Pelayanan Penuh Cinta untuk Lansia Haji: Kisah Ibu Bara di Tanah Suci

www.majelistabligh.id -

Di tengah padatnya musim haji 2025, terselip kisah haru dari Ibu Bara Andi Patellui, seorang jemaah haji lanjut usia dengan kondisi risiko tinggi (risti), yang mengajarkan banyak hal tentang kesabaran, perhatian, dan makna pelayanan sejati.

Nuraedah, pembimbing ibadah Kloter 3 UPG, beberapa kali terlihat merangkul bahu Ibu Bara dan mengajaknya berbincang pelan. Di antara percakapan dan belaian hangat itu, terlihat Ibu Bara lebih banyak duduk tercenung, matanya kadang menerawang jauh. Wajahnya menyiratkan perasaan campur aduk antara haru dan syukur. Berkali-kali ia tampak menahan air mata.

Saat Tim Media Center Haji (MCH) menanyakan perasaannya, Ibu Bara hanya terdiam lama. Kata-kata belum sanggup ia ucapkan, tetapi rona wajahnya berubah ketika Letnan Kolonel Laut Muhammad Slamet, Kepala Seksi Perlindungan Jemaah (Linjam) Daker Madinah, menyerahkan tas selempangnya yang sempat tertinggal. Tas itu berisi barang-barang penting, termasuk identitas dan dompet.

“Terima kasih,” ucapnya pelan dengan suara bergetar.

Kepala Sektor Bir Ali, Muhammad, menjelaskan bahwa Ibu Bara sempat ditemukan oleh Qurrotul Aini, petugas PPIH Sektor Bir Ali, dalam kondisi lemas di dalam Masjid Bir Ali.

Meski merupakan lansia risti, Ibu Bara tetap turun untuk salat di Bir Ali. Kondisinya yang lemah membuatnya harus segera dilarikan ke Rumah Sakit Saudi German untuk perawatan intensif. Saat itu, tasnya tertinggal dan kemudian diserahkan kepada pihak Linjam.

Sepuluh hari lamanya Ibu Bara dirawat. Menurut dr. Fadhiel Abdul Walid D.S., dokter Tenaga Kesehatan Haji (TKH) Kloter 3 UPG, selama di rumah sakit, Ibu Bara masih berusaha beradaptasi secara sosial. Ia berhaji tanpa pendamping keluarga.

“Bagi orang seusia beliau, ditambah berada di negara asing dan tanpa keluarga, tentu memberi tekanan tersendiri,” kata dr. Fadhiel, yang sehari-hari bertugas di RS Bhayangkara Makassar.

Selama proses pemulihan dan keberangkatan ke Makkah, Ibu Bara terus mendapat perhatian dari tim Linjam, pembimbing ibadah, dan tenaga kesehatan. Hingga akhirnya, ia dinyatakan cukup sehat untuk melanjutkan rangkaian ibadah. Pada Selasa (27/05/2025), ia berhasil melaksanakan umrah wajib.

Nuraedah, yang terus mendampinginya, memastikan semua kebutuhan Ibu Bara terpenuhi dengan baik. Tidak hanya kursi roda, Ibu Bara bahkan mendapat fasilitas mobil golf untuk tawaf dan sa’i.

“Saya tidak menyarankan kursi roda karena beliau butuh pendampingan langsung. Saat bersama saya, beliau lebih terbuka. Maka saya temani dalam mobil golf, saya bacakan doa-doanya,” tutur Nuraedah, yang juga merupakan Kepala MAN 1 Makassar.

Tiga rekan sekamar Ibu Bara juga lansia. Mereka bersikap hangat dan mendukung, menjadi bagian dari “support system” yang sangat dibutuhkan Ibu Bara.

“Kami memang sengaja atur agar kamar beliau ditempati oleh rekan yang suportif. Itu penting untuk kenyamanan dan pemulihan kondisi psikologisnya,” ujar dr. Fadhiel.

Kebahagiaan kecil Ibu Bara menjadi milik bersama. Beberapa jemaah lansia di kamar dan sekitar kamar turut menyambut hangat kehadiran petugas. Mereka berdiri di ambang pintu, menyampaikan rasa terima kasih, bahkan ada yang menggunakan kursi roda. Sapaan hangat dari petugas haji membuat mereka merasa diperhatikan.

Perlu diketahui, lansia dan jemaah risti sebenarnya tidak diwajibkan turun dari kendaraan saat di Bir Ali. Mereka cukup melaksanakan salat sunah ihram dari penginapan, lalu berniat ihram di dalam kendaraan. Namun, beberapa jemaah tetap turun karena ingin melaksanakan salat secara langsung, seperti yang dilakukan Ibu Bara.

Kisah Ibu Bara adalah gambaran nyata betapa pentingnya pelayanan haji yang humanis, empatik, dan penuh kasih sayang. Ketika tubuh tak lagi kuat, hati dan semangat tetap mampu menempuh perjalanan suci — terlebih ketika ada tangan-tangan yang setia menggandeng dan membimbingnya.

Ibu Bara berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pada 3 Mei 2025, tergabung dalam Kloter UPG 3, Rombongan 5, dengan Ketua Kloter Rizkan Fajar dan Ketua Rombongan Abdul Hakim Amar Ahmad.

Semoga Ibu Bara dan seluruh jemaah lansia risti dapat menuntaskan ibadah hajinya dengan lancar dan mendapat haji yang mabrur. Aamiin. (afifun nidlom)

 

Tinggalkan Balasan

Search