Gerakan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan, menjadi jaring pengaman sosial untuk mengantisipasi terjadinya lost generation bangsa Indonesia. Pertolongan berbasis pada Al Ma’un itu menjadi obor pencerahan generasi penerus bangsa. Salah satunya dengan penyediaan fasilitas pendidikan.
Hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy dalam Kajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT).
Muhadjir menambahkan, bahwa fasilitas pendidikan diberikan kepada anak-anak bumiputera, yang saat itu tengah dijajah oleh Belanda. Pendidikan saat itu sangat eksklusif – tidak semua anak bisa menikmati pendidikan formal.
Sementara itu, perhatian kedua dari gerakan Al Ma’un yang dilakukan oleh Kiai Dahlan menurutnya adalah menyantuni orang miskin. Miskin dalam perspektif Kiai Dahlan adalah orang yang kehilangan hak-hak kemanusiaannya.
“Karena itu kita membela orang miskin, agar mereka mendapat haknya sebagai manusia. Itulah Al Ma’un. Muhammadiyah itu ujung-ujungnya adalah dua itu, menyantuni orang miskin dan menyelamatkan anak-anak terlantar,” katanya.
Berbagai gerakan pertolongan yang diajarkan dan dilakukan oleh Kiai Dahlan, kemudian dilanjutkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah merupakan bagian dari wujud konsep ihsan. Dilihat dari sudut pandang ibadah, Muhadjir menyampaikan, bahwa bermuhammadiyah termasuk mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) adalah bagian dari ibadah umum.
Dia berharap, setiap warga Muhammadiyah termasuk staf AUM dalam menjalankan peran harus dilakukan dengan ihsan – selalu merasa dilihat atau melihat Allah Swt. Sehingga tidak melakukan berbagai hal yang melenceng. (*/tim)
