Pakar Hukum Internasional UMSURA: Konflik AS-Israel-Iran Bisa Memicu Perang Dunia III

Salah satu wilayah di Iran yang dibombardir rudal AS dan Israel. (bbc)
www.majelistabligh.id -

Pakar Hukum Internasional dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), Satria Unggul Wicaksana, menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memicu krisis energi global hingga membuka kemungkinan terjadinya perang dunia.

Menurut Satria, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terjadi di tengah proses perundingan damai yang berlangsung di Jenewa dan Wina. Serangan tersebut diawali dengan operasi militer di Teheran dan kemudian dibalas oleh Iran dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, seperti di Kuwait, Qatar, Riyadh, dan Bahrain.

Dekan Fakultas Hukum UMSURA itu menyebut situasi tersebut menunjukkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan bagi perdamaian dan keamanan internasional.

“Kita tentu memahami bahwa dampak dari perang itu luar biasa besar. Masyarakat dunia sangat terpukul dan tentu tidak ingin kembali ke dalam situasi perang dengan eskalasi besar,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Satria menjelaskan bahwa setelah Perang Dunia II, masyarakat internasional menyepakati prinsip menjaga perdamaian melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UN Charter, khususnya Pasal 2 ayat 3 dan Pasal 2 ayat 7, setiap negara diwajibkan menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang dapat mengancam integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.

All states shall refrain from the use of force yang mengganggu territorial integrity and independence suatu negara,” jelasnya.

Ia juga menilai bahwa serangan yang terjadi di tengah perundingan terkait isu non-proliferation of nuclear weapons atau larangan pengembangan senjata nuklir dapat merusak proses diplomasi internasional.

Satria menambahkan bahwa tindakan militer Israel di luar wilayahnya bukanlah yang pertama kali terjadi. Ia menyinggung serangan Israel ke wilayah Palestina, khususnya di Gaza Strip dan Rafah, yang menurutnya telah menimbulkan kehancuran besar dan memunculkan tuduhan kejahatan perang hingga genosida.

Potensi Perang Dunia Ketiga

Satria menilai eskalasi konflik ini berpotensi memicu konflik global yang lebih luas. Menurutnya, Iran tidak berdiri sendiri karena memiliki hubungan strategis dengan sejumlah negara seperti Rusia, Tiongkok, dan Korea Utara.

Keterlibatan negara-negara tersebut, kata dia, dapat memperluas konflik menjadi perang berskala global. Apalagi, sejumlah kawasan lain juga tengah mengalami ketegangan geopolitik, seperti konflik antara Rusia dan Ukraina, ketegangan di Selat Taiwan, serta konflik di Laut China Selatan.

“Ini bisa membawa situasi perang menjadi titik nadir. Peluang terjadinya perang dunia ketiga sangat terbuka, dan ini sangat merugikan umat manusia,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahaya penggunaan senjata nuklir dalam konflik global. Menurutnya, dampak perang nuklir tidak hanya menghancurkan manusia, tetapi juga dapat memicu fenomena nuclear winter yang mengancam keberlangsungan kehidupan di bumi.

Dalam jangka pendek, Satria menilai konflik tersebut berpotensi memicu krisis energi global. Pasalnya, jalur distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia melewati Selat Hormuz yang berada di bawah pengaruh Iran.

Jika Iran melakukan blokade terhadap jalur tersebut, dampaknya akan sangat besar terhadap pasokan energi dunia. Selain itu, jalur perdagangan global juga melewati Terusan Suez di Mesir. Menurutnya, gangguan terhadap dua jalur strategis ini dapat melumpuhkan lebih dari 30 persen perdagangan dunia.

“Ini bukan hanya soal perang, tetapi juga dapat melumpuhkan ekonomi dan perdagangan global serta memicu krisis ekonomi dunia yang lebih masif,” jelasnya.

Satria juga menyinggung inisiatif perdamaian yang sempat digagas Amerika Serikat melalui board of peace. Namun menurutnya, langkah tersebut menjadi kontradiktif setelah serangan terhadap Iran justru terjadi beberapa hari setelah kesepakatan ditandatangani di Washington, D.C.

Satria pun mengajak para pemimpin dunia untuk menahan diri dari penggunaan kekuatan militer, terutama yang melibatkan senjata pemusnah massal. “Kita berharap para pemimpin dunia menahan diri. Karena dampak perang tidak hanya dirasakan negara yang terlibat langsung, tetapi juga seluruh masyarakat dunia,” pungkasnya. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search