Penyebutan Lima Nama Manusia Dalam Al-Qur’an Menunjukkan Fungsi Kehidupan

www.majelistabligh.id -

*Oleh: M Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan

Manusia saat diciptakan oleh Allah SWT, penamaannya menunjuk pada fungsi kehidupannya. Dalam Al-Qur’an disebut dengan lima nama. 1. Basyar 2. Ins 3. Insan 4.Bani Adam, dan 5. An-Nas

1. Manusia sebagai Basyar disebutkan 35 kali dalam Al-Qur’an

Kata “basyar” dalam bahasa Arab berarti manusia atau makhluk yang memiliki kulit. Dalam konteks agama Islam, istilah ini sering digunakan untuk menekankan sifat kemanusiaan dari para nabi, bahwa mereka juga manusia seperti kita, dengan kebutuhan dan pengalaman kehidupan yang serupa, meskipun mereka menerima wahyu dari Allah.

Dalam Al-Qur’an, kata “basyar” sering muncul untuk menggambarkan manusia sebagai makhluk yang diberikan akal, tanggung jawab, dan ujian dalam kehidupan. Misalnya, dalam Surah Al-Kahfi ayat 110:
قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya hendaklah melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya.

2. Manusia sebagai Ins disebut 18 kali dalam Al-Qur’an

Kata “ins” dalam bahasa Arab merujuk kepada manusia dalam arti lebih luas, sering kali digunakan dalam konteks keberadaan manusia sebagai makhluk yang memiliki akal, kesadaran, dan interaksi sosial. Ini berbeda dengan “basyar,” yang lebih menekankan aspek fisik manusia.

Dalam Al-Qur’an, istilah “ins” sering muncul bersama dengan “jinn” untuk menunjukkan dua jenis makhluk yang memiliki kebebasan berkehendak. Misalnya, dalam Surah Ar-Rahman ayat 33:

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ
لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ
Artinya: Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).

Penggunaan kata “ins” lebih menekankan sifat manusia sebagai makhluk yang berakal, memiliki hubungan dengan lingkungan, serta memiliki tanggung jawab moral dan spiritual.

3. Manusia sebagai Insan disebutkan 65 kali dalam Al-Qur’an

Kata insan dalam bahasa Arab juga berarti manusia, tetapi memiliki konotasi yang lebih mendalam dibandingkan basyar dan ins. Insan sering digunakan dalam konteks moral dan spiritual, merujuk pada manusia sebagai makhluk yang memiliki kesadaran, akal, perasaan, serta tanggung jawab sosial dan keagamaan.

Dalam Al-Qur’an, istilah insan muncul dalam berbagai ayat yang menyoroti sifat manusia, baik kelemahan maupun potensinya. Misalnya, dalam Surah Al-‘Asr ayat 2:
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
Artinya: “Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian.”

Ayat ini menggambarkan sifat manusia yang sering kali lalai atau rugi dalam kehidupannya jika tidak mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti iman, amal saleh, dan nasihat kepada sesama.

Konsep insan juga sering dikaitkan dengan istilah insaniyyah (kemanusiaan), yang mencerminkan nilai-nilai etika, empati, dan kesadaran sosial.

4. Manusia sebagai Bani Adam 7 kali disebutkan dalam Al-Qur’an

Istilah Bani Adam secara harfiah berarti “anak-anak Adam” dan digunakan dalam Al-Qur’an untuk merujuk kepada seluruh umat manusia sebagai keturunan Nabi Adam AS, manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Konsep Bani Adam tidak hanya menekankan aspek fisik manusia sebagai makhluk hidup, tetapi juga mencerminkan tanggung jawab moral dan spiritual yang dimiliki setiap individu.

Salah satu ayat yang menyebut Bani Adam adalah dalam Surah Al-A’raf ayat 26:

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُّوَارِيْ سَوْءٰتِكُمْ وَرِيْشًاۗ وَلِبَاسُ التَّقْوٰى ذٰلِكَ خَيْرٌۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
Artinya: Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan bulu (sebagai bahan pakaian untuk menghias diri). (Akan tetapi,) pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu merupakan sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Allah agar mereka selalu ingat.

Ayat ini mengajarkan bahwa Allah telah menganugerahkan manusia dengan kehormatan dan akal yang membedakannya dari makhluk lain, serta diberikan petunjuk agar menjalani kehidupan dengan nilai-nilai kemuliaan dan akhlak yang baik.

Istilah Bani Adam juga mengandung makna persaudaraan universal, karena seluruh manusia berasal dari satu nenek moyang yang sama. Perspektif ini bisa menjadi dasar dalam membangun harmoni sosial dan nilai-nilai kemanusiaan.

5. Manusia sebagai An-Nas

“An-Nas” dalam bahasa Arab berarti “manusia” atau “umat manusia secara keseluruhan.” Istilah ini sering digunakan dalam Al-Qur’an untuk merujuk kepada manusia sebagai makhluk sosial yang berinteraksi, memiliki kelemahan, dan membutuhkan perlindungan serta petunjuk dari Allah.

Salah satu surah yang paling terkenal dengan istilah ini adalah Surah An-Nas, yang merupakan surah terakhir dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah doa perlindungan kepada Allah dari berbagai gangguan, termasuk bisikan jahat dalam hati manusia:
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ
1. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia,
مَلِكِ النَّاسِۙ
2. raja manusia,
اِلٰهِ النَّاسِۙ
3. sembahan manusia
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ
4. dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ
5. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ
6. dari (golongan) jin dan manusia.”

Surah ini mengajarkan bahwa manusia rentan terhadap godaan, baik dari sesama manusia maupun dari bisikan yang merusak hati dan pikiran. Oleh karena itu, perlindungan kepada Allah menjadi kunci agar manusia tetap berada dalam jalan yang benar.

Dalam konteks sosial, istilah An-Nas juga menggambarkan sifat manusia sebagai makhluk yang hidup bersama dalam masyarakat, memiliki interaksi, tanggung jawab sosial, serta keterikatan terhadap nilai-nilai kebaikan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search