Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI memastikan operasional penerbangan haji dan umrah dari Indonesia tetap berjalan dengan aman. Penyesuaian rute penerbangan dilakukan sebagai langkah mitigasi risiko, terutama untuk menghindari wilayah konflik dan zona larangan terbang (no-fly zone).
Wakil Menteri Perhubungan, Suntana, menyampaikan bahwa evaluasi terhadap jalur penerbangan terus dilakukan secara intensif guna menjamin keselamatan jemaah.
“Memang beberapa penerbangan yang melewati zona larangan terbang akibat perang tentu kita evaluasi, karena memang sangat membahayakannya. Tapi syukur alhamdulillah beberapa kegiatan saudara-saudara kita memberangkatkan ibadah umroh dan haji tetap berjalan,” ujar Suntara di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Menurutnya, sejumlah penerbangan memang terdampak karena harus menghindari wilayah udara berisiko tinggi. Meski demikian, secara umum operasional keberangkatan jemaah haji tetap berlangsung dengan penyesuaian yang diperlukan.
Kemenhub menegaskan, aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan penerbangan, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu. Koordinasi dengan maskapai dan otoritas penerbangan internasional terus diperkuat untuk memastikan jalur yang dilalui tetap aman.
Di sisi lain, dampak konflik Timur Tengah juga merembet ke sektor pariwisata global. Suntana mengungkapkan adanya perubahan tren destinasi wisata, di mana masyarakat mulai mengalihkan tujuan perjalanan dari Eropa ke kawasan Asia.
“Memang kemarin ada perpindahan tujuan itu, teman-teman yang dulu mendaftarnya Eropa untuk liburan, kemarin geser liburannya ke wilayah China, Jepang, dan lain-lain,” kata dia.
Situasi tersebut menunjukkan dinamika geopolitik global tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memengaruhi mobilitas dan preferensi perjalanan masyarakat dunia. Namun, dengan langkah adaptif pemerintah, layanan vital seperti penerbangan haji dan umrah tetap terjaga di tengah ketidakpastian. (*/tim)
