Penyesalan manusia di akhirat sangat besar, terjadi karena menyia-nyiakan hidup untuk berbuat baik, tidak beriman, atau bermaksiat. Penyesalan orang kafir karena kekafiran dan mukmin karena kurang amal, di mana penyesalan ini tidak lagi berguna karena pintu tobat sudah tertutup, seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai “Yaumul Hasrah” (Hari Penyesalan) saat mereka berharap bisa kembali ke dunia untuk memperbaiki amal, bersedekah, atau beribadah, namun semuanya sia-sia.
Selama masih hidup, ada kesempatan untuk bertaubat dan beramal saleh, karena hidup yang sesungguhnya adalah di akhirat. Amal perbuatan menentukan setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri akan hilang setelah kematian.
Dalam Al-Qur’an, Allah Swt menggambarkan setidaknya lima bentuk penyesalan manusia di akhirat dengan ungkapan penuh luka. Mereka berkata dengan kalimat “layta” yang melambangkan angan-angan tak mungkin tercapai.
Pertama, menyesal karena tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya:
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.'” (QS Al-Ahzab: 66)
Kedua, menyesal karena menerima catatan amal yang buruk:
وَأَمَّا مَنْ أُوتِىَ كِتَٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَيَقُولُ يَٰلَيْتَنِى لَمْ أُوتَ كِتَٰبِيَهْ
“Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, ‘Duhai, alangkah baiknya andaikan tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).” (QS Al-Haqqah: 25)
يَٰلَيْتَهَا كَانَتِ ٱلْقَاضِيَةَ
“Duhai, andaikan kematian itu menyelesaikan segala sesuatu.” (QS Al-Haqqah: 27)
Ketiga, menyesal, berharap menjadi tanah:
إِنَّآ أَنذَرْنَٰكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنظُرُ ٱلْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ ٱلْكَافِرُ يَٰلَيْتَنِى كُنتُ تُرَٰبًۢا
“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (wahai orang kafir) tentang siksa yang dekat, pada hari manusia melihat segala hal yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya andaikan dahulu aku hanyalah tanah.'” (QS An-Naba: 40)
Keempat, menyesal karena salah memilih teman:
يَٰوَيْلَتَىٰ لَيْتَنِى لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
“Kecelakaan besarlah bagiku; andaikan aku (dahulu) tidak menjadikan si dia itu teman akrab-(ku).” (QS Al-Furqan: 28)
Kelima, menyesal karena salah memilih pemimpin:
يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠. وَقَالُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul’. Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).'” (QS Al-Ahzab: 66-67).
