Pentingnya Berkeyakinan Kokoh pada Allah

*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
www.majelistabligh.id -

Peneguhan Allah pada hati hamba-Nya sangat menentukan keteguhan hati dalam menjalani risalah ketuhanan. Sebaliknya pembiaran Allah justru membuat hati hamba-Nya lumpuh sehingga mengalami kecelakaan dan terjerumus dalam kehancuran.

Pemuda Kahfi teguh dalam memegang amanah di atas tauhid, sehingga Allah menyelamatkan dari ancaman raja yang zalim.

Demikian pula Nabi Yusuf yang teguh hingga tidak terjerumus dalam perbuatan zina dengan istri majikannya.

Dua kisah, para pemuda dan Nabi Yusuf, merupakan contoh kongkret adanya pertolongan Allah atas keteguhan para hamba-mengagungkan Allah dan kuat dalam menjalaminya.

Pemuda Kahfi

Kekokohan dalam memegang keyakinan yang benar ditunjukkan oleh para pemuda yang tinggal di komunitas yang hampir semuanya menyembah berhala.

Para pemuda itu percaya bahwa Allah layak disembah, dan mereka mempertanyakan dan ragu pada masyarakatnya yang menyembah berhala dan rutin melakukan rirual penyembahan.

Para pemuda itu merasa resah dan gelisah bahwa berhala tak layak disembah. Ketika menyaksikan prosesi penyembahan berhala, mereka satu persatu keluar dan bertemu di satu titik kumpul yang mana satu sama lain tidak kenal.

Mereka pun saling bertanya mengapa keluar dari area penyembahan. Mereka pun menyatakan isi hatinya, sehingga satu keyakinan dan mereka pun bersepakat untuk mempertahankan keyakinannya.

Mendengar hal itu, masyarakat pun melaporkan kepada penguasa dan meminta mereka Kembali kepada agama dan tradisi yang sudah berjalan.

Para pemuda diancam untuk dibunuh jika tak mau kembali menyembah berhala. Mereka pun sepakat dan lari keluar dari negerinya. Allah pun memperkokoh keyakinan hingga berlari hingga sampai ke gua.

Allah pun mengokohkan dengan menidurkakannya di dalam gua. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:

وَرَبَطۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ إِذۡ قَامُواْ فَقَالُواْ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَن نَّدۡعُوَاْ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهٗا ۖ لَّقَدۡ قُلۡنَآ إِذٗا شَطَطًا

Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”. (QS. Al-Kahfi : 14)

Mereka pun selamat dari kejaran para penguasa yang dzalim dan menginginkan penyembahan berhala terus berlangsung. Namun kekokohan di dalam memegang keyakinan itu, mendatangkan pertolongan Allah.
Nabi Yusuf

Pertolongan Allah juga berlaku pada Nabi Yusuf. Betapa tidak, Nabi Yusuf dalam posisi yang aman untuk apa saja, termasuk melakukan perbuatan Nista.

Beliau tinggal di Mesir jauh dari kerabat, tidak memiliki keluarga atau saudara dekat di sekitarnya. Namun Allah menyelamatkan dan mengokohkan keyakinannya hingga terbebas dan batal dari perbuatan zina.

Pada saat itu, nabi Yusuf diajak berzina oleh istri majikannya (imroatul aziz). Perempuan ini sudah menaruh cinta pada Nabi Yusuf, dan itu dipendam begitu lama.

Maka pada saat yang tepat, perempuan itu memanfaatkan dengan baik. Ketika berada di kamar berdua, perempuan mengunci semua pintu, sehingga Nabi Yusuf tak mungkin keluar.

Pada saat itu sangat memungkinkan terjadinya perzinaan. Perempuan itu tertarik dan pada puncak nafsu, sementara Nabi Yusuf juga tertarik pada lawan jenis. Namun pertolongan Allah datang untuk menyelamatkan Nabi Yusuf.

Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَلَقَدۡ هَمَّتۡ بِهِۦ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوۡلَآ أَن رَّءَا بُرۡهَٰنَ رَبِّهِۦ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصۡرِفَ عَنۡهُ ٱلسُّوٓءَ وَٱلۡفَحۡشَآءَ ۚ إِنَّهُۥ مِنۡ عِبَادِنَا ٱلۡمُخۡلَصِينَ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yūsuf dan Yūsuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhan-nya . Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yūsuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yūsuf : 24)

Pertolongan Allah terhadap Nabi Yusuf itu dengan memalingkannya dan berusaha melarikan diri untuk keluar dari kamar itu. Keteguhan Nabi Yusuf dalam menjalani perintah Allah itulah yang mendatangkan pertolongan-Nya.

Posisi Nabi Yusuf yang demikian lemah, karena sebagai budak, tetapi kokoh dalam memegang teguh keyakinannya. Oleh karenanya, Allah pun menolong dan membebaskan dari perbuatan yang merusak masa depannya.

Keteguhan para pemuda meyakini bahwa Allah sebagai Dzat yang wajib disembah merupakan pertolongan Allah. Demikian pula dengan Nabi Yusuf yang terbebas dari jebakan perbuatan zina.

Dua contoh ini memberi pelajaran penting tentang pentingnya mengokohkan keyakinan yang benar. Pada saat mendapatkan cobaan besar itulah, pertolongan Allah datang mengokohkan dan membebaskan dari musibah itu.

Oleh karena itu, saat ini lebih pantas untuk memperoleh perlindungan dan pertolongan Allah. Karena tantangan dan peluang untuk berbuat menyimpang sangat besar.

Media sosial sangat mudah memfasilitasi untuk berbuat maksiat. Mudah berbuat untuk memaki, membicarakan keburukan orang lain, hingga ada fasilitas untuk berjudi online, berzina dengan Wanita dan sebagainya.

Di sinilah pentingnya mengokohkan keyakinan yang benar, dan disanalah pertolongan Allah sangat dibutuhkan. Pertolongan dan perlindungan Allah akan menyelamatkan diri kita dari berbagai peluang berbuat kejahatan dan maksiat. (*)

Surabaya, 29 April 2025

Tinggalkan Balasan

Search