Pemimpin atau Pimpinan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan

Jika kita harus memilih antara “pemimpin” atau “pimpinan”, maka jawabannya tergantung pada tujuan dan konteks. Namun, jika dilihat dari nilai esensial dan dampak kemanusiaan, maka:

Pemimpin lebih utama daripada sekadar pimpinan.
Kenapa?

1. Pemimpin adalah jiwa, pimpinan adalah jasad.
• Pemimpin menggerakkan hati, memberi arah, dan membentuk karakter.
• Pimpinan menjalankan fungsi struktural, administratif, dan formal.

2. Pemimpin bisa hadir tanpa jabatan.
• Seorang guru, orang tua, atau murid bisa menjadi pemimpin dalam lingkungannya.
• Pimpinan membutuhkan legitimasi formal, tapi tidak selalu memberi inspirasi.

3. Pemimpin membangun peradaban, bukan hanya sistem.
• Sejarah mencatat bahwa perubahan besar lahir dari pemimpin yang visioner dan berani, bukan hanya dari pimpinan yang taat prosedur.

Pemimpin: Keteladanan dan Pengaruh
Seorang pemimpin adalah pribadi yang mampu:
• Menjadi teladan dalam akhlak, integritas, dan komitmen.
• Menggerakkan orang lain melalui visi, nilai, dan empati.
• Memimpin dengan hati, bukan hanya dengan instruksi.
• Membangun kepercayaan dan membimbing dengan hikmah.

Dalam konteks Islam, pemimpin ideal adalah seperti Rasulullah ﷺ:
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Kepemimpinan beliau bukan hanya karena status kenabian, tapi karena keteladanan dan kasih sayang yang menyentuh hati umat.

Pimpinan: Struktur dan Tanggung Jawab
Pimpinan merujuk pada:
• Posisi formal dalam organisasi (misalnya: pimpinan instansi, kepala dinas).
• Tanggung jawab administratif dan kebijakan.
• Peran dalam mengatur, mengawasi, dan mengambil keputusan strategis.

Pimpinan yang efektif adalah yang:
• Menyadari bahwa jabatan adalah amanah, bukan privilese.
• Mengintegrasikan nilai spiritual dan etika dalam setiap kebijakan.
• Membangun budaya kerja yang adil, inklusif, dan berorientasi pelayanan.

Integrasi Keduanya: Pemimpin dalam Pimpinan
Idealnya, seseorang yang menduduki posisi pimpinan juga menjadi pemimpin:
• Tidak hanya menjalankan tugas struktural, tapi juga menginspirasi.
• Menyatukan visi organisasi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual.
• Menjadi murabbi dalam sistem, bukan hanya administrator.

Di tengah kompleksitas zaman, kita tidak hanya membutuhkan pimpinan yang cakap secara teknis, tetapi pemimpin yang mampu menyalakan harapan, menumbuhkan fitrah, dan menuntun dengan akhlak. Kepemimpinan sejati bukan sekadar jabatan, melainkan perjalanan jiwa dalam melayani dan membimbing. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search