Salat adalah pokok kedua yang disebutkan Al-Qur’an setelah beriman kepada yang ghaib. Dan di akhirat nanti salat merupakan amal yang pertama kali akan ditanyakan oleh Allah Swt kepada hamba-Nya.
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
“Sesungguhnya amal hamba yang paling pertama sekali diperhitungkan pada hari kiamat adalah salatnya. Jika didapati salatnya sempurna, maka dicatat sebagai salat yang sempurna. Tetapi jika kurang daripadanya sesuatu. (Allah) bertitah, “Lihatlah apakah kalian mendapatkan baginya suatu amalan sunah untuk melengkapi apa-apa yang kurang dari fardhu itu dari amalan sunnahnya itu. Kemudian semua perbuatan diperlakukannya seperti itu.” (HR. Nasa’i dan Ibnu Majah)
Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, “Bagian seseorang di dalam Islam adalah sesuai dengan kadar bagian dari salatnya. Kecintaannya kepada Islam sesuai dengan kadar kecintaanya kepada salat. Oleh sebab itu kenalilah dirimu wahai hamba Allah! Dan takutlah ketika engkau akan menjumpai Allah ternyata kondisimu tidak memiliki kadar Islam. Sebab kadar Islam di dalam hatimu layaknya seoperti kadar salat yang ada di dalam hatimu.” (Thabaqat Al-Hanabilah, 1/354)
Dalam Al-Qur’an kata salat disebutkan tidak kurang dari 90 ayat dengan berbagai maknanya. Ada yang berarti doa sebagaimana difirmankan dalam surat At-Taubah [9] ayat 103,
خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْۗ اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan, dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. “
Salat juga juga berarti memberi berkah, sebagaimana firman Allah,
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (٥٦)
“Sesungguhnya Allah dan para malakikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. (Al-Ahzab [33]: 56)
Di dalam ayat tersebut terdapat kata salawat yang merupakan bentuk jamak dari kata salat yang berarti rahmat, doa, dan berkah. Ayat tersebut menyatakan bahwa Allah memberi rahmat dan berkah kepada Nabi dan juga para Malaikat mendoakan Nabi, serta kepada kaum muslimin diperintahkan untuk memohonkan rahmat bagi Nabi saw.
Secara syar’i salat adalah menghadapkan jiwa kepada Allah Swt, yang bisa melahirkan rasa takut kepada Allah dan bisa membangkitkan kesadaran yang dalam pada setiap jiwa terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. Menurut Prof.Hasby Ash-Siddieqy, salat menggambarkan ruhus salat atau jiwa salat; yakni berharap kepada Allah dengan sepenuh hati dan jiwa raga, dengan segala kekhusyu’an di hadapan Allah dan ikhlas disertai dengan hati yang selalu berdzikir, berdoa, dan memuji-Nya.
Salat adalah salah satu rukun atau pilar Islam yang lima. Ia merupakan bagian dari ibadah khusus dalam rangka menyembah Allah Swt dan mendekatkan diri kepada-Nya. Salat juga merupakan ibadah yang petama kali di wajibkan. Ibadah salat mulai diwajibkan ketika Rasulullah saw masih berada di Makkah, tepatnya satu tahun sebelum beliau dan para sahabatnya hijrah ke Madinah. Rasulullah saw menerima kewajiban salat tersebut melalui peristiwa Isra’ Mi’raj.
قُلْ لِّعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَ يَوْمٌ لَّا بَيْعٌ فِيْهِ وَلَا خِلٰلٌ (٣١)
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: “Hendaklah mereka mendirikan salat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun secara terang-terangan sebelum datang hari kiamat, yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (Ibrahim [14]: 31)
Salat adalah salah satu sendi ajaran Islam yang harus ditegakkan. Ia merupakan ibadahnya para rasul (Al-Anbiya’ [21]: 73).
Pelaksanaan salat yang merupakan ibadah para rasul itu mungkin berbeda-beda sesuai dengan keadaan dan masa umat yang dituju dengan diutusnya para rasul tersebut. Misalnya pada masa Nabi Musa AS, salat diwajibkan sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam, dan untuk umat Nabi Muhammad saw cukup diwajibkan lima kali sehari semalam. Sebagai perintah Allah, salat yang menjadi kewajiban umat Muhammad saw harus dilaksanakan sesuai dengan tuntunan yang telah Nabi ajarakan.
صلو ا كما را يتموني أصلي
“Salatlah kamu sebagaimana kalian melihat aku mengerjakan salat.” (HR. Bukhari) || bersambung
