Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus melesat dari tahun ke tahun. Diprediksi antara tahun 2030-2035, dunia berada pada fase 2 perkembangan AI, yakni generasi Artificial Super Intelligence (ASI). Pada fase ini, AI sudah melampaui kecerdasan manusia secara eksponensial (superintelligence).
Pada fase ini, semakin berat tugas Muhammadiyah untuk mengarahkan umat ke jalan yang benar. Sebab AI tidak hanya semakin dipercaya, tetapi juga menjadi rujukan agama yang dianggap sebuah kebenaran dan Ilahia. Kondisi yang sangat memprihatinkan.
Di fase ini pula, Artificial Super Intelligence (ASI) semakin merambah ke dunia sains medis, energi, dan robotika canggih. Pada posisi ini, generasi mulai meragukan peran agama karena AI mampu menjawab masalah penderitaan, penyakit, dan kemiskinan lebih efektif daripada doa atau ritual agama.
Lantas, bagaimana Muhammadiyah mengambil peran pada fase ini? Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), baik di bidang Pendidikan dan Kesehatan harus bersaing langsung dengan platform AI global, yang memberikan diagnosis medis dan pendidikan personal dengan biaya mendekati nol.
Akibatnya, posisi AUM dengan model usaha jasa pendidikan dan kesehatan akan terancam. Orang tidak lagi berpikir mendapatkan skill dari bangku sekolah/kuliah bertahun-tahun. Sebab dengan AI, bisa mengajarkan skill dalam hitungan minggu. Orang tidak perlu pergi ke Rumah Sakit PKU jika robot bedah di rumah lebih akurat.
Yang lebih parah lagi, akan muncul paham sekuler berbasis data, bahwa AI menempatkan etika agama sebagai “bias kuno” yang menghambat kemajuan.
Strategi dan Peran Muhammadiyah
Pada posisi ini, Muhammdiyah harus cepat mengambil peran sebagai penjaga moral. Kurikulum sekolah tidak hanya membuat siswa menjadi pintar, sebab mereka sudah mendapatkan ilmu dari AI. Tetapi harus bertransformasi menjadi pendidikan karakter, membangun logika, dan kolaborasi. Sedangkan Rumah Sakit berubah menjadi Holistic Healing Center (sentuhan manusiawi yang tidak dimiliki robot).
Majelis Tarjih dituntut menerbitkan panduan etis global tentang hak cipta AI, batasan penggunaan robot dalam ibadah, dan etika algoritma.
Ketika dunia serba virtual, pertemuan fisik (pengajian, kemah) menjadi barang mewah dan healing psikologis. Ranting menjadi “Oasis Humanis”.
Saat ini, kekuatan terbesar perusahaan teknologi (Google, Meta, GoTo) adalah Data. Muhammadiyah memiliki jutaan anggota dan amal usaha, tapi datanya masih terpecah-pecah. Tanpa data terpusat, Muhammadiyah tidak bisa memprediksi tren kesehatan jamaah, tidak bisa memetakan potensi ekonomi, dan kalah cepat dalam merespons isu.

Karena itu, penyatuan data harus menjadi prioritas. Pimpinan, anggota dan simpatisan Muhammadiyah dari pusat hingga ranting cukup mengakses Satu Identitas Digital yang menghubungkan seluruh layanan AUM. Orang tua murid sekolah Muhammadiyah otomatis terhubung dengan layanan kesehatan RS PKU, dan pembayaran zakat Lazismu dalam satu aplikasi.
Muhammadiyah juga harus membangun server mandiri untuk menjaga kedaulatan data. Jangan biarkan data perilaku warga Muhammadiyah “diambil” gratis oleh platform asing untuk melatih AI mereka. Data ini adalah aset ekonomi baru untuk membiayai dakwah.
Tantangan Majelis Tarjih
Majelis Tarjih biasanya merespons masalah yang sudah terjadi. Di era Artificial Super Intelligence, majelis tarjih harus merespon masalah sebelum itu menjadi krisis. Pertanyaan-pertanyaan seputar ketarjihan modern akan muncul. Bolehkah manusia menikah dengan robot? Sahkah salat diimami Manusia AI? Apa hukum memodifikasi genetik bayi agar cerdas? Dan masih banyak pertanyaan lagi yang sama sekali belum terpikir saat ini.
Majelis tarjih nantinya isinya bukan hanya ulama, ahli agama, tetapi juga harus didukung Neuroscientist, Ahli AI, Filsuf, dan Ahli Etika. Tugasnya membuat simulasi fikih untuk skenario masa depan.
Dalam sejarah dunia, orang awam berpikir tidak mungkin manusia bisa terbang. Tetapi orang pintar akan berusaha menciptakan pesawat agar manusia bisa terbang. Untuk soal perkembangan AI, kita jangan puas menjadi orang awam, agar tidak ketinggalan. (*)
