Setiap kali sebuah bom dijatuhkan di Gaza, dunia terpecah: sebagian marah, sebagian diam, sebagian hanya menggulir layar ponselnya.
Tapi bagi rakyat Palestina, itu bukan sekadar berita. Itu hidup mereka. Rumah yang hancur, anak-anak yang ketakutan, keluarga yang tak sempat mengucap selamat tinggal.
Israel, sejak lama, melakukan pelanggaran yang tak lagi bisa ditutupi istilah “pertahanan diri”.
Rumah-rumah dibuldoser, sekolah dibom, rumah sakit diserang. Bahkan tempat ibadah pun tidak luput.
Hukum internasional dilanggar terang-terangan, tapi tak ada konsekuensi. Seolah-olah nyawa orang Palestina punya harga yang lebih murah dari manusia lainnya.
Apa yang terjadi di Palestina bukan konflik biasa. Ini adalah penindasan yang sistematis.
Sejak puluhan tahun, mereka dipaksa hidup di bawah penjajahan modern. Tidak hanya secara fisik, tapi juga psikologis.
Anak-anak Palestina tumbuh dengan suara drone di atas kepala, trauma yang tak sempat sembuh, dan masa depan yang direbut sejak kecil.
Dalam Islam, membela yang tertindas adalah kewajiban.
Allah SWT berfirman:
“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya…’” (QS. An-Nisa: 75)
Itulah suara yang selama ini tak didengar dunia. Suara anak-anak yang tidak tahu apa itu perang, tapi dipaksa hidup di tengah puing.
Rasulullah saw juga bersabda:
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Thabrani)
Dalam sudut pandang psikologi keadaan ini sebagai trauma kolektif—rasa sakit yang menumpuk di satu bangsa, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mereka belajar tersenyum di tengah puing-puing, tapi luka itu ada. Diam-diam. Dalam.
Dunia sering bicara soal HAM. Tapi ketika korban bukan dari negara kuat, dunia mendadak lupa.
Palestina berdiri bukan hanya sebagai wilayah yang dijajah, tapi sebagai cermin: seberapa adil sebenarnya peradaban yang kita banggakan ini? (*)
