Parade Tausiyah di Jetbus: Perjalanan Menuju Raker Majelis Tabligh PWM Jatim di Semarang

www.majelistabligh.id -

Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim, Ustaz Abdul Basit, juga turut memberikan tausiyah tentang peneguhan dakwah tauhid.

Menurutnya, setiap mubaligh memiliki tanggung jawab besar untuk menyampaikan pesan tauhid dengan jelas dan tidak bias.

“Dakwah kita harus konsisten mengajarkan tauhid karena itulah inti ajaran Islam,” ujarnya dengan penuh semangat.

Kiai Najih sempat mengutip pernyataan Sa’ad Ibrahim, Ketua PP Muhammadiyah, bahwa Muhammadiyah mengajarkan tauhid tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga lewat rumah sakit, panti asuhan, sekolah, dan perguruan tinggi.

“Rezeki yang kita peroleh harus dimanfaatkan untuk dakwah. Oleh karena itu, infak, sedekah, dan zakat harus menjadi bagian penting dari kehidupan kita,” ungkapnya.

Parade Tausiyah di Jet Bus: Perjalanan Menuju Raker Majelis Tabligh PWM Jatim di Semarang
KH Yoyon Mudjiono (kiri). foto: majelistabligh.id

Sementara itu, KH. Yoyon Mudjiono, mubaligh senior Majelis Tabligh, membagikan tips praktis dalam menguasai panggung saat berdakwah.

“Saat berdiri di depan jamaah, sapulah pandangan ke seluruh ruangan sebelum memulai ceramah. Sentuhlah punggung jamaah yang baru datang untuk mencairkan suasana, serta jangan menatap langsung di antara kedua mata audiens,” jelasnya.

Ia juga menambahkan, “Terakhir, jangan lupa menunggu audiens menjawab salam dengan tuntas sebelum meninggalkan panggung atau mimbar.”

Suasana dalam bus semakin hidup dengan antusiasme para mubaligh yang saling berbagi pengalaman.

Diskusi dan kultum ini tidak hanya mempererat kebersamaan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi para peserta perjalanan.

Selain tausiyah dari para mubaligh, diskusi menarik juga muncul terkait bagaimana Muhammadiyah mengimplementasikan dakwah tauhid dalam berbagai sektor kehidupan.

Tidak ketinggalan, KH Musyafak dalam tausiyahnya berbagi pengalaman tentang fenomena di Mesir yang menurutnya perlu menjadi renungan.

“Di Mesir, ada dua hal yang cukup kontras. Pertama, banyak sampah berserakan di berbagai tempat menuju kota. Kedua, di makam Imam Syafi’i terdapat tumpukan uang yang dilemparkan masyarakat untuk mencari berkah.

Hal ini mengingatkan kita bahwa kebersihan dan pemahaman yang benar tentang keberkahan harus menjadi perhatian dalam dakwah kita,” paparnya.

Tinggalkan Balasan

Search