Oleh: Ernawati
Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng
Di malam yang tenang, saat bintang-bintang seolah bersujud dalam keheningan, rumah Rasulullah ﷺ diselimuti suasana hangat. Lampu minyak berkedip-kedip di sudut ruangan, cahayanya menari lembut di dinding tanah liat yang bersahaja.
Aisyah duduk sendirian, jubahnya menjuntai menyentuh lantai. Hatinya berdesir—bukan oleh angin malam, tapi oleh kabar bahwa makanan dari tangan perempuan lain telah diantar ke rumahnya. Makanan itu datang, hangat dan harum, dibawa oleh seorang pelayan dari salah satu istri Rasulullah ﷺ yang lain. Bukan karena ia membenci saudarinya, bukan. Tapi hati seorang perempuan, betapapun tabahnya, kadang tak bisa membungkam rasa yang tiba-tiba menyelinap seperti bayangan.
Rasulullah ﷺ duduk dengan tenang, tatapannya lembut seperti biasanya. Namun malam itu, Aisyah merasa dadanya sesak oleh gejolak yang sulit ia bendung.
Tangannya terulur tanpa sadar. Ia mengambil piring yang dibawa oleh pelayan itu—piring tanah liat yang penuh dengan makanan lezat—dan dalam satu gerakan spontan, yang keluar dari hatinya yang sedang bergemuruh, ia hempaskan piring itu ke tanah.
“Kraaak!”
Suara pecahan itu memenuhi ruangan. Piring retak, lalu remuk. Makanan tercecer, aroma rempah-rempah merebak di udara seperti doa yang tak sempat selesai.
Sesaat, hening mengambang. Rasulullah ﷺ memandang Aisyah, dan senyum tipis menghiasi wajahnya. Tak ada amarah, tak pula celaan. Hanya ketenangan yang lahir dari cinta yang benar-benar mengerti.
Beliau bersabda dengan ringan, “Ibumu cemburu.”
Kalimat itu tidak disampaikan dengan sindiran, melainkan dengan kelembutan yang membalut luka kecil di hati Aisyah. Sebuah pengakuan, sebuah pemakluman, sebuah pelukan tanpa sentuhan.
Aisyah menunduk. Pipinya memerah, antara malu dan lega. Cinta dalam rumah itu memang bukan cinta yang tanpa gelombang, tetapi cinta yang tahu bagaimana menenangkan badai tanpa harus menghancurkan kapal.
Dan malam kembali sunyi, tapi bukan sunyi yang dingin. Rumah kenabian itu tetap hangat, dengan serpihan piring di lantai sebagai saksi, bahwa bahkan cinta yang suci pun bisa diuji oleh cemburu—dan itu tak menjadikannya lemah, justru membuatnya semakin manusiawi. (*)
