Penguatan Peran Mubaligh Muhammadiyah dalam Menyebarkan Manhaj Tarjih

www.majelistabligh.id -

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Fathurrahman Kamal menekankan pentingnya memperluas dan memperdalam pemahaman Manhaj Tarjih di kalangan warga Muhammadiyah. Untuk mewujudkan hal tersebut, ia mendorong adanya pengintegrasian ulama dan mubaligh Muhammadiyah yang siap memberikan jawaban atas berbagai persoalan keagamaan secara real-time.

Menurut Fathurrahman Kamal, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan akses masyarakat terhadap ulama atau ahli agama yang kompeten dalam menjawab berbagai pertanyaan keislaman. Banyak kader Muhammadiyah yang memiliki latar belakang keilmuan tinggi, tetapi tidak selalu dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Hal ini menyebabkan kebutuhan akan informasi dan bimbingan agama yang valid tidak selalu terpenuhi secara optimal.

“Saat ini, jika ada masyarakat yang ingin bertanya tentang agama, kepada siapa mereka harus bertanya? Tidak semua dosen Fakultas Agama Islam (FAI) memiliki waktu dan kesempatan untuk melayani pertanyaan umat secara langsung,” ungkapnya dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Institut Tabligh Muhammadiyah, Kasihan, Kabupaten Bantul, pada Ahad (16/3/2025).

Sebagai solusi atas permasalahan tersebut Fathurrahman menawarkan konsep sistem “Umana’ Tarjih dan Tabligh”, yaitu sebuah jaringan ulama Muhammadiyah yang tersebar di berbagai wilayah dan memiliki kesiapan untuk menjawab pertanyaan keagamaan umat secara langsung dan cepat. Dengan sistem ini, masyarakat akan lebih mudah mengakses bimbingan agama yang berbasis pada keilmuan yang mendalam dan metodologi tarjih yang khas Muhammadiyah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah saat ini tengah melakukan kaderisasi yang bertujuan untuk mencetak ulama dan mubaligh yang memiliki kompetensi tinggi dalam bidang keislaman.

“Saat ini kami memiliki 41 kader yang sedang dibina, dan lebih dari 50 persen dari mereka telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Mereka memiliki kapasitas keilmuan yang sangat baik, tetapi masih perlu diberikan pembekalan lebih lanjut agar dapat berperan lebih besar dalam memberikan bimbingan keagamaan kepada masyarakat,” jelasnya.

Dengan adanya sistem tarjih dan tabligh yang lebih responsif serta berbasis pada keilmuan yang kuat, Muhammadiyah diharapkan dapat semakin memperkuat perannya dalam membimbing umat.

Pemahaman Islam yang dikembangkan dalam Muhammadiyah diharapkan tetap berada dalam koridor Islam washatiyah, ilmiah, dan kontekstual, sehingga mampu menjawab berbagai tantangan zaman dengan pendekatan yang berbasis pada dalil yang kuat dan pemikiran yang rasional.

Selain itu, integrasi mubaligh dan ulama dalam sistem ini juga akan mempercepat penyebaran pemahaman keislaman yang moderat di berbagai lapisan masyarakat.

Dengan dukungan dari teknologi digital, diharapkan masyarakat dapat mengakses ulama dan mubaligh Muhammadiyah dengan lebih mudah, baik melalui platform daring maupun forum-forum diskusi yang lebih terstruktur.

Pada akhirnya, langkah ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang berbasis pada ilmu dan tarjih, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan umat yang semakin kompleks terhadap bimbingan keagamaan yang berbobot, relevan, dan kontekstual. (wh)

 

Tinggalkan Balasan

Search