Pemimpin Dunia Beri Penghormatan pada Umat Islam di Bulan Ramadan

Zohram Mamdani, walikota New York bersama umat Muslim.
www.majelistabligh.id -

Sejumlah pemimpin dan tokoh dunia memberikan penghormatan pada Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi, sekaligus pada umat Muslim di berbagai negara. Momentum bulan suci ini kembali dimanfaatkan para kepala negara dan pemimpin pemerintahan dunia untuk menyampaikan pesan perdamaian, persatuan, kebebasan beragama, serta solidaritas global di tengah dinamika geopolitik dunia.

Berdasarkan data Pew Research Center, populasi Muslim dunia saat ini diperkirakan mencapai sekitar 1,9 miliar jiwa atau hampir seperempat populasi global. Ramadan menjadi salah satu momen keagamaan terbesar di dunia, yang diperingati serentak oleh komunitas Muslim di lebih dari 50 negara berpenduduk mayoritas Muslim dan ratusan negara lain dengan komunitas Muslim minoritas.

Dari Amerika Serikat, Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan pernyataan resmi menjelang dimulainya Ramadan lalu. Dilansir Anadolu, Trump menekankan makna keimanan, refleksi diri, serta pentingnya kebebasan beragama.

“Hari ini, saya menyampaikan salam dan harapan terbaik kepada semua yang merayakan Ramadan,” ujar Trump.

Ia menggambarkan Ramadan sebagai “musim khidmat pembaruan spiritual, perenungan, dan rasa syukur atas berkah Tuhan.” Menurutnya, bulan suci ini menegaskan pentingnya doa dan puasa, mempererat ikatan keluarga serta komunitas, sekaligus menguatkan nilai kasih sayang, amal, dan kerendahan hati.

Trump juga menegaskan bahwa hak untuk beribadah secara bebas merupakan ciri bangsa Amerika dan pilar kemakmuran serta kekuatan nasional. Ia menutup pesannya dengan doa bagi kebahagiaan, persatuan, dan perdamaian dunia.

Dari Kanada, Perdana Menteri Mark Carney turut menyampaikan ucapan Ramadan kepada komunitas Muslim di negaranya yang berjumlah lebih dari 1,7 juta jiwa menurut sensus terakhir. Ia menyebut Ramadan sebagai momen refleksi dan rasa syukur, ketika umat Muslim berkumpul bersama keluarga dan sahabat untuk berbuka puasa serta beribadah di masjid.

Carney juga menegaskan komitmen pemerintahannya dalam memerangi Islamofobia. “Islamofobia tidak memiliki tempat di negara kami,” ujarnya. Ia menekankan bahwa setiap warga Kanada berhak atas kebebasan, keamanan, dan kesempatan untuk berkembang, seraya menutup pesannya dengan ucapan “Ramadan Mubarak”.

Sementara itu di Australia, Perdana Menteri Anthony Albanese menyampaikan pesan melalui akun resminya di platform X, sebagaimana dikutip Dawn. Ia mengucapkan selamat Ramadan kepada lebih dari 800 ribu Muslim Australia yang tersebar di berbagai negara bagian.

“Ramadan adalah kesempatan bagi umat Muslim untuk menegaskan kembali iman mereka, untuk merenung, untuk memaafkan, dan untuk mempraktikkan perbuatan kasih sayang dan kebaikan,” tulis Albanese.

Ia menambahkan bahwa belas kasih, rasa syukur, dan kebersamaan telah menjadi bagian dari sejarah panjang komunitas Muslim di Australia. Albanese juga mengakui kesedihan yang dirasakan sebagian warga Muslim akibat konflik di Timur Tengah, seraya menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga persatuan dan keamanan seluruh warga.

Di Inggris, Perdana Menteri Keir Starmer menyampaikan harapan agar komunitas Muslim di Inggris—yang jumlahnya mencapai sekitar 3,9 juta jiwa—dapat menjalani bulan suci dengan damai dan penuh berkah. Pesan tersebut disampaikan melalui pernyataan resmi yang ditujukan kepada umat Muslim di Inggris dan seluruh dunia.

Dari tingkat pemerintahan kota, Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, yang baru dilantik, turut mengunggah ucapan “Ramadan Mubarak” melalui media sosialnya. Unggahan tersebut disertai video yang menampilkan ragam hidangan iftar, mencerminkan keberagaman budaya Muslim di kota metropolitan tersebut. New York sendiri dikenal sebagai salah satu kota dengan populasi Muslim terbesar di Amerika Serikat.

Ucapan-ucapan tersebut menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Islam, tetapi juga ruang diplomasi simbolik yang mempertegas komitmen negara-negara terhadap nilai toleransi, inklusivitas, dan kebebasan beragama.

Di tengah berbagai tantangan global, mulai dari konflik kawasan hingga meningkatnya sentimen kebencian berbasis agama, pesan-pesan Ramadan dari para pemimpin dunia menjadi penegasan pentingnya dialog, empati, dan solidaritas lintas bangsa. (nun)

 

Tinggalkan Balasan

Search