4. Penciptaan langit dan bumi membuka wawasan keilmuan
وَاِ لَى السَّمَآءِ كَيْفَ رُفِعَتْ
“Dan langit, bagaimana ditinggikan?”
(QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 18)
وَاِ لَى الْجِبَا لِ كَيْفَ نُصِبَتْ
“Dan gunung-gunung bagaimana ditegakkan?”
(QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 19)
وَاِ لَى الْاَ رْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
“Dan bumi bagaimana dihamparkan?”
(QS. Al-Ghasyiyah 88: Ayat 20)
5. Kajian Tafsit Ibnu Katsir tentang Langit dan bumi
Al-An’am, ayat 1-3
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ (1) هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ (2) وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ (3)
Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. Dialah Yang menciptakan kalian dari tanah, sesudah itu ditentukan-Nya ajal (kematian kalian), dan ada lagi satu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kalian masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu). Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dan apa yang kalian lahirkan, dan mengetahui (pula) apa yang kalian usahakan.
Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman memuji diri-Nya sendiri Yang Mahamulia, karena Dia telah menciptakan langit dan bumi sebagai suatu pernyataan yang ditujukan kepada hamba-hamba-Nya, juga karena Dia telah menjadikan gelap dan terang untuk kemanfaatan hamba-hamba-Nya, yaitu di malam hari dan di siang hari mereka.
Lafaz zulumat diungkapkan dalam bentuk jamak, sedangkan lafaz nur diungkapkan dalam bentuk tunggal, karena cahaya lebih mulia daripada gelap. Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{عَنِ الْيَمِينِ وَالشَّمَائِلِ}
Ke kanan dan ke kiri. (An-Nahl: 48)
Sama seperti yang disebutkan di akhir surat ini melalui firman-Nya:
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}
dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus. – maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya (Al-An’am: 153)
Kemudian Allah (Subhanahu wa Ta’ala) berfirman:
{ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ}
namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (Al-An’am: 1)
Yakni sekalipun demikian ada juga sebagian dari hamba-hamba-Nya yang kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu bagi-Nya, serta menjadikan baginya istri dan anak. Mahatinggi Allah dari semuanya itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.
Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ}
Dialah yang menciptakan kalian dari tanah (Al-An’am: 2)
Yakni bapak mereka semua, yaitu Nabi Adam; dialah asal mereka, dan darinya mereka keluar, lalu menyebar ke timur dan barat.
Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{ثُمَّ قَضَى أَجَلا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ}
Sesudah itu ditentukan-Nya ajal, dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan yang ada pada sisi-Nya. (Al-An’am: 2)
Sa’id ibnu Jubair telah mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan ajal pertama adalah mati, sedangkan yang kedua dimaksudkan ialah ketentuan untuk berbangkit di akhirat.
Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Al-Hasan, Qatadah, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Atiyyah, As-Saddi, dan Muqatil ibnu Hayyan serta lain-lainnya.
Menurut pendapat Al-Hasan Al-Basri dalam suatu riwayat yang bersumber darinya sehubungan dengan makna firman-Nya: sesudah itu ditentukan-Nya ajal (Al-An’am: 2) Bahwa yang dimaksud ialah ‘masa antara sejak ia diciptakan sampai meninggal dunia’. Sedangkan firman-Nya: dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan yang ada pada sisi-Nya. (Al-An’am: 2) Yakni antara dia meninggal dunia sampai ia dibangkitkan.
Pendapat ini sama dengan pendapat sebelumnya. Penentuan ajal yang pertama bersifat khusus, yakni menyangkut usia setiap manusia; sedangkan penentuan ajal kedua bersifat umum, yakni menyangkut usia dunia seluruhnya; kemudian habislah usia dunia, lalu lenyap dan kembali ke alam akhirat.
Dari Ibnu Abbas dan Mujahid disebutkan sehubungan dengan firman-Nya: sesudah itu ditentukan-Nya ajal. (Al-An’am: 2) Yakni usia dunia. dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan yang ada di sisi-Nya. (Al-An’am: 2) Yakni usia seseorang sampai saat kematiannya.
Seakan-akan takwil ini berpangkal kepada pengertian yang terkandung pada ayat berikutnya yang menyebutkan:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ
Dan Dialah yang menidurkan kalian di malam hari. Dan Dia mengetahui apa yang kalian kerjakan pada siang hari. (Al-An’am: 60), hingga akhir ayat.
Atiyyah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: sesudah itu ditentukan-Nya ajal. (Al-An’am: 2) Yakni tidur. Di dalam tidur roh seseorang dimatikan, kemudian kembali lagi kepadanya saat ia terbangun dari tidurnya. dan ada lagi suatu ajal yang ketentuannya ada di sisi-Nya. (Al-An’am: 2) Yakni batas usia seorang manusia.
Tetapi pendapat ini berpredikat garib.
