah Islam. Namun, beliau tidak pernah goyah. Beliau adalah pribadi yang penuh harapan dan keyakinan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya, meskipun harus melalui jalan yang panjang dan terjal.

Dalam surat Al-Insyirah ayat 6, Allah SwT berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Ayat ini bukan sekadar penghibur jiwa, melainkan peta spiritual yang membimbing seorang mukmin untuk tidak berhenti melangkah, meski dunia tampak gelap.

Optimisme seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas seorang mukmin. Ia bukan sekadar sikap mental, tetapi manifestasi iman yang membentuk karakter penuh harapan, produktif dalam amal, dan sabar dalam ujian.

Di tengah zaman yang penuh ketidakpastian ini, dengan berbagai krisis, baik moral, ekonomi, maupun sosial, optimisme menjadi modal penting untuk bertahan dan memberi makna. Mereka yang berpikir positif dan bersandar pada iman, akan lebih kuat dalam menghadapi guncangan zaman.

Maka, mari kita tumbuhkan optimisme dalam setiap helaan napas kehidupan. Selama masih ada keimanan dalam dada, selama itu pula harapan akan tetap menyala. Sebab, bersama Allah SwT, tak ada kata mustahil. Optimisme bukan hanya pilihan, melainkan bagian dari iman yang menggerakkan kehidupan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search