Pelaporan Keuangan Bukan untuk Drama, Tapi Amanah yang Harus Dijaga

*) Oleh : Syahrul Ramadhan, SH, M.Kn, CLQ
Sekretaris LBH AP PDM Lumajang
www.majelistabligh.id -

Pelaporan keuangan adalah bagian dari amanah. Ia merupakan bentuk transparansi dan akuntabilitas yang tidak hanya ditujukan untuk memenuhi formalitas administrasi, tetapi lebih jauh sebagai pertanggungjawaban moral, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā.

Namun anehnya, ketika pelaporan dilakukan dengan jujur untuk menyampaikan fakta, justru dibalas dengan emosi, saling menyalahkan, bahkan terkesan menciptakan drama seolah-olah ada pihak yang merasa bekerja sendirian.

Padahal dalam sebuah organisasi, kebaikan maupun kekurangan adalah tanggung jawab bersama. Tidak elok jika saling lempar kesalahan dan meniadakan kontribusi orang lain.

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pelajaran dari Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun

Dalam Al-Qur’an, kita belajar dari kisah Nabi Musa alaihis-salām yang saat meninggalkan kaumnya untuk menerima wahyu, menunjuk saudaranya, Nabi Hārūn, sebagai pengganti.

Namun, ketika kembali dan mendapati kaumnya menyembah patung anak sapi, Nabi Musa sempat marah kepada Nabi Hārūn.

Bagaimana respons Nabi Hārūn? Apakah beliau membalas dengan emosi? Tidak.

“Harun berkata, ‘Wahai putra ibuku, janganlah engkau pegang janggutku dan kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir engkau akan berkata: Kamu telah memecah belah Bani Israil dan tidak memelihara pesanku.’” (QS. Ṭāhā)

Nabi Hārūn tidak menyalahkan atau membalas kemarahan, melainkan mengajak untuk memahami kondisi dan menjaga persatuan.

Dari sini kita belajar bahwa komunikasi dalam organisasi harus dibangun dengan semangat ukhuwah, bukan saling tuding atau menyudutkan.

Pelajaran Akhlak: Saling Menasihati, Bukan Menjatuhkan

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al-Mā’idah: 2)

Pelaporan keuangan yang jujur dan terbuka merupakan bagian dari ta‘āwun ‘ala al-birr, yaitu saling menjaga dalam kebaikan. Maka jangan sampai pelaporan tersebut justru menjadi penyebab perpecahan. Jika ada kekurangan, mari kita koreksi bersama, bukan saling mengoreksi untuk saling menjatuhkan.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Agama itu adalah nasihat.”
Kami bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin.”
(HR. Muslim)

Mari kita hilangkan ego, jaga komunikasi, dan luruskan niat. Jangan saling mendramatisasi seolah bekerja sendiri, karena pada hakikatnya, tiada satu pun amal yang luput dari catatan Allah.

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS Az-Zalzalah: 7–8). (*)

Tinggalkan Balasan

Search