Siang itu, sebelum berangkat ke kampus, saya iseng mampir ke lapak Pak Yuli, penjual es puter dan rujak buah.
Kebetulan beliau juga alumni salah satu SMA negeri di Kediri, sama seperti saya, hanya saja beliau jauh lebih senior.
Sambil menikmati es puter yang disajikan, kami berbincang ringan ke sana-kemari tanpa arah yang jelas. Namun, ada satu momen dalam percakapan itu yang membuat hati saya takjub. Saat itu, saya bertanya,
“Putra-ne pinten, Pak Yul?”
“Kaleh, Mas,” jawabnya.
“Tasek sekolah nopo sampun nyambut pak?” tanya saya lagi.
“Nggih, Alhamdulillah, wes nyambut, Mas. Setunggal dados guru, setunggal teng Ambon,” jawabnya sambil tersenyum.
Lalu beliau melanjutkan,
“Nggih, Alhamdulillah, Mas. Atiku wes marem, anak-anakku ditampi dados ASN sedanten.”
Mendengar itu, hati saya semakin kagum. Betapa tidak, seorang bapak yang hanya berjualan es puter dan rujak buah mampu mengantarkan anak-anaknya pada capaian luar biasa—menjadi aparatur sipil negara. Rasa penasaran pun muncul di hati saya.
Saya bertanya lagi,
“Pak Yul, dibalik kesuksesan anak-anak sampean, pasti ada pengorbanan orang tua. Kira-kira, apa resepnya?”
Sambil tersenyum, beliau menjawab,
“Sampun rezekine, Mas.”
Saya pun menimpali,
“Hehehe… rezeki memang sudah mutlak, Pak Yul. Tapi, tentu ada pengorbanan, ada tirakat orang tua yang menjadi wasilah kesuksesan anak, to?”
Beliau pun menjawab,
“Nganu, Mas… kulo niki kaleh nyonya sering tirakat (puasa) Daud, sampai sekarang. Nggih, mungkin niki salah setunggal sebab-ne, lek kulo pikir-pikir.”
Relevansi dengan Ayat 82 Surat Al-Kahfi
Tidak sedikit orang tua yang lupa bahwa sebab-sebab non-material—yang kasat mata mungkin tak terlihat—justru bisa memberikan pengaruh besar terhadap kesalehan dan kesuksesan anak.
Doa, ibadah yang dijaga, serta amal saleh lainnya sering kali menjadi faktor penentu yang tak kalah penting dibanding usaha materi.
Al-Qur’an telah menegaskan, kesalehan orang tua adalah salah satu sebab turunnya keberkahan dan kesuksesan pada anak-anak.
Kedekatan orang tua kepada Allah memiliki pengaruh kuat untuk kebaikan mereka. Sebagaimana firman Allah:
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua. Ayah mereka adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)
Allah memerintahkan Nabi Khidir untuk memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh itu agar harta simpanan milik dua anak yatim tersebut tetap terjaga. Sebabnya adalah kesalehan ayah mereka.
Sa’id bin Jubair menuturkan, orang tua kedua anak itu adalah sosok yang selalu menunaikan amanat dan mengembalikan titipan kepada pemiliknya.
Karena kesalehan itu, Allah menjaga harta simpanannya hingga akhirnya ditemukan oleh kedua anaknya saat mereka dewasa.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan:
“Di dalam ayat ini terdapat dalil bahwa seorang laki-laki yang saleh akan dijaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan turun kepada anak cucunya di dunia, dan di akhirat ia akan memberikan syafaat kepada mereka, sehingga derajat mereka di surga diangkat ke tingkatan yang lebih tinggi agar ia berbahagia melihat mereka—sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.”
Kesimpulan
Dari obrolan singkat itu, saya merenung. Mungkin, seorang orang tua tidak selalu bisa merasakan keberhasilan dalam hidupnya saat ini.
Namun, pengorbanan yang disertai keteguhan dalam ketaatan kepada Allah bisa menjadi jalan terbukanya keberhasilan bagi anak-anaknya.
Masih panjang sebenarnya perbincangan saya dengan Pak Yuli, tetapi momen inilah yang menjadi titik penting bagi saya untuk berpikir lebih dalam tentang pengaruh kesalehan orang tua terhadap kesuksesan anak.
Kalau mau, saya bisa buatkan versi ini menjadi lebih bernuansa feature sehingga terasa lebih hidup seperti kisah inspiratif di media. Itu akan membuat ceritanya semakin menyentuh pembaca. (*)
