Pendataan Murur Jelang Wukuf Sudah Dimulai, Bimbad Pastikan Haji Lansia dan Risti Tetap Sah

www.majelistabligh.id -

Puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (5/6/2025), tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan terus dimatangkan, termasuk skema murur bagi jemaah lanjut usia (lansia), risiko tinggi (risti), dan penyandang disabilitas.

Pantauan redaksi Majelistabligh.id di Hotel Al Rashed Al Shesha, Kamis (29/5), tampak kamar-kamar jemaah sudah ditempeli tanda khusus berupa tulisan spidol biru yang mencantumkan nama-nama peserta murur. Ini adalah bagian dari proses pendataan intensif agar pelaksanaan murur berjalan tertib dan sesuai dengan tuntunan syariat.

Apa itu Murur? Murur merupakan skema mabit (bermalam) di Muzdalifah yang dilakukan tanpa turun dari bus, melainkan cukup dengan melintas. Jemaah diberangkatkan dari Arafah usai Magrib, melintasi Muzdalifah, lalu langsung menuju Mina. Mekanisme ini diterapkan demi menjaga kesehatan jemaah dengan keterbatasan fisik.

Salah satu jemaah, Julmiati (70) dari Embarkasi UPG Kloter 3, menyampaikan rasa syukurnya masuk dalam program murur.

“Sudah dikasih tahu. Iya tahu, tetap sah,” ujarnya dengan wajah berbinar. Ditanya perasaannya menjelang wukuf, ia menjawab singkat, “Senang. Senang sekali. Memang untuk itu ke sini.”

Petugas Bimbingan Ibadah (Bimbad) Kloter 3 UPG, Nuraeda, menjelaskan bahwa edukasi terkait murur telah diberikan sejak di tanah air hingga tiba di Mekkah.

“Kami sampaikan melalui manasik dan door-to-door ke kamar-kamar. Banyak jemaah awalnya ragu, tapi kami yakinkan dengan merujuk buku manasik dari Kemenag,” jelasnya.

Pendataan peserta murur juga melalui proses ketat, dengan pemeriksaan kesehatan (MCU) sebagai rujukan utama. “Kadang ada jemaah yang ingin ikut murur hanya karena tidak ingin jalan jauh. Tapi kami evaluasi ulang bersama tim medis, apakah benar layak,” tambah Nuraeda.

Tenaga Kesehatan Haji (TKH) Kloter 3 UPG, dr. Fadhiel Abd Walid, menegaskan bahwa semua jemaah berhak mendapatkan layanan optimal di Armuzna (Arafah–Muzdalifah–Mina), termasuk peserta murur.

“Proses pendataan masih berlangsung. Kami masih melakukan simulasi. Jumlah final peserta murur belum bisa dipastikan karena sebagian jemaah baru akan tiba di Makkah,” ujarnya.

Lebih lanjut, dr. Fadhiel menjelaskan bahwa riwayat medis sejak dari tanah air menjadi dasar utama penentuan peserta murur, seperti penderita hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung. Pemeriksaan lanjutan juga dilakukan setiap hari di lapangan, termasuk pengecekan tekanan darah.

“Kadang jemaah merasa sehat, tapi saat diperiksa ternyata tensinya tinggi. Inilah pentingnya pemantauan ketat. Kami akan terus memprofiling dan memastikan kelompok murur mendapatkan perhatian dan pendampingan penuh,” tegasnya.

Untuk diketahui, keberangkatan gelombang kedua calon jemaah haji dari berbagai embarkasi di Indonesia masih berlangsung hingga Sabtu (31/5). Beberapa kloter dijadwalkan tiba di Bandara Jeddah pada Minggu dini hari.

Dengan semakin dekatnya hari wukuf, seluruh tim haji baik dari unsur ibadah maupun kesehatan terus bekerja ekstra untuk memastikan seluruh jemaah dapat melaksanakan rukun haji dengan aman, nyaman, dan sah. (afifun nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search