Pendidikan Jahiliyah Modern, Ilusi Kemajuan dan Kehampaan Spiritual

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Ubaidillah Ichsan, S.Pd
Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Jombang

Kemajuan teknologi tanpa kemajuan moral adalah pedang bermata dua”
“(Advances in technology without moral progress are two -edged swords)”

Di tengah gemerlap kemajuan teknologi dan informasi, sebuah bentuk “jahiliyah modern” justru mengintai sistem pendidikan kita. Istilah “jahiliyah” di sini bukan merujuk pada kebodohan dalam literasi, melainkan pada kebodohan spiritual dan moral, serta ketidakpedulian terhadap nilai-nilai transenden.

Pendidikan modern, meskipun membekali individu dengan keterampilan duniawi, seringkali abai dalam menanamkan fondasi etika yang kuat dan pemahaman mendalam tentang tujuan hidup yang hakiki.

Salah satu manifestasinya adalah pendewaan materi dan individualisme. Kurikulum yang terlalu fokus pada pencapaian materi dan persaingan individualistik dapat mengikis rasa empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial. Tujuan pendidikan bergeser menjadi sekadar meraih pekerjaan bergaji tinggi, tanpa diiringi kesadaran akan peran individu sebagai bagian dari komunitas yang lebih besar dan memiliki kewajiban moral.

Konsep “jahiliyah” dalam Islam merujuk pada kondisi masyarakat sebelum datangnya risalah Islam, yang ditandai dengan penyimpangan dari kebenaran, fanatisme kesukuan, penindasan, dan dekadensi moral. Al-Qur’an mengingatkan dalam beberapa ayat tentang bahaya mengikuti hawa nafsu dan berpaling dari kebenaran, Allah SWT berfirman,
أَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Qs. Al-Jatsiyah: 23)

Ayat ini mengisyaratkan bahaya menjadikan keinginan duniawi sebagai tujuan utama, yang dapat membutakan hati dan menjauhkan dari petunjuk Ilahi. Allah SWT berfirman,
فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ}
Artinya:
“Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:”Moga-moga kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.” (Qs.Al-Qasas: 79)

Ayat ini menggambarkan bagaimana fokus berlebihan pada kemewahan duniawi dapat membutakan manusia dari nilai-nilai yang lebih luhur.

Jadi, pendidikan jahiliyah modern” bukanlah berarti kembali ke masa kegelapan literasi, melainkan sebuah kondisi di mana sistem pendidikan kehilangan orientasi spiritual dan moralnya. Terlalu fokus pada materi, individualisme, dan relativisme nilai dapat menghasilkan generasi yang terampil secara teknis namun kosong secara spiritual dan rapuh secara etika.

Semoga bermanfaat. (*)

Tinggalkan Balasan

Search