Seluruh rangkaian ibadah di dalam agama Islam sangatlah ketat. Sehingga ibadah-ibadah dalam bentuk maupun tata caranya tidak akan berubah sejak awal mula ibadah itu diperintahkan sampai selesainya umur dunia. Demikian juga dengan ibadah salat. Ia wajib dilaksanakan menurut contoh dari Nabi Muhammad saw dalam seluruh rangkaiannya.
Rasulullah saw mengajarkan salat adalah tindakan dalam bentuk ibadah yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Permulaan salat, salat didirikan dengan membaca kalimat kebesaran Allah Swt. Allah Maha Besar dengan segala sifat-sifat kemuliaan-Nya.
Pada saat orang salat bertakbir, serempak jiwanya bergerak menghadap kehadirat Allah Swt demi memohon ampun dan pertolongan Allah Swt. Selesai memuji, memohon ampun, dan pertolongan-Nya melalui rakaat dalam salat dengan berdiri, rukuk, dan sujud kemudian mengucapkan salam keselamatan dan kesejahteraan untuk menyelesaikan salat.
Itulah ibadah salat dalam Islam yang dengan ibadah itu setiap muslim diwajibkan untuk melaksanakannya. Mulai dari yang paling awal di waktu pagi buta (Shubuh), lalu manusia terlibat dalam aneka urusan dunia dalam beberapa saat, kemudian kembali menemui Allah Swt di siang hari (Zhuhur), untuk memperkaya diri dengan rahmat-Nya, guna menyegarkan dan menegaskan kembali peran kita dalam kehidupan ini, lalu kembali kepada pekerjaan kita.
Setelah beberapa jam, kembali lagi pada sore hari (Asar) untuk memperbarui kesetiaan kepada Allah Swt. Kemudian pada ujung hari, ketika matahari tenggelam (Maghrib), seorang muslim kembali salat. Salat adalah pengingat tetap bagi orang beriman akan perannya dalam kehidupan. Ketika seluruh aktivitas hari itu usai, seorang muslim kembali salat untuk pertemuan terakhir sebelum beranjak tidur (Isya). Demikianlah seorang muslim melalui hari-harinya dengan menyembah Allah Swt.
Salat adalah tatacara untuk menyembah kepada Allah Swt Tuhan Yang Maha Suci dan disembah dengan kesucian lahir dan batin. Hasil yang diperoleh pun adalah kesucian jiwa, yaitu segala kemungkinan yang baik.
Jadi, salat mengandung hikmah dan falsafah hubungan manusia dengan Allah Swt. Abdul Hadi Hasan Wahbi menyebutkan bahwa salat adalah benang merah dan sarana penghubung antara hamba dan Tuhannya. Benang merah ini dapat mendatangkan kekuatan baru bagi yang melaksanakannya. Dengan salat, jiwa akan merasakan mendapatkan bekal yang sangat bernilai dibandingkan dengan segala kesenangan duniawi.
Salat adalah penolong yang tak pernah mengeluh, bekal yang tidak akan habis, penolong yang selalu memiliki kekuatan baru, bekal bagi hati, dan kunci yang selalu memberi kecukupan dn memenuhi kebutuhan.
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa, “Apabila Rasulullah saw dirundung suatu urusan, maka beliau akan segera bangkit untuk mengerjakan salat.” (HR. Abu Dawud).
Berkaitan dengan hal ini Allah Swt telah menyebutkan di dalam firman-Nya, “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah [2]: 45-46)
Allah Swt memerintahkan setiap muslim untuk mendirikan salat dan mengerjakannya dengan sempurna, baik ketika berdiri, rukuk, maupun sujud, dan menyempurnakan bacaannya. Menegakkan salat berarti meninggalkan semua larangan dan mengerjakan semua perintah yang terkandung di dalamnya.
Di dalam salat terdapat syarat, rukun, sunnah, adab, hal-hal yang makruh dan yang membatalkannya. Jika seseorang memenuhi syarat, rukun, kewajiban, sunnah dan adabnya serta meninggalkan yang membatalkannya, maka ia telah menegakkan salat.
Allah Swt telah menyisipkan janji keberuntungan bagi orang yang khusyu’ di dalam salatnya. Dan orang yang kehilangan kekhusyu’an dalam salatnya, maka ia tidak termasuk dalam golongan orang yang beruntung.
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ (١) الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰو تِهِمْ خَاشِعُوْنَ (٢)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam salatnya” (Al-Mukminun : 1-2)
Khusyu’ dalam salat ibarat ruh dalam jasad. Jasad yang ditinggal oleh ruhnya, maka jasadnya menjadi mati, sehingga tiada berguna lagi. Khusyu berarti memusatkan kosentrasi dalam hati untuk menghayati setiap apa yang digerakkan dan diucapkan dalam salat disertai perendahan diri dan pengagungan kepada Allah Swt.
Khusyu merupakan karakter orang beriman yang mesti dimiliki oleh setiap muslim karena khusyu’ sangat mempengaruhi besar kecilnya balasan bagi orang yang salat. Para ulama salaf berkata:
“Salat itu ibarat engkau menghadiahkan seorang wanita hamba sahaya kepada sang Raja. Bagaimana tanggapan sang Raja, bila yang engkau hadiahkan itu ternyata tangannya lumpuh, atau sebelah matanya buta, atau telinganya tuli, atau tangan dan kakinya buntung, atau (badannya) sakit atau perangainya jelek ataupun (rupanya) jelek, dan bahkan sudah jadi mayat? Maka bagaimana lagi tentang ibadah salat, yang dijadikan hadiah dan taqarrub (mendekatkan diri) dari seorang hamba kepada Rabb-Nya? Padahal Allah itu baik, yang tidak menerima kecuali yang baik. Termasuk dari amalan yang tidak baik adalah salat yang tidak ada ruhnya. Sebagaimana tidak teranggap pembebasan budak yang baik, jika ternyata budak itu sudah tidak ada ruhnya.” (Madarijus Salikin, 1/526)
Motif utama dari khusyu’ dalam salat adalah hadirnya hati orang yang salat di hadapan Allah Swt yang disertai dengan rasa cinta, pengagungan kepada-Nya, takut akan siksa-Nya, hasrat ingin mendapatkan pahala dan untuk merasa dekat dengan-Nya. Sehingga karenanya hati orang yang melaksanakan salat akan merasa damai, jiwanya menjadi tenteram dan gerak geriknya menjadi tenang. Khusyu’ dalam salat juga merupakan aplikasi akan sikap kesopanan di hadapan Allah Swt. (*)
