Di tengah derasnya arus kemajuan zaman, sering kali kita melupakan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur. Padahal, dalam kebijaksanaan lokal tersimpan mutiara yang bisa menjadi pelita bagi kehidupan. Salah satu ungkapan yang mengandung makna dalam adalah pepatah Jawa: “Ajining rogo saka busono, ajining diri saka lathi.” Ungkapan ini, meskipun singkat, memuat nasihat yang sangat bijak. Ia mengajarkan bahwa harga diri tubuh tampak dari pakaian, sementara harga diri sejati tampak dari tutur kata.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, busana bukan sekadar pelindung tubuh. Ia merupakan simbol kesadaran, kesopanan, dan penghormatan terhadap diri sendiri serta lingkungan sosial. Berpakaian pantas sesuai situasi mencerminkan sikap batin seseorang.
Ketika seseorang berbusana rapi dan sopan, ia bukan hanya memuliakan tubuhnya, tetapi juga menunjukkan penghargaan terhadap orang lain dan nilai-nilai budaya.
Nilai ini bersesuaian dengan ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Wahai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan sebagai perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik.” (Al-A’raf [7]: 26)
Pakaian bukan sekadar tampilan fisik, tetapi bagian dari etika dan takwa. Islam mengajarkan bahwa berpenampilan bersih dan pantas bukan hanya demi estetika, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap karunia tubuh yang Allah Swt. anugerahkan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Handhalliyah disebutkan bahwa Nabi Saw. pernah bersabda kepada para sahabatnya ketika mereka hendak mendatangi saudara mereka:
“Kalian akan mendatangi saudara-saudara kalian. Karenanya perbaikilah kendaraan kalian, dan pakailah pakaian yang bagus sehingga kalian menjadi seperti tahi lalat di tengah-tengah umat manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai sesuatu yang buruk.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)
Namun tentu saja, ajaran Islam dan falsafah Jawa tidak berhenti pada tampilan luar. Yang lebih penting dari itu adalah bagaimana seseorang menjaga lisannya. Jika penampilan adalah cermin dari penghormatan lahiriah, maka lisan adalah jendela batin dan kunci dari martabat sejati.
Lisan bisa menjadi penyejuk hati, jembatan silaturahmi, serta sumber inspirasi dan kebaikan. Namun, ia juga bisa menjadi sumber malapetaka ketika tak dijaga. Banyak luka yang tak terlihat mata, namun membekas dalam karena goresan kata.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Tidak akan lurus di atas jalan istikamah iman seorang hamba sebelum istiqamah hatinya, dan tidak akan istiqamah hatinya sebelum istiqamah lisannya.” (HR. Ahmad)
Ucapan yang baik adalah cerminan iman, dan diam menjadi pilihan bijak jika tak mampu berkata benar dan bermanfaat.
Dalam budaya Jawa, kehati-hatian dalam berbicara menjadi cermin kebijaksanaan. Seseorang yang bisa mengendalikan lidahnya akan dihormati, disegani, dan dijadikan teladan. Ada istilah dalam masyarakat Jawa: “meneng kuwat, ngendika ngati-ati” (diam adalah kekuatan, berbicara adalah tanggung jawab). Sebab setiap kata membawa akibat, entah itu menyatukan atau memecah, menyejukkan atau membakar.
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti, dalam karyanya Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala (halaman 45), memberikan nasihat yang mendalam:
“Orang yang berakal seharusnya lebih banyak diam daripada berbicara. Sebab, betapa banyak penyesalan lahir karena ucapan, dan betapa sedikit orang menyesal karena diam. Orang yang paling merugi, yang paling besar tertimpa musibah, adalah mereka yang lisannya tak henti bicara, sementara akalnya enggan berpikir.”
Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya ada seorang hamba yang mengucapkan suatu kata tanpa memikirkan akibatnya, lalu ia terjerumus karenanya ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari timur ke barat.”
Ungkapan “ajining rogo saka busono, ajining diri saka lathi” secara halus mengajarkan pentingnya keseimbangan antara lahir dan batin. Tidak cukup hanya tampil rapi jika lidah kita kasar dan menyakiti. Pun tak cukup berbicara lembut jika cara kita menampilkan diri abai terhadap adab dan norma.
Dunia yang serba cepat hari ini membuat kita mudah tergelincir. Penampilan sering kali menjadi topeng, dan kata-kata kerap dipakai untuk membungkus kebohongan. Maka menjaga dua hal ini (penampilan dan lisan) menjadi langkah penting untuk tetap teguh di jalan kebaikan.
Apalagi di era digital seperti sekarang, tantangan menjaga lisan semakin berat. Lisan tidak lagi hanya dalam bentuk suara, tetapi juga tulisan status di media sosial, komentar, pesan singkat. Banyak orang dengan mudah mencaci, memfitnah, menyindir tajam tanpa pikir panjang.
Lathi telah bertransformasi menjadi jari jemari yang menulis, mengunggah, dan membagikan. Padahal dampaknya jauh lebih luas, sebab jejak digital tak mudah terhapus. Apa yang kita ketik hari ini bisa menjadi bahan penyesalan di kemudian hari.
Begitu pula dengan busana. Di dunia digital, penampilan kita terekam dalam foto, video, dan konten yang kita bagikan. Semua itu menjadi cermin siapa diri kita. Maka menjaga citra diri secara digital sama pentingnya dengan menjaga diri di dunia nyata.
Kita bisa mengenakan pakaian terbaik, tetapi jika yang keluar dari lisan dan jari adalah hinaan, fitnah, dan kemarahan, maka nilai diri akan runtuh dengan sendirinya.
Setiap orang tentu ingin dihargai, disegani, dan dicintai. Tapi penghormatan tidak bisa dipaksa. Ia lahir dari kesadaran dalam bertindak dan berbicara. Orang yang berpakaian sopan, berbicara lembut, dan jujur, akan lebih mudah diterima dalam berbagai kalangan.
Kita semua pasti pernah merasa nyaman di dekat orang yang tutur katanya santun, penuh empati, dan tidak berlebihan. Sebaliknya, kita pun ingin cepat pergi dari orang yang kasar ucapannya, meskipun penampilannya memesona. Dari sini kita belajar bahwa harga diri sejati bukan terletak pada penampilan luar semata, tetapi pada kualitas batin yang memancar melalui ucapan.
Menjaga lisan adalah bagian dari ibadah. Rasulullah saw bahkan menempatkan kendali atas lisan sebagai penentu keselamatan di akhirat.
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridai Allah, ia tidak menyangka bahwa ucapan itu membawa pahala besar, dan Allah menetapkan untuknya rida-Nya hingga hari kiamat. Dan seorang hamba mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah, ia tidak menyangka bahwa ucapan itu membawa dosa besar, dan Allah menetapkan untuknya murka-Nya hingga hari kiamat.” (HR. Tirmidzi)
Satu kata bisa menjadi pintu menuju rahmat atau murka-Nya. Maka tidak heran jika menjaga lisan disebut sebagai jihad besar yang harus dilakukan setiap muslim.
Ungkapan bijak dari budaya Jawa ini sejatinya adalah jembatan menuju kehidupan yang lebih tenang, beradab, dan penuh kehormatan. Ia mengingatkan kita agar tidak hanya merawat fisik, tetapi juga memperindah batin. Jangan sampai kita terlihat elok di luar, tetapi hancur di dalam.
Jangan pula kita merasa pintar berbicara, tetapi tak sadar menyakiti. Keindahan hidup bukan terletak pada suara yang keras atau penampilan mencolok, melainkan pada kelembutan dalam sikap dan kebijaksanaan dalam tutur kata.
Marilah kita mulai membangun kembali kesadaran ini. Jagalah penampilan dengan kesederhanaan dan kehormatan. Rawatlah lisan dengan kebaikan dan kasih sayang. Di sanalah sesungguhnya letak kemuliaan diri kita. Karena martabat sejati bukan ditentukan oleh status sosial atau kekayaan, tetapi oleh bagaimana kita memperlakukan sesama, baik melalui sikap, pakaian, maupun kata.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap sesamanya.” (HR. Tirmidzi)
Maka jadilah pribadi yang tidak hanya enak dipandang, tetapi juga menyejukkan ketika didengar. Jadilah manusia yang menghargai diri sendiri dan orang lain, dalam diam maupun dalam kata. Karena di sanalah letak ajining rogo lan ajining diri — harga sejati kita sebagai manusia. (*)
