*)oleh: Moch. Muzaki
Kader Pemuda Muhammadiyah
Tema besar Pemuda Muhammadiyah saat ini adalah Pemuda Negarawan. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dzulfikar Ahmad A, menegaskan bahwa visi Empat Pilar Pemuda Negarawan merupakan jawaban atas berbagai kegelisahan/kegalauan yang dialami pemuda hari ini. Galau yang dimaksud bukan dalam arti negatif, melainkan bentuk kepedulian terhadap nasib gerakan di tengah arus digital dan kompleksitas zaman.
Empat pilar yang dimaksud meliputi Islam Berkemajuan, Keilmuan, Kewirausahaan Sosial, dan Politik Kebangsaan. Keempatnya merupakan solusi konkret untuk membangun dan menjaga Indonesia yang berkemajuan.
Namun, penting untuk dicatat bahwa semangat Pemuda Negarawan tidak boleh hanya dimaknai sebagai konsep elitis yang hanya berlaku di tingkatan pimpinan pusat, wilayah, atau daerah. Justru, akar dari gerakan sejati lahir dan tumbuh di level paling bawah, yakni Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) dan Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM).
Dalam peringatan Milad ke-93 Pemuda Muhammadiyah, tema “Pemuda Negarawan: Totalitas untuk Indonesia Raya” menjadi ajakan reflektif dan evaluatif di seluruh tingkatan kepemimpinan. Pemuda Muhammadiyah terdiri atas lima level kepemimpinan:
Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PPPM)
Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM)
Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM)
Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM)
Pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah (PRPM)
Tiga Parameter Pemuda Negarawan
Sekretaris Jenderal PP Pemuda Muhammadiyah, Najih Prastiyo, menyampaikan bahwa seorang Pemuda Negarawan idealnya memiliki tiga parameter utama, yaitu:
Etikabilitas – Kemampuan bertindak sesuai nilai-nilai etika dan moral.
Intelektualitas – Kecakapan dalam berpikir kritis, menganalisis, dan memecahkan masalah secara rasional.
Elektabilitas – Kemampuan menarik dukungan publik melalui rekam jejak, kredibilitas, dan integritas.
Ketiga parameter ini harus dijadikan pijakan dalam gerakan Pemuda Muhammadiyah di setiap level, termasuk di cabang dan ranting.
Implementasi Empat Pilar di Tingkat PCPM dan PRPM
Di level PCPM dan PRPM, implementasi empat pilar bisa dilakukan secara kontekstual sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar:
Islam Berkemajuan: Melalui dakwah kultural yang membumi dan menyentuh realitas sosial.
Keilmuan: Menjadikan kader sebagai teladan dalam intelektualitas yang mampu memberikan solusi bagi problem kampungnya.
Kewirausahaan Sosial: Mendorong lahirnya usaha berbasis kemaslahatan, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
Politik Kebangsaan: Menjadi penyejuk dalam kehidupan politik lokal, menjunjung tinggi demokrasi, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan desa/kelurahan.
Meskipun misalnya pada tingkatan kecamatan maupun desa/dusun sebagai minoritas, namun tetap harus menjadi pewarna yang indah dan berdampak besar bagi pembangunan dan harmonisasi kehidupan bermasyarakat.
Pada tingkatan PCPM dan PRPM pilar Islam berkemajuan dapat diimplementasikan lewat dakwah kultural dan kontekstual pada masyarakat yang dihadapinya. Namun tetap pada spirit bahwa ajaran Islam mengajak masyarakatnya untuk maju dan menjawab tantangan zaman.
Pilar keilmuan dapat dijadikan pegangan bahwa kader pemuda Muhammadiyah harus menjadi teladan dan memiliki ilmu yang mampu memberikan solusi di kampungnya. Pilar kewirausahaan sosial dapat berbentuk usaha berbasis kemaslahatan. Memiliki bisnis yang membuka peluang kerja dan menjalankan ekonomi yang memberikan dampak positif pada sekelilingnya.
Pilar politik kebangsaan dapat diejawantakan sebagai penyejuk dalam kehidupam politik, menjunjung tingga nilai demokrasi dan siap sedia membangun kampung yang ditempatinya. Meskipun misalnya pada tingkatan kecamatan maupun desa/dusun sebagai minoritas, namun tetap harus menjadi pewarna yang indah dan berdampak besar bagi pembangunan dan harmonisasi kehidupan bermasyarakat.
Selanjutnya ialah etikabilitas pengurus PCPM dan PRPM senantiasa dijunjung tinggi dan diedukasikan. Sedangkan intelektualitas dapat dikembangkan melalui forum-forum perkopian, cangkruk, maupun saat pertemuan. Lalu elektabilitas akan terbentuk dengan sendirinya jika beberapa point di atas sudah diterapkan. Pemuda pada tingkatan cabang dan ranting dapat berjalan dengan fleksible dan kreatif, asalkan tidak melenceng dari tujuan organisasi.
Tantangan dan ujian pada tingkatan PCPM maupun PRPM sangatlah kompleks, terhadap persyarikatannya, dengan pemerintahannya, ormas lain, budaya kampungnya, minimnya anggota ,bahkan sumber dana, belum lagi saat pemudanya merantau, jarak geografis kampung, dan kesibukan pengurusnya.
Namun dengan dinamika itu semua akan menjadikan sebagai pembelajaran berharga, kebermaknaan berjuang, dan ujian loyalitas terhadap organisasi. Pemuda Muhammadiyah Cabang dan Ranting harus mampu merangkul semuanya, mengatur strategi yang pas, dan harus memiliki ketahanan dalam komitmen.
9 Kepribadian Pemuda Negarawan
Untuk menjawab tantangan tersebut, berikut adalah sembilan kepribadian yang harus dipegang teguh oleh kader Pemuda Muhammadiyah di level cabang dan ranting:
Mendorong pembaruan
Inklusif dan berkemajuan
Mencerahkan dan menggembirakan
Kritis dan kreatif
Beretos kerja tinggi
Mendorong persatuan dan kerja sama
Nasionalis dan patriotik
Mandiri dan independen
Jujur dan bersahaja
Milad sebagai Momentum Refleksi
Ketua PWPM Jawa Timur, M. Anang Nafiuzzaki, mengingatkan bahwa milad harus dijadikan momentum reflektif untuk mengevaluasi kontribusi Pemuda Muhammadiyah. Ia berharap kader senantiasa menjadikan semangat Fastabiqul Khairat sebagai napas gerakan, agar manfaatnya terasa di mana pun kader berada.
Tema besar tahun ini mengandung makna strategis. Pemuda Muhammadiyah diharapkan tidak hanya cakap secara spiritual, tetapi juga matang dalam wawasan kebangsaan.
Maka dalam konteks PCPM maupun PRPM, spirit pemuda negarawan masih relevan untuk dinyatalaksanakan. Menjalin hubungan baik dengan camat, kades, ataupun kasun beserta perangkatnya. Harmonis dengan organisasi lain, ikut membangun persyarikatan, ikut berkontribusi di kampung, kerja sama kebaikan dengan berbagai pihak, ikut menjaga keamanan dan ketertiban, mencari kader dan pengembangan kualitas kader, komunikasi rutin dengan anggota. Yang juga tidak kalah penting, senantiasa berdoa agar diberikan ketabahan dan pertolongan dalam menjalankan amanah organisasi.
Cabang dan ranting adalah nafas gerakan, laksana lilin yang memancarkan cahaya, laksana bibit unggul yang tumbuh bermekaran, dan bagaikan biji besi yang harus terus ditumbuk dan dibakar agar menjadi pedang tajam yang akan memotong generasi yang lemah dan menciptakan kader-kader tajam dalam hal pemikiran, gerakan, solusi, dan pemecahan problem masyarakat. (*)
