Sebuah unggahan dari akun Instagram resmi @smkpgrilubuklinggau menjadi perbincangan hangat di dunia maya. Dalam unggahan tersebut, pihak sekolah memberikan ucapan selamat dan apresiasi kepada dua alumninya yang telah berhasil mendapatkan pekerjaan di sektor ritel.
Unggahan ini sontak menjadi viral dan menuai berbagai pujian dari warganet. Banyak dari mereka yang memuji langkah sekolah tersebut yang secara terbuka menghargai jerih payah dan pencapaian lulusannya, tanpa memandang tinggi atau rendahnya jenis pekerjaan yang dijalani.
SMK PGRI Lubuk Linggau menegaskan bahwa keberhasilan dua alumninya tersebut adalah wujud nyata dari implementasi pendidikan vokasi yang mereka jalankan selama ini.
Pendidikan kejuruan, menurut mereka, memang dirancang untuk mempersiapkan siswa agar siap kerja begitu mereka menyelesaikan pendidikan.
Bukan hanya sekadar mengejar ijazah, tetapi membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia industri.
Menanggapi fenomena ini, Achmad Hidayatullah, Ph.D, pakar pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), memberikan apresiasi terhadap langkah progresif yang dilakukan oleh pihak sekolah.
Dia menilai bahwa di tengah realitas sosial-ekonomi yang menantang saat ini, di mana banyak lulusan kesulitan mendapatkan pekerjaan, langkah SMK PGRI Lubuk Linggau patut diapresiasi karena menunjukkan pendekatan yang humanis dan realistis dalam dunia pendidikan.
“Apa yang dilakukan oleh SMK PGRI Lubuk Linggau dengan memberikan ucapan selamat dan penghargaan kepada siswa yang diterima bekerja di sektor ritel menunjukkan bahwa sekolah memiliki nilai-nilai humanistik. Sekolah ini tidak terjebak dalam pandangan sempit bahwa pekerjaan yang baik adalah pekerjaan di balik meja kantor, berdasi, di ruangan ber-AC, dan bergaji besar,” ujar Achmad Hidayatullah, yang karib disapa Dayat, pada Kamis (12/6/2025).
Lebih jauh, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendididikan (FKIP) itu menegaskan bahwa sekolah sejatinya merupakan tempat untuk membentuk karakter dan pola pikir siswa.
Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk membangun pemahaman bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya dilihat dari jabatan atau popularitas pekerjaan, tetapi juga dari nilai-nilai seperti kontribusi terhadap masyarakat, semangat kerja keras, dan kejujuran yang ditunjukkan dalam menjalani profesi apapun.
“Sekolah harus menanamkan beliefs atau keyakinan kepada siswa bahwa semua pekerjaan yang dilakukan secara halal dan produktif layak dijalani, dihargai, dan dibanggakan,” imbuhnya.
Dalam pandangannya, Dayat juga mengaitkan langkah apresiatif dari sekolah tersebut dengan teori Social Cognitive yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Menurut teori ini, manusia belajar tidak hanya melalui pengalaman langsung, tetapi juga dengan mengamati perilaku orang lain.
“Ketika sekolah memberi penghargaan kepada alumni yang bekerja di sektor ritel, itu menjadi contoh nyata bagi siswa lainnya. Mereka belajar bahwa pekerjaan, sekecil apa pun kelihatannya, memiliki nilai sosial yang patut dihormati. Ini akan menciptakan atmosfer positif di lingkungan sekolah, di mana setiap bentuk kerja keras dihargai,” jelasnya.
Dayat meyakini bahwa apresiasi semacam ini akan mendorong siswa untuk membentuk pola pikir yang sehat terhadap dunia kerja.
Mereka tidak lagi semata-mata mengejar pekerjaan bergengsi hanya karena tekanan sosial atau gengsi pribadi, tetapi lebih fokus pada bagaimana mereka bisa memberikan makna dan kontribusi melalui profesi yang mereka pilih.
“Selain itu, sikap sekolah seperti ini juga membantu membangun sistem nilai internal dalam diri siswa. Mereka akan menginternalisasi pentingnya kejujuran dan kerja keras, bukan hanya sebagai tuntutan eksternal, tetapi sebagai prinsip hidup yang diperoleh dari pengalaman positif,” pungkasnya.
Dengan adanya apresiasi seperti yang dilakukan oleh SMK PGRI Lubuk Linggau, dunia pendidikan di Indonesia mendapat contoh nyata tentang bagaimana menghargai keberhasilan siswa secara inklusif dan membumi.
Ini adalah langkah kecil yang berdampak besar dalam membentuk generasi muda yang tangguh, mandiri, dan tidak terjebak pada standar kesuksesan semu yang kerap mendominasi narasi masyarakat. (*wh)
