Pelajaran Akhlak dari Majelis yang Ditinggalkan Rasulullah

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sedang duduk bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.

Tiba-tiba, datang seorang lelaki dengan wajah penuh kebencian dan mulut yang dipenuhi cacian.

Tanpa mengucap salam, ia langsung memaki Abu Bakar dengan kata-kata kasar dan menyakitkan.

Rasulullah hanya tersenyum, tenang. Abu Bakar pun memilih diam.

Namun, makian itu semakin menjadi-jadi. Lelaki itu menuduh Abu Bakar lemah, hina, tidak layak berada di sisi Rasulullah.

Abu Bakar tetap bersabar. Rasulullah saw masih tersenyum penuh kedamaian.

Beliau tidak sedikit pun menanggapi provokasi itu.

Namun, ketika penghinaan itu sudah melampaui batas, Abu Bakar akhirnya menjawab dengan sepatah dua kata.

Saat itulah wajah Rasulullah berubah. Beliau segera bangkit dan meninggalkan majelis.

Abu Bakar langsung menyusul dan bertanya, “Mengapa engkau pergi, wahai Rasulullah?”

Jawaban Rasulullah sangat dalam dan menggugah:

“Ketika engkau diam, malaikat yang menjawab untukmu.
Tetapi saat engkau membalas, syaitan pun masuk. Maka aku tidak ingin duduk bersama syaitan.”

(Riwayat ini terdapat dalam Musnad Ahmad dan Adab Al-Mufrad)

Subhanallah. Betapa Rasulullah saw bukan hanya mengajarkan melalui lisan, tetapi juga dengan perbuatan.

Saat suasana telah dikotori oleh kehadiran setan, Rasulullah memilih mundur.
Bukan karena takut, tetapi karena ingin menjaga hati dan menjaga marwah Islam.

Hari ini, banyak dari kita mudah tersulut emosi saat dikritik.
Di media sosial, satu komentar kasar bisa memicu perang ratusan komentar.

Semua ingin membalas. Semua ingin menang.

Tapi Rasulullah saw mengajarkan: kadang-kadang, diam itu lebih tinggi nilainya.

Senyuman beliau di tengah makian bukan tanda kelemahan, tapi kekuatan jiwa dan keyakinan penuh kepada pertolongan Allah.

Selama kita bersabar, malaikat akan membela. Tapi bila emosi menguasai, setan pun mengambil alih.

Kisah ini mengajarkan kita hikmah besar.

Ada saat untuk membalas, tapi ada pula saat untuk menahan diri.

Bila suasana sudah dikotori oleh setan, tidak rugi bila kita memilih untuk pergi dan menjaga marwah.

Insya Allah, semoga Allah SWT memberi kita kekuatan jiwa untuk meneladani Rasulullah saw.
Ketika diprovokasi, kita mampu tersenyum. Saat dicaci, kita tetap tenang.

Dan ketika situasi menjadi gelap, kita tahu kapan saatnya mundur demi menjaga kehormatan.

Masya Allah, sungguh agung akhlak Nabi Muhammad saw. Tingginya kesabaran beliau.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang kuat seperti beliau, dan tidak mudah terjebak dalam perang kata-kata yang sia-sia.

Mari kita saling mengingatkan dan belajar untuk lebih bijak dalam menghadapi ujian emosi. (*)

Tanggapan

    1. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَتَمَ أَبَا بَكْرٍ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْجَبُ وَيَتَبَسَّمُ فَلَمَّا أَكْثَرَ رَدَّ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ فَغَضِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ فَلَحِقَهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَ يَشْتُمُنِي وَأَنْتَ جَالِسٌ فَلَمَّا رَدَدْتُ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ غَضِبْتَ وَقُمْتَ قَالَ إِنَّهُ كَانَ مَعَكَ مَلَكٌ يَرُدُّ عَنْكَ فَلَمَّا رَدَدْتَ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ أَكُنْ لِأَقْعُدَ مَعَ الشَّيْطَانِ ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثٌ كُلُّهُنَّ حَقٌّ مَا مِنْ عَبْدٍ ظُلِمَ بِمَظْلَمَةٍ فَيُغْضِي عَنْهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعَزَّ اللَّهُ بِهَا نَصْرَهُ وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ يُرِيدُ بِهَا صِلَةً إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ بِهَا كَثْرَةً وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ يُرِيدُ بِهَا كَثْرَةً إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا قِلَّةً

    1. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا شَتَمَ أَبَا بَكْرٍ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَالِسٌ فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْجَبُ وَيَتَبَسَّمُ فَلَمَّا أَكْثَرَ رَدَّ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ فَغَضِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ فَلَحِقَهُ أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَانَ يَشْتُمُنِي وَأَنْتَ جَالِسٌ فَلَمَّا رَدَدْتُ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ غَضِبْتَ وَقُمْتَ قَالَ إِنَّهُ كَانَ مَعَكَ مَلَكٌ يَرُدُّ عَنْكَ فَلَمَّا رَدَدْتَ عَلَيْهِ بَعْضَ قَوْلِهِ وَقَعَ الشَّيْطَانُ فَلَمْ أَكُنْ لِأَقْعُدَ مَعَ الشَّيْطَانِ ثُمَّ قَالَ يَا أَبَا بَكْرٍ ثَلَاثٌ كُلُّهُنَّ حَقٌّ مَا مِنْ عَبْدٍ ظُلِمَ بِمَظْلَمَةٍ فَيُغْضِي عَنْهَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا أَعَزَّ اللَّهُ بِهَا نَصْرَهُ وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ يُرِيدُ بِهَا صِلَةً إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ بِهَا كَثْرَةً وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ يُرِيدُ بِهَا كَثْرَةً إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا قِلَّةً

Tinggalkan Balasan

Search