Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Wiyung turut ambil bagian dalam pelaksanaan Kajian Ramadan 1447 H yang digelar serentak oleh seluruh PCA se-Kota Surabaya, Ahad, (22/2/2026). Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 07.30 WIB hingga 09.00 WIB di Masjid At-Taqwa, Jalan Mastrip No. 174 Surabaya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan ruhani dan penguatan ideologi organisasi dalam bulan suci Ramadan ini. Secara serentak, masing-masing PCA di Kota Surabaya menyelenggarakan kajian di wilayahnya sebagai bentuk sinergi dan soliditas gerakan.
Peserta kajian terdiri atas Pimpinan Harian PCA Wiyung, Badan Pembantu Pimpinan (BPP), Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah se-Cabang Wiyung, Nasyiatul ‘Aisyiyah, serta guru dan karyawan KB TK ‘Aisyiyah 31. Kehadiran berbagai unsur ini menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat peran ‘Aisyiyah sebagai gerakan dakwah dan kaderisasi.
Mengusung tema “Kajian Ramadan 1447 H : Tegaskan Keluarga sebagai Pilar Utama Kaderisasi Muhammadiyah–‘Aisyiyah”, kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Majelis Tabligh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Surabaya, Drg. Sri Hidayati. Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya keteladanan orang tua dalam aktivitas persyarikatan. Menurutnya, kebiasaan orang tua yang aktif mengikuti kegiatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah akan menjadi contoh nyata bagi anak-anak.
Ia memperkenalkan istilah “kader ngintil”, yakni anak-anak yang sejak dini terbiasa ikut serta dalam kegiatan persyarikatan. Dengan membiasakan anak hadir dan terlibat, nilai-nilai perjuangan akan tertanam secara alami.
“Estafet perjuangan tidak bisa dilepaskan dari pembiasaan sejak kecil. Anak-anak yang tumbuh dalam atmosfer dakwah akan lebih mudah melanjutkan perjuangan,” ungkapnya.
Antusiasme peserta terlihat dari beragam respons dan pertanyaan yang muncul selama sesi diskusi. Dialog berlangsung interaktif dan hangat. Bahkan, karena latar belakang pemateri sebagai dokter gigi, beberapa peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi terkait cara merawat gigi yang bermasalah. Suasana kajian pun terasa cair namun tetap sarat makna.
Ketua PCA Wiyung, Lunik Lusiana, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menyiapkan penerus estafet perjuangan Muhammadiyah–‘Aisyiyah. Ia menyampaikan bahwa kaderisasi bukan semata tugas struktural organisasi, melainkan dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga.
“Rumah adalah madrasah pertama. Jika orang tua aktif dan konsisten dalam perjuangan, anak-anak akan tumbuh dengan semangat yang sama,” tuturnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, dilaksanakan bakti sosial secara simbolis kepada ranting-ranting ‘Aisyiyah di bawah naungan PCA Wiyung, yakni Ranting Jajar Tunggal, Wiyung, Balas Klumprik, dan Babatan. Penyerahan bantuan ini menjadi wujud kepedulian dan penguatan ukhuwah antar ranting dalam satu cabang.
Melalui Kajian Ramadan 1447 H ini, PCA Wiyung berharap semangat kaderisasi, keteladanan keluarga, dan kepedulian sosial semakin menguat, sehingga gerakan ‘Aisyiyah terus bergerak, tumbuh, dan memberi manfaat bagi umat serta masyarakat luas.|| lisyie
